Senin, 22 Februari 2016

About Life

Maka nikmatilah setiap proses yang ada.





            “Pernah berpikir untuk tidak menikah, Re?” tanyaku pada Rere.

Wanita dengan rambut gelombang itu menatapku aneh. Ia menarik napas pelan.

            “Kau tau, Ly. Aku memang playgirl, punya pacar dimana-dimana tapi untuk urusan menikah tentu saja aku mau menikah. Aku tidak ingin menghabiskan sisa umurku sendiri. Aku butuh sosok pria yang menemaniku sampai mati.”

            Jawaban yang cukup mengangetkan. Aku tau Rere wanita jalang, slalu mempermainkan laki-laki semaunya. Tapi untuk menikah ia memang serius.

            “Kau tau, Ly. Ibu dan ayah slalu saja berdebat hanya masalah sepele. Mereka slalu saja menuruti ego dan kemamuan sendiri tanpa memikirkan aku. Anak satu-satunya yang butuh kasih sayang.”

            Tentu saja aku tau latar belakang Rere. Ia slalu menceritakan bagaimana kisah hidupnya padaku. Bagaimana orangtuanya, kisah cintanya. Meski hidupnya mapan, apapun slalu ada dan berlebih namun untuk kasih sayang orangtua, Rere benar-benar tidak pernah mendapatkan. Itulah salah satu alasan mengapa ia memiliki watak keras kepala. Dan untuk hidupku, aku jauh berbeda dengannya. Hidupku sangat pas-pasan. Untuk kuliah, jauh dari orangtua aku harus bekerja memenuhi kehidupan sehari-hari. Hidup di perantaun memang tidak semudah yang di bayangkan orang. Latar belakang keluarga memaksaku hidup serba cukup dan apa adanya. Terkadang sempat terpikir olehku untuk menyerah saja pada hidup. Namun, Rere slalu saja memiliki cara agar aku tersenyum.

            “Semestinya kau bersyukur Ly, orangtuamu jauh lebih baik dari oangtuaku.”

            Ia tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih. Aku tertawa pelan. Rere tidak tau bagaimana kerasnya hidupku. Bagaimana dengan orangtuaku. Bagaimana dengan keluargaku di kampung. Yang dia tau aku slalu berusaha tertawa saat meledekku.

            “Kita tidak pernah tau bagaimana dengan hidup, Re. Kita hanya berusaha untuk menjalaninya meski sebenarnya itu pahit.”

            Untuk hidupku yang pahit. Aku memang tidak pernah menceritakan pada Rere. Aku lebih ingin memendamnya sendiri. Bukan tidak percaya, hanya saja aku terlalu takut. Aku tak ingin Rere kembali terpuruk dengan kalimat orangtua. Cukup mendengar ceritanya aku sudah tidak sanggup. Apa lagi untuk menjalaninya. Untuk kasih sayang mungkin aku sedikit lebih beruntung di bandingnya, namun untuk pahitnya hidup tentu saja hidupku jauh lebih sulit darinya.

            “Kau tau, Re, hidupmu lebih beruntung di banding aku. Kau bisa lihatkan bagaimana aku. Hidupku seperti terluntang lantung. Aku seperti tidak memiliki tujuan hidup.”

            “Plis, Ly. Jangan pernah bilang kalau kau kurang kasih sayang. Aku benci dengan kata itu.”

            Rere slalu trauma dengan kalimat akhirku. Bukan karna membuatnya semakin sedih, tentu saja karna alasan lain.

            “Kau masih ingin menikah, Re? Menikah dengan salah satu kekasihmu?”

            Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Topikku hanya satu, tentang menikah tentunya.

            “Aih, apa jawabanku kurang, Ly. Tentu saja aku ingin menikah tapi bukan dengan salah satu pacarku. Aku ingin menikah dengan pria yang rajin ibadah, rajin sholat dan mengaji, rajin memberi dan tentu saja rajin mengingatkanku tentang hal-hal yang baik.”

            Rere ... bisakah kita bercermin? Untuk mendapatkan laki-laki sperti itu tentu saja kau harus punya modal yang sama. Kau harus lebih baik dari sekarang.

            “Aku tau apa yang sedang kau pikirkan, Ly. Aku memang tidak baik, lihat saja aku. Pakaianku masih terbuka, sholat saja bisa di hitung, puasa apa lagi. Setiap malam aku menghabiskan waktu dengan para lelaki hidung belang di Diskotik. Tapi, apa aku salah jika suatu hari nanti semua yang buruk hilang? Apa salah jika suatu saat nanti aku berubah menjadi lebih baik?”

            Mataku berkaca-kaca mendengar penuturan Rere. Ia slalu memiliki jawaban tersulit untukku tebak.

            “Kita tidak pernah tau hidup kan, Ly? Untuk itu aku slalu berpikir bagaimana jika suatu hari nanti orang-orang di sekelilingku meninggalkanku saat aku tak lagi memiliki apa-apa. Bagaimana jika suatu saat nanti orangtuaku tak ada dan hidupku masih tak berubah? Aku hanya ingin menjadi lebih baik. Dan itu tidak pernah salah.”

            Kupeluk Rere. Ia menangis dipundakku. Aku tau hidupku memang berat tapi setidaknya aku masih bersyukur jauh lebih baik darinya. Aku masih ingat kewajibanku di sini. Menuntaskan pendidikanku untuk masa depan nanti. Toh, hidup tidak akan seperti ini terus menerus. Hidup akan berubah jauh lebih baik kedepannya.

            “Kau tau kenapa aku bertanya tentang pernikahan, Re?” tanyaku di sela-sela tangisnya.

            Ia menggeleng dengan suara parau.

            “Aku terlalu takut pada hidup. Terlalu takut dengan rumah tangga. Terlalu takut jika hidupku akan sama dengan keadaan orangtuaku, dengan keadaan keluargaku. Tapi kali ini aku yakin, Re. Tidak mungkin Tuhan menyerupai hidupmu dengan sekelilingmu jika kau ingin memperbaiki, jika kau ingin merubahnya menjadi lebih baik. Untuk itu, aku yakin bahwa Tuhan memilik segudang rahasia untuk kita nanti. Percayalah.”

            Rere mengangguk. Sesekali kuhapus airmata yang menetes melewati pipinya. Membayangkan bagaimana pahitnya hidup sama halnya membuka pintu untuk berhenti berjalan meraih apa yang diharapkan. Bukankah berpikir positif akan menghasilkan nilai postif?

            Ponsel ditanganku tiba-tiba berdering. Segera kugeser garis hijau di samping kiri lalu menjawab panggilan.

            “Sholat ya, sayang. Dan makan yang banyak biar sehat.” Suara di ujung telepon mengingatkanku. Seketika itu pikiran cepat menikah terlintas di benakku.

           "Kapan kita nikah, sayang?"


             Jakarta, 21/12/2015 (12:37)


Rabu, 04 November 2015

The Night



Malam kian berpaut dengan cahaya di pinggir jalan. Diiringi pacuan roda-roda yang saling bersahutan. Bersama dingin membahana keseluruh ruang di seluruh tulang rusuk tubuh. Menancap kesetiap syaraf lalu menenggelamkan ke dalam mata. Kali ini lampu jalanan seperti teman yang menegadahkan tangan lalu melambaikan kebahagian. Seperti mengucapkan, "selamat malam, kawan. Selamat datang kembali." Aku tersenyum. Lalu merekatkan pelukan hangat pada sosok di hadapan. Satu tangannya menarik lebih erat.

"Kenapa sayang? Dingin?"

Aku mengangguk di sisinya.

"Tunggu sebentar ya. Kita berhenti dulu." Ia memberhentikan laju motor kemudian turun.

Aku mengikuti langkahnya dari belakang. "Kita mau ngapain?" tanyaku penasaran. Perasaan tak ada yang istimewa di sini. Ini juga bukan taman atau sejenisnya yang bisa di jadikan tempat berkencan.

"Hayu, ikut aku." Ia menarik tanganku.

Sejenak aku diam. Kaget dan benar-benar tidak percaya. Kupandangi wajahnya seserius mungkin. Aku tau dia bukanlah sosok yang romantis seperti yang lain. Bukan juga sosok yang terbilang berbasi-basi. Dia sangat jujur dan blak-blakan. Tapi malam ini satu kejutan yang mengangumkan berhasil dia lakukan.

"Kamu suka warna apa? Kamu bebas milih apa aja."

Semberaut matanya menyiratkan ketulusan yang dalam. Aku tak tau harus berkata apa. Barangkali aku bingung memilih yang mana.

"Aku mau yang warna merah sama pink," jawabku terkesan takjub. Aku masih belum sadar sepenuhnya.

"Merah sama pink doang. Kalau yang lain juga boleh."

"Gak, aku mau yang itu doang." Secepat mungkin aku menggeleng.

"Ya udah, kalau gitu. Tolong yang merah sama pink ya,  pak, jadi satu aja," pintanya pada pemilik toko. Pemilik toko langsung mengiyakan.

Sambil menunggu kuperhatikan lagi wajahnya. Benar-benar mengesankan. Dia ... meski tak romantis tapi tau kapan waktunya bersikap romantis. Trimakasih sayang untuk  malam yang menakjubkan ini. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.







Ciputat, 05/11/2015 (12:36)

Rabu, 28 Oktober 2015

فى حاجات




فى حاجات تتحس ومتتقلش وان جيت اطلبها انا مقدرش

ولو انت عملتها بعد ما انا اطلبها يبقى مينفعش

فى حاجات تتحس ومتتقالش توجع فى القلب ومبتبانش

وافضل علطول تعبانه مابين طب اقولك ولا مقولكش

مقدرش اقولك غير كل طريقة حبك ليا

او غير عليا ولا فجأنى فى مرة وهاتلى هديه

الا عنيا بعمل حاجه انا مش عارفاها

مقدرش اقولك حلى الدنيا فى عينى وغير فيا

لو مهما كنت قريب منى وكنت قريب لياe

مقدرش اقولك شكل حياتنا اللى اانا عيزاها

اعرف لوحدك شكل حياتنا اللى انا عيزاها

اوقات بيبان انى سكت وهديت ورضيت واتعودت

مش معنى كده انك علطول تحسبنى انى استسلمت

وساعات بتحس انى زهقت مع انى بخبى انى تعبت

متوصلنيش ياحبيبى اقول ده ياريتنى اتكلمت



Rabu, 07 Oktober 2015

Semenit yang lalu ...




"A ... aku hamil, Mas," ujarku pelan pada sosok di hadapanku. "Aku hamil," ulangku lagi. Berharap sosok itu mengubris.

Tak ada jawaban bahkan ekspresinya biasa saja. Apa mungkin telinganya tuli? Pura-pura tidak mendengar.

"Mas, aku hamil. Haaaamil, Mas." Kutarik tangannya menghadapku. "Mas kenapa diam? Kenapa?"

Lagi-lagi hanya bisu yang kudapat. Dia tak bergeming sedikitpun. Kenapa? Apa yang salah? Bukankah kemaren dia akan berjanji untuk bertanggung jawab. Menikah denganku.

"Mas, bicaralah. Aku butuh kepastian." Kugoncang tubuhnya berkali-kali. Masih diam.

Kali ini airmata tumpah membasahi wajahku. Aku tak bisa menahan sakit yang menyelimuti rongga dada. Aku tak bisa menahan perih di dada. Aku tidak pernah berpikir akan mendapat jawaban yang nihil. Aku kalang kabut. Otakku terasa melepuh.

"Jawab aku, Mas. Jawab aku." Kugoncang tubuhnya kuat.

"Sadar, Nit. Istigfar.  Mas Yuda  udah gak ada . Mas Yuda udah meninggal."

Seseorang meraih pundakku untuk menjauh. Kupandangi siapa yang telah berani menarikku. Ternyata Ria, sahabat akrabku. Tanpa pikir panjang aku memeluk tubuhnya. Lalu menangisi apa yang telah terjadi.

"Aku hamil, Ria. Aku hamiiiil... "aku menangis sejadi-jadinya. "Aku cuman mau jelasin ke Yuda kalau aku hamil. Tapi dia sama sekali gak mau jawab."

"Sabar Nit, sabar. Kamu istigfar. Yuda sudah gak ada. Yuda udah meninggal seminggu yang lalu. Dia kecelakaan, Nita. Kamu harus terima kenyataan." Ria menyadarkanku dengan apa yang telah terjadi.

"Meninggal?"

Ria mengangguk.

Jadi, tadi siapa?

"Kamu terlalu banyak berimajinasi, Nit. Bagaimanapun kamu butuh hidup yang baru. Dan jabang bayi kamu harus kamu jaga sepenuhnya."

Aku tak tau apa yang harus kulakukan. Kepalaku berdenyut hebat. Isi perutku meledak.

"Hueeekkk..." Aku muntah.




Ciputat, 08/10/2015 (12:36)

Sebulan lalu




Tepat sebulan yang lalu. Di sini, di tempat kita melabuhkan rindu bersama senja kelabu juga sorot lampu rumahan. Kau mengajariku apa itu rindu yang membisu. Bersama dingin serta gelapnya malam kau tunjukkan padaku wibawamu. Aku mengaung laksana singa kelaparan. Menerkam, memangsa, menggigit apa saja. Lalu selang beberapa detik kemudian berubah menjadi lembut bak miau yang di elus sang empu. Aku menggeliat manja di rebahmu.

Taukah kau apa yang berkecambuk di dadaku kala itu? Bagaimana mungkin kau berani merenggut milikku? Katamu, kau akan menjaga seutuh cintamu padaku. Sekarang, semuanya hilang. Tak ada yang bisa kusesalkan. Terkecuali sisa airmata yang tak bisa kembali.

Aku mencintaimu...
Bisakah kau lihat dari mata coklatku? Ketika kau redupkan pandangmu padaku. Ketika kau tuntun tanganku kepangkuanmu. Ketika kau rangkul aku kepelukanmu. Ketika apa yang kau pinta aku mau. Aku tak menyesal dengan yang berlalu. Ya, tak pernah. Hanya saja terkadang imajinasi itu merengkuh sebagian dari memoriku. Aku takut dan terlalu takut.

Kasih...
Bisakah kau datang padaku. Menggengam jemariku, memelukku hangat dalam pelukanmu. Lalu berbisik sendu.

"Percayalah, dua tahun bukanlah waktu yang lama untuk menunggu. Setelah itu, aku akan datangi dua orangtuamu untuk mengikrarkan sumpah setiaku. Berjanji menjadi suami serta sosok ayah yang setia untuk anak-anak kita nanti."

Kepadamu, aku rindu.




Ciputat, 08/10/2015 (12:27)

Minggu, 04 Oktober 2015

Selamat pagi, sayang.




"Selamat pagi, sayang."

Kukecup kening laki-laki yang sedang berbaring di sampingku. Ia menggerang, masih memejamkan mata. Kuelus rambutnya yang ikal. Lagi-lagi hanya gerakan dari tubuhnya yang manja. Aku tersenyum menatapnya. Sedikit kugeser tubuhku mendekatinya kemudian kudekap tubuhnya erat. Kali ini ia membuka mata menatapku lalu membalas pelukanku.

"Pagi juga, sayang," jawabnya tersenyum.

Aku sedikit tertawa. "Tidurmu nyenyak yah? Bangunnya ajah kesiangan."

"Oh yah? Emang udah jam berapa?"

"Sepuluh, sayang," bisikku nakal di telinganya.

"Masih pagi dan aku masih ingin menghabiskan waktu bersamamu." Ia menarik tubuhku kepelukannya.

"Kamu masih ngantuk? Gak lapar?" tanyaku berpura-pura.

Ia menggeleng. "Aku gak lapar. Aku maunya kamu." Matanya mengernyit manja.

"Serius?"

Tak ada jawaban. Sosoknya sudah melabuhkanku kedalam kehangatannya yang bisu. Aku tak bergerak. Rasanya urat syarafku berjalan tak sesuai aturan. Saling berbentur bersama magnet elastis. Membuat tubuhku terbujur lemas dan tak berdaya. Rasanya nikmat sekali bahkan untuk seumur hidupku ini pertama kalinya aku merasakan apa yang disebut relaksasi keindahan tanpa ada jeda-jeda yang bergantungan. Yang ada hanya sindrom kenikmatan tanpa satupun yang bisa kuucapkan. Tubuh seperti terhempas kedalam aliran sungai yang tak berpenghujung. Lalu berhenti di muara yang tak berpenghuni. Hanya berdua dan tetap selamanya.

"I love you," bisiknya lembut di telingaku.

Aku menggeliat manja.




Ciputat, 06 Okt'15 (11:45)

Kamis, 01 Oktober 2015

Kekasih



Kekasih
Jangan meminta lagi pada Tuhan tentang apa yang kau harap
Kau tau karna apa?
Karna aku sngat takut dengan segala yang ada

Kekasih
Jangan lagi meminta hal yang serupa
Kau tau karna apa?
Karna aku sangat takut untuk berkata apa

Cukup percaya sajalah kasih
Yakinkan cintamu untukku
Yakin hatimu sepenuhnya milikku
Semuanya akan menjadi lebih baik dari apa yang kau harap

Kekasih
Jangan meminta lagi
Aku terlalu takut dengan janji
Trauma kelak akan bikin sakit hati

Aku mencintaimu dan ini tulus
Aku menyayangimu dan aku tulus
Tak sedikitpun berpikir aneh tentangmu
Tak sedikitpun ingin berpaling darimu

karna aku yakin, kau tak akan lagi seperti dulu


Ciputat, 2 Okt'15 12:57

Setelah itu ...



Setelah itu
Aku ingin sekali merenggutmu
Mendekapmu lalu berbisik,
"Aku ingin membunuhmu."

Setelah itu
Aku ingin sekali merangkulmu
Memelukmu dalam hangat tubuhku lalu berbisik,
"Aku ingin mematikanmu."

Setelah itu ...

Banyak sekali yang kuingin lakukan padamu
Seumpama membakarmu
Menyiramnya dengan gas kemudian terkapar di hadapanku
Dan aku tertawa, lepas

Setelah itu
Aku ingin mematahkan urat dan syarafmu
Agar puas kurasakan
Dendamku berkurang dari ingatan

Setelah itu
Aku benar-benar ingin melakukan kekerasan terhadapmu
Biar kau tau betapa mirisnya hidupku
Betapa kasihannya jadi aku

Tapi setelah itu
Apa kau tau apa yang kurasakan?
Aku hanya takut
Tingkat depresiku semakin meninggi

Aku kalang kabut
Seperti tak ada yang bisa kulakukan
Jiwaku hilang
Tubuhku melayang

Bagaimana ini?
Apa yang semestinya setelah ini?
Aku tak tau, sungguh
Aku benar-benar bingung

Anggap normal saja setelah itu
Anggap baik saja setelah itu
Buang pikiran yang menyekat
Bakar semua yang meresah

Meski sulit
Meski pahit
Tapi semuanya akan kembali membaik
Percayalah! karna cinta dia tau tujuan utamanya


Ciputat, 2 Okt'15 12:48








AKU




"Bagaimana kalau kita lupakan saja. Percayalah, semua akan baik-baik saja."

Mataku hampir bernanah mendengar kalimat singkat namun menyanyat itu. Bagaimana mungkin bisa mengucapakan kalimat searogan itu? Aku ini punya hati, dan hati adalah perasaanku. Jadi, jangan salahkan jika aku sering mengeluh dan menangis.

"Kenapa? Ada yang salah?"

Gila. Ini benar-benar gila. Masih saja angkuh.

"Kau tidak akan pernah tau bagaimana AKU. Karna kamu bukan AKU." Sengaja kutekan kalimat AKU. Agar dia tau betapa sakitnya menjadi AKU.



"Aku tau apa yang kau fikirkan. Aku tau apa yang kau rasakan. Tapi, cobalah jalanin semuanya dengan normal. Jangan terlalu kau fikirkan. Aku takut kau malah stress."

Persetan! Aku hanya butuh obat depseri sekarang.

"Kau terlalu kekanak-kanakan," tambahnya seakan membaca fikiranku barusan. "Percuma kau berkata jorok. Toh, semuanya sudah terjadi. Dan tak ada satupun yang akan mengerti kecuali hanya aku. AKU. Kau paham'kan?"

Aku bungkam. Kali ini mulutku terkunci. Ya, benar saja. Tak ada yang mengerti. Tak akan ada yang bisa membangkitkan semuanya. Yang berlalu hanya tinggal bongkahan rasa cemas dan takut. Khawatir yang berlebihan.

"Berdirilah. Lihat aku, tatap aku," pintanya. Kali ini suara itu terdengar sangat lembut.

Aku berdiri. Kuperhatikan sekilas pantulan di cermin. Hanya banyangan wajahku di sana. Menatap kearahku dengan seksama. Jadi? Sejak tadi aku bicara dengan siapa? Kuperhatikan sekelilingku. Tak ada orang hanya aku sendiri.

"Kau bicara denganku."

Cermin di hadapanku berbicara, seakan menjawab rasa penasaranku.

Astagaaaa ... aku hampir pinsan.



Ciputat, 02 Okt'15 12:22

Selasa, 29 September 2015

Kau...!



Kau mengadu pada Tuhan tentang perasaanmu?
Agar kau tetap cinta padaku
Agar tetap berada di dekatku
Tetap bersamaku

Aku merasa terharu

Kau mengadu pada Tuhan tentang hatimu?
Agar tetap utuh buatku
Agar slalu bersamaku
Agar selalu berada untukku

Aku semakin terharu

Tapi kenapa kau mengadu hanya karna rasa kasihan padaku?
Apa kau pikir aku ini wanita lemah tanpamu?
Oh, itu membuatku merasa terkutuk
Seakan aku tak bisa hidup tanpamu

Aku sedih, sumpah!
Rasanya isi kepalaku membuncah
Kau seperti mempermainkanku selama ini
;lagi

Kenapa kau bilang aku mencintaimu
Kenapa kau bilang aku menyayangimu
Seolah dalam ucapanmu kau berikrar tak akan mengecewakanku
Seolah dalam ucapanmu kau berjanji tak ingin meninggalkanku

Kau tau?
Sesak sekali rasanya
Dadaku sakit
Hatiku kian rapuh

Apa yang kau mau?
Semuanya telah kau renggut dariku
Apa yang kau mau?
Semuanya telah kau ambil dariku

Apa kau akan meninggalkanku lagi?
Oh, jangan
Aku takut sekali, sungguh
Membayangkan saja aku tak mampu

Kalau begitu biarkan aku memohon padamu
Jangan pergi, tetaplah di sini
Bersamaku jalani sepinya aku
Aku hanya butuh kamu sampai batas akhirku



Ciputat, 29 Sept'15







Ah!



Ah!
Namanya juga cinta
Ini mau
Itu juga mau

Ah!
Namanya juga cinta
Kesana mau
Kesini juga mau

Ah!
Namanya juga cinta
Awalnya tak mau
Lama-lama bikin malu

Ah!
Aku tak tau
Setelah begini begitu
Menangis tersedu tak akan ada yang membantu

Ah!
Aku tak tau
Rasanya kepala waktu itu seperti batu
Makanya mau apa yang seharusnya bikin malu

Kali ini aku bingung
Ini itu sekarang rasanya bikin ambigu
Aku linglung seperti orang bingung
Otak kepalaku seakan bikin sinting

Ah!
Bodoh pun tak ada guna


Ciputat, 29 Sept'15

Kemari, sayang




Malam semakin larut sayang
Dengan denting jarum jam di dinding
Serta suara kala jengking di samping
Menjadikan malam kian merinding

Malam semakin larut sayang
Dengan rintik-rintik hujan merayap di cermin
Bersama kerlipan lampu yang saling menyapa di jalanan
Ada satu pesan yang ingin di sampaikan

Malam semakin larut sayang
Deru jantung kian melaju
Napas pun kian berpaju
Seakan ingin menikmati waktu

Kemari, sayang
Kita nikmati malam di atas awan
Berpaju bersama deru-deru roda di atas kepala
Nikmati hingga pagi menjelang kembali

Kemari, sayang
Kita paju malam dengan napas yang membara
Buang semua yang ada di dada
Nikmati setiap desahan yang ada

Tak usah hiraukan besok ataupun lusa
Yang ada teruslah kau buatku memimpikan malam yang tak berkekang
Mengecup setiap kejadian yang ada di benak
Ptar balikkan semua yang membuatmu limbuh di sana

Nanti, setelah kau puas
Mendengkurlah di sisi ranjang
Agar kubisa nikmati setiap helai napasmu
Serta aroma tubuhmu yang tak mau hilang dari ingatan



Ciputat, 29 Sep'15













Rapuh




Apa yang kau inginkan dari tubuh rapuh ini?
Hah!
Kau ingin mengecupnya?
Membelainya hingga puas

Apa yang kau mau dari tubuh yang rapuh ini?
Hah!
Kau ingin menyentuhnya?
Membawanya ke alam nikmat hingga puas

Tak ada yang istimewa dari tubuh ini
Yang ada hanya seonggok tulang berbalutkan danging
Nikmatnya hanya sesaat
Pahitnya sampai kiamat

Tak ada yang dapat di banggakan
Setelah puas toh hanya napas yang bergelak


Ciputat, 29 Sept'15

Semakin Sinting



Aku lupa bagaimana caranya berpuisi
Apa lagi saat seperti ini
Agar semuanya tak seperti misteri
Mengaung di benak sendiri

Aku lupa caranya bernyanyi
Setidaknya menghibur hati
Bagaimana memanjakan jiwa yang ingin lari
Agar tetap kuat dengan segala yang terjadi

Katanya, semua menjadi lebih baik
Tenang, atur napas, buang semua yang mengekang
Tapi semakin kunikmati otakku semakin sinting
Mengingatnya membuatku pontang panting

Kemana aku yang cupu dan tak kenal diri?
Kini harga diri hanya menjadi ilusi
Bodoh, begitu katanya
Jika sudah cinta taik kucing saja rasa coklat padahal bikin sengsara

Baiklah!
Mari kita nikmati musik alunan kota tua
Tepat bermainkan di tengah-tengah Jakarta
Menari, bernyanyi sambil baca puisi curahan sanubari

"Pecahkan saja gelasnya biar ramai."

Ciputat, 29 Sep'15 (21:22)
Created : Lya Herlya