Si Tuli Yang Bisu Dan Buta

on Rabu, 08 Oktober 2014


Bisu
Mulut tertutup
Tak berbicara
Tak mengungkit 
Tak mengapa

Tuli
Telinga tersumpal
Tak mendengar
Tak mau apa-apa
Tak mengapa

Buta
Tak melihat
Tak memandang
Tak mau tau
Tak mengapa

Bisu
Tuli
Buta
Bisu
Buta
Tuli

Semua mengalir menjadi satu
Berjalan mengarah jadi satu
Mengeja dalam beku
Dua, satu, 
Dua lagi
Satu lagi

Menggigil
Aaaarrrggghhh...
Teriak 
Takut

Bisu 
Tuli 
Buta
Perih nan memerih

Dialah si tuli yang bisu dan buta





PENANTIAN


  
Mataku belum beralih dari danau di hadapanku. Suara gemirisik ombak kecil disana membuatku semakin tidak ingin berpaling sedikitpun. Ku lihat beberapa anak kecil memainkan air sambil tertawa riang. Mereka seperti tidak ada beban. Ah, aku ingin sekali merasakan hal yang sama. Membuang semua beban dalam fikiranku yang telah lama ku pendam. Merasakan kebahagian layaknya anak kecil disana. Tapi sepertinya tidak mungkin. Ini sulit terjadi.
            “Aku masih mencintaimu,” ujarku. Aku tidak berani memandang laki-laki disampingku. Aku takut melihatnya bahkan terlalu takut mendengar jawaban darinya.
            Laki-laki disampingku menarik napas. Mungkin dia memikirkan sesuatu.
            “Aku tau apa yang kamu fikirkan tentangku, Sam,” lanjutku. Kali ini ku perhatikan sosok Sam dengan segenap keberanianku. Tiga tahun tidak bertemu dengannya tapi tidak ada sedikitpun yang berubah. Matanya, hidungnya, bibirnya dan senyumnya masih tetap sama. Ah, aku semakin tidak bisa melupakannya.
            “Aku tau apa yang kamu rasakan, Sep,” ujarnya. Ia memandangku kemudian tersenyum. “Tapi aku tidak pantas untukmu.”
            Tidak pantas untukku?
            Kata-kata itu kembali memenuhi otakku. Ucapannya kembali mengorek luka lama. Tidakkah dia tau bagaimana sakitnya hatiku saat dia memutuskanku? Meninggalkanku tanpa alasan pasti.
            “Dulu, kamu juga pernah mengatakan hal yang sama, Sam. Tidakkah kamu tau bagaimana sakitnya hatiku.? Aku sudah memendamnya selama tiga tahun lamanya. Rasanya sakit sekali,” ku jauhkan wajahku darinya. Air mataku mulai jatuh, aku menangis.
              “Aku minta maaf, Sep. Maafkan atas kesalahanku.” Ia mencoba meraih tanganku.
            “Sudahlah, aku tidak akan memaksamu. Jika kau tidak mencintaiku ya harus bagaimana? Aku tidak mungkin memaksamu.” Ku jauhkan tanganku darinya. Aku tidak ingin luka itu semakin dalam.
            “Maafkan aku, Sep,” ia menarik wajahku mendekatinya.
            Awalnya aku menolak tapi lama-lama kelamaan aku membiarkannya.
            “Sebenarnya apa yang membuatmu mencintaiku? Lihatlah, masih banyak laki-laki disana yang mencintaimu melebihi cintamu padaku,” Sam mencari-cari jawaban disela-sela mataku. Tentu, aku juga tau itu.
            “Aku tidak memiliki alasan untuk mencintaimu, Sam. Yang aku tau aku hanya mencintaimu seorang bahkan sampai saat ini,” jawabku. Ku tarik wajahku darinya. Aku tidak ingin semakin tenggelam ke dalam mata itu. Rasanya sakit sekali.
            “Aku... “ Sam mengalihkan pandangannya ke danau di sana. Ia menutup matanya berlahan. Ada yang ingin di ucapkannya.
            “Papa...” ku lihat seorang anak kecil berumur dua tahun berdiri di hadapan kami. “Nana, mau makan pa,” pintanya. Rambutnya yang diikat ekor kuda bergoyang kekanan-kekiri.
            “Tunggu sebentar ya, sayang,” tiba-tiba seorang wanita yang tidak jauh umurnya denganku menarik lengan kecil itu.
            Aku menelan ludah. Rasanya getir sekali. Ku perhatikan mereka satu persatu. Ada apa ini?
            “Kita kapan pulang, mas?” wanita itu menatap kearah kami.
            Mas?  
            Degup jantungku semakin tidak karuan. Mungkinkah?
            “Tunggu sebentar ya,” jawabnya. Sam menatapku lalu tersenyum. “Kenalkan Sep, ini Naila, istri aku. Dan... ini Nana, malaikat kecil kami,” Sam menarik Nana kepelukannya.
            Ku lihat Naila tersenyum. Senyum itu seolah mengejekku. Aku benar-benar tidak tahan. Aku ingin beranjak pergi dari sini secepatnya.
            “Apa maksudmu?” kepalaku tidak bisa di ajak kompromi lagi. Aku benar-benar pusing, ingin muntah.
            “Maaf Sep, tadi aku lupa bilang sama kamu kalau aku sengaja mengajak kamu ke sini sekalian untuk mengenalkan istri dan anakku.” Sam meraih tangan Naila untuk mendekatinya.
            Aku benci senyum itu. Senyum yang menyakitkan. “Oya?” jawabku. Rasanya aku ingin meninju Sam saat ini juga. “Kamu pasti bahagia, Sam,” ku alihkan pandanganku pada Naila.
            Naila tersenyum.
            “Selamat ya, Sam,” mau tak mau aku mengukir senyum palsu. Ku jauhkan pandanganku ke danau disana. Danau itu seakan mengejekku dengan apa yang sedang ku rasakan. Ah, tidak... biarkan saja dia meremehkanku. Toh, dia juga tidak akan bisa mengubah kecewaku saat ini.
            Setega itukah kau padaku, Sam?
            Dadaku sesak.
           
           


            

Maaf

on Senin, 29 September 2014
Sekali lagi kau tanyakan tentang perasaanku. Meminta kebenaran dariku, menjawab dengan jujurku. Namun, akankah kau membenciku dengan apa yang nanti ku berikan padamu? Aku terlalu takut membuatmu rapuh. Terlalu jahat jika ku katakan semuanya padamu. Namun seperti katamu, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Dan, aku merasakan hal yang sama. Aku tidak bisa memaksakan perasaanku padamu.

"Aku ingin mendengar jawabanmu. Sekali lagi aku ingin mendengarnya," ulangmu padaku malam itu.
Aku kembali menarik napas. Mengumpulkan semua kekuatanku. "Aku tidak mencintaimu, maaf." Yah, aku tidak mencintaimu meskipun kau terus memaksaku dengan perasaanmu yang terpendam selama enam tahun dulu.
"Benarkah?" ulangmu, ingin meyakinkan jawabanku.
"Aku mencintai laki-laki lain. Namun aku telah memutuskan untuk tidak menjalin hubungan lebih dekat layaknya pasangan lain. Aku lebih memilih berjalan apa adanya," terangku padanya. Jujur itu lebih baik walaupun menyakitkan.
"Maafkan aku karna telah menggangumu bekalangan ini. Maafkan aku dengan perasaanku yang mengganggumu. Tapi, dengarlah, aku benar-benar tidak bisa melupakanmu." Ia berhenti sejenak. Aku tau seperti apa perasaannya saat ini. "Baiklah, mulai saat ini aku akan mencoba melupakanmu."
Beberapa menit aku diam. Membiarkan fikiranku mencari jawaban yang benar. "Carilah yang lebih baik dibandingku. Yang bisa membahagiakanmu dan kaupun bahagia bersamanya. Dan, maafkan aku telah mengecewakanmu."
"Tidak perlu minta maaf," suara itu makin rendah. "Akulah yang minta maaf. Dan trimakasih atas waktumu."

Aku tau bagaimana rasanya kecewa, tapi setidaknya aku sudah jujur pada diriku sendiri. Bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan.




Selayang Pandang

on Senin, 22 September 2014


Akankah kau hilang dari pandangan?
Selayang pandang yang ingin slalu ku kenang
Akankah kau hilang dari ingatan?
Selayang ingatan yang slalu memenuhi kenangan

Akankah kau hilang bersama purnama yang berwarna kelam?

Jangan hilang
Aku takut kau tak datang
Jangan hilang
Aku takut kau nanti tak datang

Akankah kau hilang bersama senja yang mulai menyinsingkan buram?

Jangan pergi
Aku takut kau tak kembali
Jangan pergi
Aku takut kau nanti berpaling

Akankah kau?
Ah, aku tak ingin  berandai-andai saja saat ini
Jangan hilang
Dan jangan pergi

Merpati Nun Jauh Di Sebrang

on Rabu, 17 September 2014


Laksana merpati tebang nun jauh disana
Mengelilingi setumpuk awan putih lalu menyelinap di dalamnya
Kepakannya meniupkan seribu para penggermar dalam sekali pandang
Telah puas ia kembali hinggap di dahan

Merpati putih nan mempesona
Menyentuhnya kau butuh usaha
Jangan mendekat
Nanti dia akan menghilang sejurus mata memandang

Merpati putih nan memikat
Jangan dekap jika nyali saja kau tak miliki
Nanti ia terbang
Bila sentuhmu menyeka dirinya

Laksana merpati yang jauh di pandang
Ia terbang mengelilingi awan
Memandang dengan tenang
Lalu hinggap di dahan kenangan


Merpati putih yang jauh di seberang
Jangan terbang jauh dari pandangan
Biar tak sulit ku kenang
Agar tenang ku dalam diam

Oh,
Merpati putihku yang jauh dipandang




Ah, aku tidak kuat



Aku kuat?
Tidak
Aku sabar?
Tidak juga

Aku hanya berusaha kuat
Aku juga berusaha sabar
Menyimpan seribu sakit di sela tawaku
Menahan tangis di sela senyumku

Aku tidak kuat
Jua tidak sabar
Aku hanya berusaha
Setidaknya menyimpan sedih di setiap canda

Aku kuat?
Sungguh tidak
Jangan salut padaku
Nanti kau bisa kecewa karna sifatku

Aku kuat?
Tidak pernah merasa kuat
Jangan bangga padaku
Ku takut kelak kau menghindariku

Aku kuat?
Benarkah?
Ah!
Diamkan saja aku
Nanti kau akan tau kelakuan burukku

Aku tidak pernah merasa kuat
Tentu
Aku jua tidak pernah merasa tabah
Tentu

Aku kuat?
Jangan anggap aku kuat jika pada akhirnya aku tidak sekuat nantinya





Dialogku

on Selasa, 09 September 2014
Aku berdialog pada Tuhan malam ini
Menentang serpihan gelap yang tak bersahabat

"Kenapa KAU kirimkan kutukan menakutkan ini padaku Tuhan?"
Aku muak menanggung sakit yang entah kapan bisa pulih kembali

Lalu ku beranikan menantang sepi
Dan ternyata aku baru sadari
Aku tidak sendiri
Ada DIA yang setia menemani
Bersama asap yang mengepul lebat sekali

Dan,
Sebuah bisikan menyapaku
"Kau hanya ku beri cobaan sedikit. Maka bersabarlah. Sebab ada celah matahari untuk bisa kau terobosi."

Maafkan aku Tuhan
Bab kufurku yang kian merasuki hati












Diary defresi. 09 September 2014

Sejatinya Hidup Adalah Proses

Sejatinya hidup itu adalah proses.
Proses menjadi lebih dewasa, lebih tabah, lebih kuat, lebih sabar.

Sejatinya hidup itu adalah proses.
Proses memilah mana yang baik, mana yang buruk, mana yang hak, mana yang sebaliknya.

Sejatinya hidup itu adalah proses.
Proses melalui jalan buntu agar kelak kau temui jalan lurus mendaki tuk temui hamparan sungai dan taman indah tempat kau berteduh.

Sejatinya hidup itu adalah proses.
Dimana kau bisa memperoleh apa yang kau ingini dengan segala kekuatan yang kau miliki.

Sebab hidup itu adalah proses sejati.




Datanglah Rindu

on Jumat, 05 September 2014


Datanglah rindu
Bersama sang fajar yang mulai berlalu
Kita memandang sunset di senja kelabu
Merayu dan saling membisu

Datanglah rindu
Akan ku sambut belain manja yang katamu kau mau
Kita menghabiskan petang dengan melodi yang kau tujukan padaku
Serta sapa dan pandangmu yang tak ingin beralih dariku

Datanglah rindu
Kita bernyanyi berdua
Melalui samudra luas yang tak terbatas
Jua detak jantung yang tak kunjung berhenti

Datanglah rindu
Aku merinduimu seiring waktu yang berhembus syahdu 






Diary Defresi

on Selasa, 26 Agustus 2014


Keluargaku seperti racun saja rasanya. mengeluarkan amarah dan sakit setiap kali singgah dan berlindung. Tidak ada sebuah kenyaman melainkan luapan kebencian setiap kali aku mampir. Tidak ada kehangatan yang menyambutku penuh kebahagiaan. Aku benar-benar benci. Ruang lingkup seperti sebuah bom yang tiba-tiba saja meledak seketika. Kamar yang biasanya di jadikan tempat istirahat sudah seperti sebuah pantai yang menggosongkan kulitku saja. Aku muak.
          “Tahun ini aku gak bakalan pulang,” jawabku setiap kali siapapun yang menanyakan kepulanganku kedaerah.
          “Kau tidak rindu dengan mereka?” berbagai tanya yang keluar.
          Rindu?
          Ah, pantaskah rindu ini bersemayan di ujung kalbu.? Aku benci ketika merebahkan tubuh lemas dan kepala pusingku diatas kasur jika sore juga malamnya yang ku dengar hanya ocehan dan hempasan amarah. Aku benci setiap kali ingin memejamkan mata juga ingin terbangun yang ku dengar hanya ocehan belaka. Kemana sebenarnya kata harmonis keluarga ini?
          Aku benar-benar muak dan bosan. Ingin sekali aku berlari dan tidak akan kembali lagi pada keluarga yang hanya membuatku semakin terpojok dan merasa stres saja. Aku benar-benar marah pada mereka yang membenamkan kata-kata yang membuatku sesak.
          “Pulanglah Lya. Apa kau yakin tidak merindukan keluargamu?”
          Aku menghembuskan napasku pelan. Ajakan itu membuatku sedikit khawatir terhadap diriku sendiri. Aku memang belum melihat wajahnya secara langsung. Tapi kata-katanya seperti magnet yang menarikku untuk mengatakan ya dalam semenit saja. Sosok sahabat maya yang aku kenali beberapa bulan lalu namun aku seperti sudah mengenal karakteristiknya yang unik. Aku berusaha sekuatku untuk tetap pada pendirianku, tidak akan menggoyahkan rasa kepedulianku. Namun aku gagal, naluri keinginanku semenit saja mengatakan ya.
          “Entahlah. Lihat nanti saja. Aku terlalu sibuk. Libur kerja juga hanya sebentar,” jawabku. Berusaha mengalihkan rasa terpukulku. Aku tau, sebenarnya ada sebuah penghayatan dalam di akhir kalimatku. Akankah aku kembali pada sisi yang membuat ku semakin terpuruk dan terpukul saja.
          “Pulanglah. Aku akan menunggumu.”
          Otakku dalam hitungan detik luntur. Kalimat itu membuatku meneguhkan keinginanku.
         
          24 juli 2014
          Aku menghembuskan napas pada tempat ini. Setahun sudah tidak ku injakkan Riau yang kata mereka tempat ruang yang indah dan nyaman. Nyaman? Ah, mungkin kata-kata itu tepat pada mereka yang membenamkan kata betah di tempat ini. Aku menarik napas dalam. Perasaan was-was kembali merongoti separuh jiwaku. Kenapa rasanya sesak sekali?
          Aku ingin pulang kembali ke Jakarta. Tempat acuh dan sombong yang slalu membanggakan dan menghargai keberadaanku. Tempat kerinduan yang bisa melayangkan keadaanku. Tempat yang slalu membuatku nyaris lupa dengan semua masalah yang berada didalam otakku. Tapi tidak, ini sudah pada jalurnya. Lebih baik ku nikmati saja untuk sepekan ini disini.
          Aku melemparkan senyum pada sebuah kamar kecil yang membenturkan isi kepalaku yang runyam saat ini. Aku menghentakkan kalimat perih yang memasung pedalaman benciku. Aku merunduk pada lantai kamarku. Kamar yang hanya beberapa kali ku singgahi setiap tahunnya. Namun sepertinya aku malas saja berada diruang ini.
          Dan akhirnya aku menangis.
          Aku benci sekali menangis disini. Aku benci sekali menangis hanya karna masalah runyam yang membuatku tidak bernapas. Kenapa mereka slalu memojokkanku? Kenapa mereka slalu membuatku tertekan. Aku tidak betah, sungguh ingin sekali rasanya minggat dan tidak akan kembali lagi. Aku bosan disini. Aku muak sekali disini.
          “Aku pusing. Tolong bernyanyilah,” pintaku. Entahlah, aku hanya merasa tidak ada tempat untuk mengeluhkan kisah pahit ini lagi. Yang ku tau aku hanya butuh sedikit hiburan saja. agar kepalaku bisa sedikit tenang dan nyaman. “Tolong, jangan tanyakan mengapa aku menangis,” pintaku untuk kedua kalinya. Aku bingung, kenapa aku menangis pada sosok yang sama sekali belum aku ketahui wajahnya? Aku tidak tau mengapa aku berani menangis pada sosok yang mungkin saja aneh terhadapku. Ah, aku tidak tau. Yang ku butuh sekarang hanya sebuah penghayatan dan luapan rasa pahitku saja.
          Aku merasa marah. Merasa benci jua dongkol.
          Bukan, ini bukan pertama aku memendam perasaan ini semua. Sudah sepuluh tahun lamanya aku memendam perasaan ini. Dan perasaan muak kembali datang ketika mendengar kenapa mereka slalu menyalahkanku dalam segala hal. Tidak pernah memberiku sebuah partisi dalam melakukan apapun.
         
          2 Agustus 2014
          Dan Jakarta aku kembali. Aku bisa bernapas denganmu sekarang. Aku bisa meluapkan amarahku sekarang. Aku juga bisa mempertahankan dinamis kehidupanku sekarang. Lihatlah Jakarta, akan ku rubah bentuk hidupku yang keras ini. Akan ku bentuk perasaanku ini semakin tangguh kembali.
          Mari kita berpaju. Akan ku buktikan pada mereka aku bisa hidup dengan damai disini. Setidaknya begitu. Aku bisa bernapas tanpa memusingkan suara keras juga amarah dari keluargaku yang membuatku mumet dan semakin tertekan. Mari Jakarta. Ajarkan aku menjadi wanita tangguh yang kuat. Bentuk aku menjadi sosok wanita yang luar biasa. Agar aku bebas memilih haluan tanpa terhalang. Memilah cara hidupku dengan sendirinya.
          Pada keluarga besarku yang nyaris aku lupakan keberadaannya. Trimakasih telah menyambutku kembali dengan linangan air mataku yang tak akan habis.

          Aku...
          Aku tak ingin kembali.
          Mungkin!