PARIS

on Senin, 18 Agustus 2014


Aku tidak mengerti mengapa kau menyukai Paris. Aku juga tidak mengerti mengapa kau slalu menyelipkan kata Paris di sela-sela pembicaraan kita. Aku tidak tau mengapa Paris itu menakjubkan bagimu. Paris seperti sihir yang memberi sebuah celah untukmu berjalan menghampirinya. Paris melebihi keindahan alam dimanapun, katamu.
          Bukan. Bukan aku tidak menyukai Parismu yang indah. Bukan jua aku cemburu jua marah. Bukan pula aku merasa tersaingi. Aku hanya ingin tau seberapa besar rasa takjubmu pada Parismu. Seberapa rasa inginmu untuk menginjakkan angan besarmu padanya. Seberapa kuat keinginanmu untuk meraihnya serta bisa menyentuhnya tanpa sebatas angan saja. Aku hanya ingin tau. Itu saja.
          “Karna kau belum bisa merasakannya,” ujarmu di sela-sela perbincangan kita.
          Aku menatapmu. Ice cream yang tadinya ingin ku lahap berhenti seketika. Moodku sedikit berkurang.
          “Ah, tak perlu kau tau. Nanti saja, kalau kau sudah siap akan ku katakan alasan yang sebenarnya.”
          Keningku berkerut. “Alasan?” tanyaku tidak mengerti.
          “Iya,” jawabmu sembari menatapku.
          “Begitu rahasianya sampai kau tidak ingin mengatakan padaku apa yang sebenarnya.” Aku berusaha tersenyum. Menutupi rasa penasaranku. “Kau tau, aku memang sosok wanita yang penasaran tapi aku bukan pemaksa. Kalau kau tidak bersedia yah tidak apa-apa,” jawabku. Aku menelan ludah, getir.
          “Kau tau, itulah yang membuatku kagum padamu,” sorot mata itu menatapku dalam.
          “Kagum?” tanyaku menghidari tatapannya.
          “Kau sosok wanita yang apa adanya, tidak pernah berubah menjadi yang lainnya.”
          Aku tertawa. “Sudahlah, kau jangan memujiku. Aku tidak suka dengan pujian yang sebenarnya bisa membuatku mati rasa dalam sedetik saja.” Aku berdiri lalu meraih tas yang disampingku.
          “Kau mau kemana?” sosok itu ikut berdiri.
          “Aku ingin mencari Parismu,” jawabku kemudian meninggalkannya sendiri.
          “Tapi Paris itu jauh,” ujarmu pelan.



           



Tidak Seharusnya

on Jumat, 15 Agustus 2014


Aku menarik napas dalam. Pandanganku nanar menatap kedepan. Ini bukan sebuah pemandangan yang aneh yang pertama ku lihat sendiri. Ini untuk kesekian kalinya. Aku mencoba untuk menyadarkan diriku sendiri. Siapa aku Yang berhak untuk memfonis dua insan yang sedang berduaan di sana sekarang? Apa aku harus mendatangi mereka dengan mengatakan sesuatu yang jika kata-kata ku nanti malah membuatku aneh di depan meareka.
            Aku menarik langkah kaki menjauh dari sana. Tapi tidak bisa, rasanya aku semakin tersiksa saja dengan keadaan mereka disana. Menyebalkan. Mengapa harus aku yang seperti ini? Toh, orang-orang disekitar mereka hanya acuh tak acuh. Ku beranikan diri mendekati pasangan itu. Aku berhenti sejenak lalu mendengus.
            “Tidak seharusnya kalian berduaan disini,” spontan saja aku berkomentar.
            Sepasang dihadapanku memandangiku.
            “Kalian tau, apa yang kalian lakukan itu tidak baik di lihat orang lain,” lanjutku. Lebih tepatnya membuatku risih.
            “Apa maksudmu?” wanita itu bertanya. Ia memperhatikanku aneh. Laki-laki disampingnya diam.
            “Aku tidak suka melihatnya, lebih tepatnya begitu,” jawabku.
            “Lah, masalah kami apa? Toh banyak juga yang lain disini?” wanita itu tidak terima.
            Aku tau itu. Memang banyak pasangan yang lain disana namun aku lebih tertarik untuk mendekati mereka.
            “Kalian tau, disini tempat umum. Lebih baik kalian bubaran saja, sikap kalian berduaan itu tidak pantas untuk dilihat yang lain. Terlebih lagi kamu, lihatlah dirimu.” Ku pandangi wanita itu lekat.
            Wanita itu juga melakukan hal yang sama. Ia menatap dirinya. Mungkin dia tau apa yang ku maksud.
            “Sudahlah. Kalau kamu masih tetap dengan pendirianmu aku tidak segan-segan menarikmu untuk keluar dari sini,” kali ini aku tegas. Aku semakin tidak enak hati dibuatnya.
            “Apa?” wanita itu tidak terima. “Kamu siapa? Kok seenaknya aja ngomong gitu?” wanita itu berdiri. “Mas, kamu kenapa diam aja?” wanita itu menatap laki-laki disisinya tadi.
            Ku lihat laki-laki itu tidak bergeming.
            “Mas, kamu kenapa diam aja?” wanita itu menarik lengan laki-laki tersebut. Ia memukul pundak laki-laki disampingnya dengan kesal. Tidak terima mengapa dia diam saja.
            “Maaf Nai, dia kakakku. Jadi aku gak bisa membela kamu karna apa yang dikatakan kakak aku tadi benar. Kita tidak seharusnya berduaan di tempat umum seperti ini. Apa lagi dengan pakaianmu yang terbuka begitu. Kakakku pasti lebih tidak terima.” Laki-laki itu berkomentar.
Wanita yang namanya Nai itu melotot tidak percaya. “A... a... apa?” Nai tercekat. Ia tidak tau harus berkomentar apa lagi.
Plaakkk!
Tamparan kecil mendarat di pipi kiri Rei. Adek bungsuku yang baru ku dapati sedang berduaan dengan wanita yang namanya Nai. Nai beranjak meninggalkanku dan Rei tanpa sepatah katapun. Aku medekati Rei memperhatikan pipinya yang agak memerah. Aku tau dia merasa sakit.
“Gimana? Enakkan?” tanyaku. Aku memperhatikan Rei seksama. Ia mengelus-ngelus pipinya yang sakit.
“Lumayan,” jawabnya pelan.
“Enakan di tampar apa di jeburin ke kobaran api?” tanyaku hati-hati. Aku tidak ingin Rei, adek bungsuku itu tersindir dengan kata-kataku.
“Mungkin dua-duanya kak,” ia menatapku. “Tapi dijeburin kedalam api itu lebih menyakitkan dan menyiksa.” Ia memperhatikanku.
“Kakak sudah sering menasehatimu Rei, kalau kamu mau kenalan dengan wanita bukan begini caranya. Nanti, kakak bakal kasih tau kamu cara yang tepat,” ujarku.
“Tapi...” ia masih bisa mengelak.
“Kenapa?”
“Sudahlah kak, gak ada manfaatnya kalau berdebat dengan kakak sekarang.” Rei pasti sudah tau apa kata-kata terakhir yang akan aku ucapkan padanya.
Kuliah yang baik dulu, sholatnya diperbaiki dan banyak baca buku yang bermanfaat. Toh, kalau mau kenal sama wanita jangan sekarang. Nanti akan ada saat yang tepat. Ingat, wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Jadi berusahalah untuk menjadi yang baik agar dapat yang baik.
Aku memperhatikan Rei seksama. Adek bungsuku yang menjadi harapan besar dalam keluargaku tadi tidak sengaja ku temui di pusat perbelanjaan di kota besar ini. Aku yang sendiri ingin membeli buku persiapan skripsi mendapatinya sedang berduaan duduk berhadap dengan seorang wanita disebuah cafe tepat dihadapanku. Dengan perasaan berkecambuk aku akhirnya mendekatinya dengan pandangan tidak suka. Aku tau Rei tadi ketakutan sehingga dia lebih banyak diam. Sedangkan wanita yang namanya Nai itu mungkin tidak tau kalau aku adalah kakak Rei.
“Kamu pasti laper, kak pesanin makanan yah?” tawarku.
Rei menggeleng. “Maaf yah kak, aku udah bikin kakak marah,” Rei menatapku.
Aku tersenyum.

  


Kembalilah



Aku sudah merapikan tepi pantai yang katamu kau sukai setiap sorenya
Aku juga sudah menyelesaikan rumah dari pasir yang katamu unik
Jua sudah ku selesaikan semua apa yang katamu menarik
Sebab aku tidak ingin nanti kau berlabuh dengan kecewa

Aku sudah usai dalam petaka senja
Sore hari yang katamu enggan kau tinggali
Lalu aku slalu berusaha untuk tetap terjaga
Di sini, pantai losari yang tak pernah ku ketahui sisi tempatnya

Dan kau akhirnya kembali
Senyum sumringah yang biasanya kau santuni
Sapaan mesra yang biasa kau beri
Tak lagi seperti biasanya

Kini semua sepi
Kini semua tak bertepi
Mengapa?
Apa karna di labuhan sana kau sudah ada yang menanti?

Oh, tolong jangan katakan ya
Aku tak sanggup mendengar ucapan kecewa nantinya
Aku jua tak bisa memahat goresan lainnya di tepi hatimu
Sungguh, aku tak mampu

Kembalilah pada senjaku
Senja yang katamu unik
Senja yang katamu manis
Seperti matamu yang slalu membius naluri rindu dalam glora jiwaku

Maka kembalilah
Jangan singgah pada pemilik sepi yang lain
Kembalilah
Aku takkan pernah membiarkan pantai ini sunyi kembali



JAKARTA

on Selasa, 12 Agustus 2014


Kau tentu tidak tau mengapa aku menyukai Jakarta bukan?
Jakarta yang macet
Jakarta yang sumpek
Jakarta yang penuh keegoisan
Jakarta yang penuh pecundang

Kau tentu tidak tau mengapa aku mencintai Jakarta
Jakarta yang katamu panas
Jakarta yang katamu penuh asap
Jakarta yang katamu seperti sebatang kara
Jakarta yang katamu bukan dirimu

Tapi inilah aku
Aku suka Jakarta
Aku rindu Jakarta bila sehari saja tak jumpa
Aku cinta Jakarta yang apa adanya

Kau tau kenapa?
Karna Jakarta banyak rahasia
Karna Jakarta ku temukan kewibawaan
Karna Jakarta ku temukan siapa diriku
Sebab Jakarta aku bisa mensyukuri lebih dan kurangku

Jakarta yang mengajarkanku arti syukur
Jakarta yang mengajarkanku kerja keras dan penuh rintangan
Jakarta yang mengajarkanku untuk tetap membantu
Jakarta yang mengajarkanku untuk tetap tau siapa aku

Inilah Jakarta
Jakarta yang menjadi apa adanya
Jakarta yang tetap dengan kerasnya
Hingga lewat Jakarta aku harus tetap menjadi diriku


Jakarta adalah separuh aku



Tuhan

Tuhan
Aku tidak mengeluh
Sungguh tidak
Aku tidak ingin
Benar saja tidak

Tuhan
Aku tidak menangis
Sungguh tidak
Aku tidak ingin
Yah, tentu saja tidak

Tapi Tuhan
Aku hanya lelah
Aku sungguh merasa lelah

Dekap aku Tuhan
Aku ingin merasakan dunia ini milikku sendiri untuk saat ini
Sebentar saja
Tidak perlu lama
Agar aku tau aku tidak pernah sendiri
Bahwa kekuatan itu ada disini, di hati

Tuhan
Aku tidak mengeluh





Harus Tau

on Senin, 14 Juli 2014

Aku pernah sakit, kau harus tau itu
Aku jua pernah terluka, dan kau harus tau itu
Aku pernah patah hati, kau harus tau itu
Aku juga pernah kecewa, dan kau harus tau itu



Aku tak pernah memintamu tentang apapun
Aku jua tidak pernah memintamu tentang bagaimanapun
Aku hanya memintamu tau tentang sesuatu yang harus yang kau tau
Tentang aku yang tak perlu kau tau

Dan yang aku tau,

Aku sudah pernah patah hati


Dan Lagi



Aku mendengus pelan. Ini kali kedua aku melihat sosok itu berdiri disana. Memang dia tidak memandang ke arahku namun aku tau sebenarnya dia sudah lama menunggu disana. Aku melangkah lunglai, meninggalkan sosok itu sendiri disana. Tidak, ini bukanlah saat yang tepat untuk menemuinya. Biarlah, toh nanti akan ada saat yang tepat aku memperlihatkan diriku padanya.

***
“Nadia, aku ingin menemuimu di tempat biasa. Aku harap kau bisa memenuhi panggilanku, kali ini aja.”

Dengan sepenuh tenanga aku berusaha untuk meyakinkan diriku bahwa pesan itu bukanlah dari Tio, mantan pacarku yang meninggalkanku demi wanita lain. Tapi tidak, aku tau persis setiap detail kalimat yang slalu Tio ajukan padaku hingga aku hapal bagaimana setiap alurnya.

Ku eratkan jaket beludru yang mulai kusam ketubuhku. Setidaknya jaket ini bisa melindungi tubuhku yang mulai kedinginan. Ku pandangi langit yang mulai menghitam disana, suara gemuruh mulai bersahutan dimana-mana. Aku tidak peduli, rasanya pesan singkat Tio tadi pagi seolah menjadi kekuatanku untuk menemuinya. Ku telusuri sepanjang jalan dengan hati tak menentu. Fikiranku jauh melayang memikirkan bagaimana sosok Tio sekarang. Tiga tahun aku sudah tidak menemuinya semenjak dia memutuskanku. Sungguh, bagaimanapun sikapnya waktu itu tapi sampai detik ini aku tidak bisa memungkiri diriku kalau aku masih mencintainya. Aku masih menyanyanginya meskipun aku tau bahwa kini dia telah memilih wanita yang lain. tidak mengapa bagiku, biarpun perasaan ini ku simpan sendiri.

Langkahku berhenti. Mataku menatap kearah sosok disana. Tio, laki-laki itu sudah banyak berubah. Tubuhnya kini semakin tinggi, wajahnya juga semakin tampan dan pribadinya yang berwibawa terlihat jelas dari matanya. Aku berusaha menahan jantungku yang berdetak kencang. Aku tidak ingin hanya karna perasaan konyolku semuanya menjadi kacau. Tidak, tidak ingin.

“Tio,” seseorang wanita yang tidak jauh umurnya denganku mendekati Tio.

Aku menghentikan langkahku. Bergeser ke dinding yang menutupi separuh tubuhku. Sepertinya Tio dan wanita itu saling kenal.

“Rara?” Tio agak sedikit kaget.

“Kenapa? Kok kaget?” imbuh wanita tersebut.

Tio dan wanita yang namanya Rara tersebut saling berbincang-bincang. Aku menjauhi mereka. Rasanya tidak ingin menggangu mereka yang sedang asik dengan suasana masing-masing. Disana, meskipun hanya memandang punggung Tio aku sudah merasa cukup dengan perasaanku saat ini.

***

“Hampir lima jam aku nungguin kamu semalam tapi kamu benar-benar gak datang. Aku hampir kecewa Nad. Dan kali ini tolong jangan buat aku kecewa. Datanglah, aku benar-benar merindukanmu.”

Tuhan. Terlalu munafikkah aku jika ku katakan aku tidak merindukannya.? Terlalu munafikkah aku jika ku katakan aku tidak mencintainya.? Terlalu munafikkah aku jika aku belum bisa menggantikannya dengan siapapun.? Terlalu munafikkah aku Tuhan.? Sungguh, biarkan kali ini aku memunafiki perasaanku untuk menemuinya.

Ku telusuri jalanan sepi sendiri. Tidak peduli apa kata mereka yang memperhatikanku disepanjang jalan. Tidak peduli dengan tatapan aneh mereka disetiap langkah kakiku. Aku tidak peduli. Kali ini aku ingin menemui Tio yang sudah lama ingin ku temui. Akan ku katakan padanya semua apa yang kurasakan. Akan ku katakan padanya aku tidak bisa melupakannya. Akan ku katakan padanya kalau aku sungguh ingin slalu berada disampingnya. Dan aku tidak akan pernah melepasnya sampai kapanpun.

Disana, masih di tempat yang sama. Tio, dengan paras yang masih sama duduk sembari menatap keluar ruangan. Pandangannya tidak sedikitpun beralih pada orang lain. aku lagi-lagi harus menahan degup jantungku. Berusaha menormalkan keadaan dengan sebaik mungkin. Aku tidak ingin Tio tau apa yang sedang ku fikirkan saat ini. Ku dekati Tio. Sosok itu mungkin belum sadar dengan kehadiranku yang tiba-tiba.

“Yo,” panggilku pelan.

Tio sedikit kaget. Ia memperhatikanku seksama. Matanya sama sekali  tidak beralih dariku.

“Kenapa?” aku berusaha biasa-biasa saja.

“Kamu... kamu sudah banyak berubah Nad. Kamu makin cantik,” ujar Tio menghadapku. Matanya sedikit menyipit.

Aku tertawa pelan. “Masih kaya dulu kok, kumel,” jawabku. “Coba aja dulu aku gak kumel, kamu bakal gak putusin aku,” aku tertawa.

Wajah Tio berubah. “Maafkan aku Nad, aku sama sekali gak bermaksud menyinggungmu dengan masa lalu.” Tio seperti larut kemasa lalu.

“Gak apa-apa. Itu kan dulu toh aku sekarang udah beda, seperti katamu, aku makin cantik.” Aku berusaha tertawa meskipun sebenarnya perasaan sakit itu kembali diam-diam menggerogoti hatiku.  

Tio tertawa. “Iya, kamu benar Nad.”

“Kenapa? Kamu nyesel putus dari aku?” ledekku.

Tio diam. Ia seperti memikirkan sesuatu.

“Udahlah Yo, aku cuman canda kok. Gak usah difikirin,” gubrisku. Tidak perlu mengungkit kisah masa lalu jika itu hanya membuatku semakin terluka.

Tio meraih tanganku. “Nad, ada yang ingin aku sampaikan sama kamu,” mata Tio meredup.

Benarkah? Mungkinkah Tio ingin memulai kembali hubungan yang baru denganku?

“Apa?” tanyaku. Sentuhan hangat Tio seperti tidak ingin ku lepaskan. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padanya. Bukan sesuatu, banyak sangat banyak malah.

“Aku minta maaf dengan apa yang udah pernah terjadi diantara kita Nad. Sungguh, aku sangat menyesal dengan apa yang udah aku lakuin ke kamu,” Tio menggenggam erat tanganku.

Seperti sebuah magnet menelusuri aliran darahku. “Aku sudah lama memaafkanmu Yo. Sudahlah, semuanya sudah terjadi tinggal bagaimana kita memperbaiki masing-masing aja,” aku menarik tanganku. Tidak enak jika Tio masih memperlakukanku seperti baru pertama kami berpacaran, meskipun sebenarnya aku menyukai hal tersebut tapi harga diriku tidak boleh sama dimatanya.

Ku lihat Tio meraih sesuatu dari dalam tasnya. “Aku...” Tio ragu-ragu mengatakan sesuatu padaku.

“Aku duluan,” tahanku. Yah, aku harus berani sekarang.

Tio menatapku lekat.

“Aku...” aku menahan napas panjang. “Aku...” ku hembuskan napas yang tadi dengan berat. “Sudahlah, kamu aja yang duluan.”

“Hem... “ Tio masih bingung. Akhirnya ia mengeluakan sesuatu kemudian mengulurkan kehadapanku. “Minggu depan aku nikah. Aku harap kamu bisa datang,” Tio dengan senyum sumringah memperlihatkan sederet giginya yang rapi.

Jantungku berhenti berdegup. Mataku nanar. Mulutku bungkam. Aku bingung. Apa yang harus ku katakan sekarang. Semuanya sudah terlambat. Semuanya sudah berakhir. Aku berusaha menenangkan getaran aneh di hatiku. Semuanya terasa sempit sekali bahkan untuk bernapas saja aku tidak bisa. Ku perhatikan undangan dihadapanku, nama Tio dan Tania tertera disana. Inikah maksud Tio ingin menemuiku? Menyakitkan.

Ku tahan sakit hatiku dengan menekan dadaku pelan. Aku tidak ingin Tio melihat air mataku yang jatuh. Aku tidak ingin Tio melihatku rapuh karnanya. Aku tidak ingin Tio melihatku lemah karnanya.

“Kamu tadi mau bilang apa Nad,” Tio masih sempat menanyakan apa yang ingin ku katakan tadi.

Aku menggeleng pelan. Ku raih undangan tersebut. “A... aku cuman mau bilang. Aku ada urusan mendadak,” bohongku. Aku beranjak dari tempat dudukku.

“Beneran?”

Aku mengangguk membelakangi Tio. “Selamat atas pernikahanmu Yo,” ucapku. Air mataku tumpah.