Kamis, 07 Mei 2015

Bayang

    

Kerap dalam ilusi sebuah jejak menghantui
Diam mengikat langkah agar berhenti
Selepas petang yang datang menghamipiri
Bersama senja yang tak berwarna ranum lagi

Dalam jenjang yang kuikatkan tali
Dalam langkah yang memang tak bisa kukendali
Aku mulai mengutuk diri
Selepas malam yang beranjak pagi



Inikah yang di sebut bayang kemarin?
Kerap menghantui jalananku yang sepi
Seperti lintah yang menggigiti kulit ari
Membuatku merintih pada nasibku sendiri

Duhai Robbi...
Di separuh malam ini bolehkah aku menangis?
Meratapi khilaf dan dosa yang membayangi
Agar separuh hati ini suci kembali
.
Semoga Engkau ampunkan diri ini



Jakarta, 07 Mei 2015


Kamis, 30 April 2015

Dia Itu






            Dia itu tidak akan pernah memberi tahu kapan dan kemana dia seharian. Tidak akan pernah memulai percakapan. Tidak pernah memberi kesan menyenangkan. Tidak pernah tau cara romatis pada pasangan. Benar-benar dingin.

            Dia itu harus aku duluan yang memulai. Dari mana saja? kemana saja? lagi apa? Apa kabar? Bagaimana harimu? Sehatkah? Dan seterusnya. Dia benar-benar kaku dan tidak tau cara membahagiakanku meski dengan satu patah katapun. Tidak pernah.

            Dia itu laki-laki dingin dan terkesan tidak peduli. Tidak ada kejutan setiap kali bercerita. Tidak ada kalimat pendiri kekuatan ketika aku lagi bosan. Bahkan dia benar-benar tidak peduli. Aku bingung harus bagaimana. Aku tak tau bagaimana menghadapinya. Bahkan menurutku dia sangatlah kaku.

            Dia itu membuatku pusing. Entah apa yang sedang dia fikir. Saat aku sedang memakinya dengan kalimat saat itu dia akan merespon kemudian kembali diam. Ketika aku memujinya dia akan menjawab lalu kembali diam. Lantas? Haruskaha aku berlari dulu agar dia tau bagaimana sulitnya aku berjuangan dengan semua kekuatanku? Haruskah aku berlari terlebih dulu agar dia tau bagamana caraku menyibukkan diri ketika tak ada kabar darinya? Haruskah begitu. Haruskah?

            Dia terkesan cuek dan jutek. Tak pernah perhatian walau hanya sedikitpun. Sosok sepertinya harus menyediakan seribu karung kesabaran. Meninggikan rasa kesabaran serta menurunkan emosional. Tahan amarah adalah jalannya. Bicara lembut adalah caranya. Setidaknya begitu.

            Dia itu membuatku hampir frustasi setiap harinya. Bisa kau bayangkan bukan? Dengan jarak jauh yang menguji kepercayaan. Dengan jarak jauh yang menguji kekecewaan, dengan jarak jauh yang melapangkan dada. Menghadappi orang sepertinya ku butuh banyak usaha. Ya, dan tentu saja. namun, aku berusaha semampuku membuka mata dengan apa yang telah kulakukan. Dengan caranya yang setiap harinya cuek, acuh tak acuh serta tak peduli padaku aku bisa belajar. Bahwa mencintai bukanlah tentang memberi kabar setiap hari. Bahwa mencinta bukanlah tentang memberikan tawa setiap perbincangan. Bukan itu. Tentu saja bukan. Bahwa cinta itu adalah kedewasaan. Bagaimana menghargai satu sama lain, bagaimana cara menghadapi pribadi masing-masing tanpa harus memberikan emosi. Tanpa harus mengutamakan amarah. Karna cinta itu pengertian bukan tentang kelabilan.

            Dia itu... laki-lakiku dengan misterius yang mengangumkan.

            Love you :*




Jakarta, 30 Apr. 15

Rabu, 08 April 2015

Hujan Pukul Satu



Kali ini langit masih sama
Udara dimana-mana menjadi penyeruak jalanan
Berteduh di tempat biasapun percuma
Kerna kering kerontang yang akan di dapat

Pada langit yang juga gelap
Hujan mulai turun di perbatasan jalan
Becek, kotor dan berbau amis
Tak ada wewangi yang menyengatkan hidungku yang belang

Tengah dua belas berlalu
Sudah jelang siang dengan matahari di atas kepala
Keramas kepala di buatnya
Panas dan tak bisa dipenjarakan

Angin kembali berlalu
Membawa hujan pukul satu
Setapak jalananku di buatnya kelu
Aku terpaku lagi dalam bisu

Hei!
Kau tau?
Aku mencoba menghapus alur yang di terpa beling-beling di atas pagar kantorku
Tapi tetap saja tak bisa Tuan

Dan kuhapus sedikit petasan hujan di luar ruangan
Berharap sisanya tak menghapus senyuman
Kerap juga langkah yang tak akan kubiarkan berjalan
Agar tetap bersemayam dalam ingatan

Namun percuma Tuan
Aku tak bisa



jakarta, 09 April'15



Just Happen




“Apa kabar kak?” sebuah pertanyaan yang menurutku basi dan benar-benar basi. Tapi kali ini aku benar-benar bingung memulai percakapan dari mana. Setahun tidak pernah berkomunikasi membuat jarak di antara kami terasa aneh. 

“Alhamdulillah baik. Lya apa kabar?”

Suara itu masih sama. Hanya ada sedikit yang berbeda. Ataukah mungkin sekedar perasaanku saja.

“Baik juga kak,” jawabku. Kutarik napas berlahan kemudian menghembuskannya lebih pelan.

Pukul 22.30 Wib tadi HP di samping tempat tidurku berdering. Dengan mata yang masih mengantuk aku berusaha meraihnya. Sekian detik kudengar suara yang dari tadi kujawab terasa aneh. Ini bukan suara laki-laki itu, bukan. Lalu siapa? Kuperhatikan nomor di layar. Nomor baru. Tapi tunggu? Bukankah dia? Astagaaa... kak Wan. Sosok laki-laki yang pernah mengisi relung hatiku tiga tahun dulu. Dia menghubungiku?

“Hei, kuliah dan kerjamu lancar?”

Aku bangkit dari lamunan. “Lancar. Alhamdulillah semuanya lancar,” jawabku memperbaiki posisi. “Kok ribut ya kak. Kakak lagi dimana?”

“Masih di tempat kerja Lya.”

“Tempat kerja? Loh, kok malam?”

“Biasa. Aku sekarang jadi laki-laki karir,” jawabnya tertawa. Membuat suasana di antara kami semakin cair.

Aku ikut tertawa. “Aih, ada-ada aja. Aku yang wanita karir dan sudah punya pengalaman dibanding kakak biasa aja,” pungkasku sedikit menahan tawa.

“Kakak sifh malam Lya. Jadi pulangnya agak larut malam. Di sini juga masih ramai, ribut.”

Suara itu... aku seakan masuk ke dalam dimensi lalu. Aku yakin sosok itu sudah banyak berubah dari dulu.

“Apa kakak masih marah padaku?” Ya, ini pertanyaan yang sudah lama ingin kutanyakan. Apa dia masih membenciku? Kutarik guling di dekatku kemudian memeluknya. Kurasakan angin di ruangan semakin panas. Aliran darahku semakin melaju. Aku bukan takut, sungguh. Hanya saja aku tidak ingin dia terlalu membenciku.

“Marah?” tanyanya menakan kata-kata.  

“Kita sudah menjadi masa lalu kak. Tidak perlu menanam rasa benci terlalu lama bukan? Aku memang salah, tapi setidaknya bukan aku saja yang merasa salah. Itu sudah keputusan dan bagaimanapun kita harus menghargainya.”

“Aku tidak pernah menyalahkanmu Lya. Semua sudah brlalu, setidaknya begitu. Dan aku malah senang kau masih ingin menjawab telponku.”

Aku tertawa pelan. Dulu, setelah putus aku memang tidak pernah menjalin komunikasi dengannya. Bahkan aku benar-benar benci bila mengingat namanya.

“Sudahlah kak, untuk apa mengingat masa lalu,” pungkasku. Aku tidak ingin larut lagi ke dalamnya. “Oh ya kak, kalau ada waktu mainlah ke tempatku, tapi jangan lupa bawa makanan ya, hehe...” Aku tertawa. Mengubah suasana lebih baik agar tidak merasa canggung.

“Makanan?”

“Aih, sudahlah! Kali ini aku yang minta. Biasanya aku gak pernah minta.” Jujur saja, sewaktu bersamanya dulu aku memang jarang minta ini itu. Bukan karna malu tapi harga diri lebih utama menurutku.

“Nanti ya, kalau ada waktu luang aku bakal main ke tempatmu sekalian silaturahim.”

“Aku bercanda kak jangan terlalu serius. Tapi kalau kakak mau main silahkan. Aku tunggu,” ujarku.

“Iya, aku tau Lya.”

Beberapa menit suasana menjadi hening. Aku lebih banyak diam. Rasanya ini memang aneh. Aku berharap setelah malam ini suasana di antara kami akan jauh lebih baik lagi.

“Aku tidur dulu ya kak. Besok pagi aku harus bangun pagi-pagi untuk kerja. Salam untuk Ibu, tolong katakan padanya aku merinduinya.”

“Iya, insha Allah. Nanti kakak sampaikan.”

Dan malam semakin menjelajahi separuh napasku. Seiring detak jantung yang kian menggebu bersama udara di sekelilingku. Dia... laki-laki yang baik yang pernah hadir. Dia... laki-laki yang baik yang berhak untuk mendapat yang lebih baik. Dia... semoga kelak menjadi lebih baik lagi.

Kupejamkan mataku bersama iringan musik yang slalu kuputar melalu HP kesayanganku.




Jakarta. 07 April’15










Selasa, 24 Maret 2015

Kau tau?







Kau tau mengapa aku suka sekali dengan menulis? Menulis adalah sebagian dari perjalanan hidup. Yang tak perlu di dengarkan orang lain. Tak perlu di komentari orang lain. Cukup berkeluh kesah serta memuntahkan semua yang terjadi di dalam otak. Tak akan ada yang mengeluh dan marah. Tak ada seorangpun yang akan memakimu. Tak seorangpun, aku yakin.

Menulis seperti mengikuti setiap gerak-gerik hati. Ya, karna menulis adalah isi hati. Tak ada yang lebih jujur selain tulisan. Ia slalu menerima muntahan isi perutmu, ocehanmu, amarahmu, bahagiamu, sedihmu, senangmu, segala sesuatu yang berkaitan dengan hidupmu. Sungguh, takkan pernah membencimu.

Tidak dengan yang lain, terkadang mereka menerima ucapanmu, mengiyakan, memberi masukan namun diam dan pelan ia menghunuskan pisau di punggungmu. Kau... bisa jadi korban yang kesekiannya.

Menulislah! Sebab tulisan tidak akan pernah hilang sepangjang zaman.







Jakarta, 25 Mar’15


Kekasihku




Kekasihku...
Tidakkah kau rasakan basah tanah di tempatmu karna gerimis hujan sore ini? Membawa sejuta percikan rindu yang kukayuh bersama dermaga biru. Di sana, di sudut kota yang penuh dengan para pecundang serta musisi jalanan.

Kekasihku...
Tidakkah kau rasakan kerasnya angin di sore ini? Saling berebut mencari tempat tuk menghampiri. Menyampaikan kisah rindu yang kusimpan rapat di dadaku. Beserta gerakan irama bersambut siulan angin malam. Kemarilah... kita dawaikan angin yang mulai menepi di penghujung senja. Akan kuajari kau bagaimana namanya bercinta dengan ritma.

Kekasihku...

Tidakkah kau rasakan siulan merpati di kotamu? Nadanya pelan menghantarkan melodi di ujung cerita rindu. Kukatakan aku merinduimu tanpa sebab musabab yang dikatakan orang percuma. Tapi, taukah kau kekasihku? Di antara sore yang beranjak malam serta berganti pagi ada sebuah cerita yang diam-diam kusembunyikan sebelum fajar menghampiri. Kukutipkan di secarik kertas di atas kanvas hidupku. Di dalam setiap munajat do’aku, kupinta pada Tuhan agar kelak kau membawaku pada tempat yang di sebut sebagai singgasana mahligai indah. Kelak, di sana kita akan bebas terbang serupa pasangan merpati yang bergurau sepanjang hari.

Kekasihku...
Sore ini, dengan aroma tubuh bumi yang di basahi angin serta sisa hujan tadi. Ku do’akan dirimu menjadi pertama dalam dekapan hidupku. Menjadi sosok pemberi semangat setiap kala kuterjatuh. Semoga Tuhan slalu melindungimu dalam hari.

Aku dan sejuta rindu di kota padat kini menantimu. I miss you :)




Jakarta, 23 Mar’15


Hujan di Akhir Maret





Kututup lebih rapat pintu yang melindungi kamarku dari dingin yang menarik-narikku sejak pukul lima sore tadi. Berharap angin yang mulai menerobos dedaunan di depan rumah tetanggaku takkan terbang singgah ke depan teras. Selang lima menit, kutarik sebuah jaket yang tergantung di belakang pintu dekat kamar tidur lalu kueratkan keseluruh tubuhku. Kenapa angin di luar sana seakan masih mampu menguliti tubuhku? Menjalarkan dingin yang membuat tubuhku serasa berada di bawah nol derjat celcius.

Kurapatkan tubuhku kedinding. Kupeluk kedua lututku dengan tangan kosong lalu menenggelamkan kepalaku di dalamnya. Ada yang lebih dingin di banding angin yang kini berganti dengan hujan di luar sana. Ada yang lebih dingin dan pekat di banding hujan serta guntur yang bersahutan di luar sana. Ada. Sesuatu yang menerobos kulit ariku lalu berlahan mengalir lewat darahku dan bercampur dengan napasku. Sesuatu yang membuatku terasa semakin sesak dan sakit. Kucoba menahan kepalaku lama di atas lutut. Aku ingin berlama-lama melakukan hal ini. Aku ingin menahan dadaku yang sesak di dalamnya. Aku ingin sekali menenggelamkan dengan apa saja agar sesakku segera hilang.



Dua jam berlalu namun hujan tak kunjung reda. Bukankah akhir Maret tak pernah berakhir dengan hujan? Hujan slalu berakhir di akhir tahun. Dan semua akan kembali di hiasi terik matahari. Kugeser sedikit penutup jendela kamar yang menghalangi pemandangan. Hujan masih saja belum bersahabat. Sekarang hanya ada aku dan sepi. Tak ada yang ingin menemani selain hujan di sana. Kuraih tas lalu mencari benda yang slalu kubawa kemanapun. Kosong. Tak ada pesan, tak ada BBM tak ada panggilan. Akhir bulan slalu saja berhasil membuatku galau. Dan kata-kata bodoh slalu menjadi kutukan tersendiri buatku. Dasar! Umpatku kecil.



Kau tau Maret?
Satu bulan sebelum kau datang seolah menjadi kenangan tersendiri bagiku. Februari namanya. Bulan dengan Valentine di dalamnya. Dan para remaja seusiaku atau mungkin di bawahku juga di atas umurku slalu menyukainya. Tapi tidak denganku, sungguh. Tentu saja alasan yang tepat karna aku adalah seorang muslimah dengan jilbab yang masih merekat di kepalaku. Meskipun sebenarny aku masih jauh dari kata baik, tapi setidaknya untuk aturan agama aku masih tau untuk menjalankannya. Ya, begitulah sekiranya. Dan alasan yang lain aku tidak ingin menyebutnya. Sungguh! Mengingatnya sama halnya dengan merebus udara di sekeliling dan berubah menjadi racun mematikan. Dan aku benci setiap kali mengingatnya.

Ferbruari dan Maret. Dua bulan yang masih saja ingin melaju dengan hujan. Hujan dengan genangan air mata di dalamnya. Hahahaha... aku tertawa boleh? Hei, jangan ledek aku dengan sebutan orang bodoh karna yang mengataiku bodoh hanya aku seorang dan aturan yang lainnya telah kutulis dengan kata, ‘not for other.’ Baiklah, kembali ke hujan. Hujan yang belum juga reda dengan kilat yang bersahutan di atasnya. Barangkali ia ingin balas dendam dengan sebutan banjir di dalamnya.

 Kau tau Maret? Ini sudah akhir. Aku ingin mengakhiri bulan di dalamnya dengan sebutan April. April dengan kelahiran tanggal baru. Dengan kelahiran semangat baru. Dengan kelahiran nuansa baru. Untuk itu Maret, jangan menangis lagi. Tutuplah bulan ini tanpa hujan di dalamnya. Tanpa gemerisik langkah yang di derai gemercik langkah indah. Tetaplah menjadi Maret dalam doa nan tanpa sisa air mata.

Selamat akhir Maret hujan di akhir Maret.




Jakarta, 23 Mar’15









Rabu, 11 Maret 2015

The Heart Wants What It Wants







You got me sippin' on something
I can't compare to nothing
I've ever known, I'm hoping
That after this fever I'll survive
I know I'm acting a bit crazy
Strung out, a little bit hazy
Hand over heart, I'm praying
That I'm gonna make it out alive

The bed's getting cold and you're not here
The future that we hold is so unclear
But I'm not alive until you call
And I'll bet the odds against it all
Save your advice 'cause I won't hear
You might be right but I don't care
There's a million reasons why I should give you up
But the heart wants what it wants

You got me scattered in pieces
Shining like stars and screaming
Lightening me up like Venus
But then you disappear and make me wait
And every second's like torture
Hell over trip, no more so
Finding a way to let go
Baby baby no I can't escape

The bed's getting cold and you're not here
The future that we hold is so unclear
But I'm not alive until you call
And I'll bet the odds against it all
Save your advice 'cause I won't hear
You might be right but I don't care
There's a million reasons why I should give you up
But the heart wants what it wants (x4)

This is a modern fairytale
No happy endings
No wind in our sails
But I can't imagine a life without
Breathless moments
Breaking me down down down

The bed's getting cold and you're not here
The future that we hold is so unclear
But I'm not alive until you call
And I'll bet the odds against it all
Save your advice 'cause I won't hear
You might be right but I don't care
There's a million reasons why I should give you up
But the heart wants what it wants (x4)

The heart wants what it wants baby






Selasa, 24 Februari 2015

Pada Detik Ke Tiga





Pada detik ke tiga, aku jatuh cinta pada warna yang kausebut sebagai senja. Pada warna marun yang menjadikannya tiada menjadi ada. Aku jatuh cinta padanya.

Pada detik ke tiga, aku jatuh cinta pada warna yang kausebut sebagai senja. Pada warna marun yang menjadikannya tiada menjadi sempurna. Aku jatuh cinta padanya.

Pada detik ke tiga, aku jatuh cinta pada warna yang kausebut sebagai senja. Senja yang merona dengan kilaunya yang hampir sempurna. Tanpa cacat sedikitpun, tanpa luka sedikitpun. Aku jatuh cinta padanya.
Pada senja yang menghampiri malam. Pada senja yang menyemburatkan percikan kilauan emasnya ke seluruh jagat raya. Aku jatuh cinta padanya.

Pada senja yang menghangatkan sukma. Pada senja yang bisa kau raih di pucuk gunung di perbatasan Sahara. Aku jatuh cinta padanya. Pada warna yang tak lagi sepekat mentari yang menyiratkan panasnya. Pada warna kemilau nan memekatkan prahara.

Pada detik ke tiga, aku jatuh cinta pada warna yang kau sebut sebagai senja. Pada pekatnya, meski kutau senja yang kau maksud akan kembali pada malam berikutnya. Pada malam yang kemudian menghadirkan pagi, lalu kembali bertemu bersama mimpi. Tak mengapa, aku tetap suka senja. Senja yang menghantarkan pelangi pada kelopak mataku yang binarnya kian merekat dengan seonggok rasa peduli pada hati yang tersisih. Aku tetap suka senja. Senja yang kumaksud sebuah penantian antara malam yang beranjak pagi. Menunggu waktu, berputar kembali lalu bertemu lagi.

Pada detik ke tiga, aku jatuh cinta pada warna yang kau sebut sebagai senja.



Jakarta, 24 Feb’15


Senin, 23 Februari 2015

(BUKAN) RINDU MATI




Rinduku tertahan angin malam
Pada semilir rumput yang bergoyang
Pada bingkis purnama yang menghantarkan mimpi jalang

Rinduku tertahan angin malam
Pada bunyi kerincing gelang bidadari bermata sipit
Pada nyanyian yang di iringi dentingan gitar di separuh pagi

Rinduku tertahan angin malam
Pada kerlipan bintang yang tak ingin berjalan
Pada sunyi kendraan yang lalu lalang
Pada hati yang terpaut mati



Rinduku terpaut sepi
Pada perangkap hati
Pada detak jantung yang tak lagi mengalir deras
Pada sesak napas setiap kali mendengar denyut nadi

Aku tak berani beralih lagi
Pada lain hati
Pada hati yang ingin jatuh hati
Pada sepi yang membawa mati

Rinduku mati
Pada titik yang tak pernah terputus
Pada sebongkah harapan yang menjadi mimpi
Aku mati pada rindu sendiri



Jakarta, 23 Feb’15