Selasa, 18 November 2014

Aaarrrggghhhh


            
Penat ini sungguh menyiksa bathinku. Merenggut semua kebahagiaan yang tersisa di sela tawaku. Membunuh semua sisa senyum yang slalu kusisihkan dalam diamku. Ya, semua terasa hambar dan begitu hampa memenuhi rongga jiwaku. Tuhan, mengapa rasanya detak jantung ini semakin lama semakin menepis saja. Apa mungkin aku terlalu memikirkan sesuatu yang membuatku sesak? Sesak yang kini memenuhi otakku. Mengalir dalam setiap sel –sel syarafku. Mati mungkin bisa membuat semuanya lebih baik. Apakah benar dengan mati? Jika iya, apa aku haus mati?
            “Kau lelah Lya?” Entah dari mana asal suara yang tiba-tiba menghentakkan lamunanku.
Ya, aku melamun lagi sore ini. Kebiasaan terindah yang mungkin bisa membantu sisa ingatanku untuk menjadi lebih tegar dan kuat. Kuperhatikan sekeliling ruangan. Tidak ada seorangpun disini kecuali aku sendiri. Lalu, siapa yang mengejutkanku? Kuperhatikan lagi sekelilingku. Namun hasilnya tetap sama. Nihil. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja, mungkin juga karna terbawa suasana. Lebih baik tidak usah kuhiraukan panggilan tadi.

*
Dan tiga bulan kemudian...
Seperti sebuah bayangan nyata meraih kesadaranku. Dia menarikku masuk ke dalam dunia nyata miliknya. Katanya, kau bisa berbagi keluh kesahmu bersamaku. Tentang apa saja kau bisa ceritakan padaku, begitu katanya. Tapi, apakah semudah itu mengatakan semuanya padamu? Apakah semudah itu mengutarakan semua beban di hatiku ini padamu? Apakah semuanya akan lebih baik lagi jika kukatakan padamu? Aku ragu. Ah, sebenarnya tidak ragu padamu hanya saja aku lebih suka memendam semua di hatiku. Semuanya akan terasa baik-baik saja jika hanya aku saja yang tau. Aku akan baik bila terus begini.
“Katakanlah Lya,” ujarmu malam itu.
Aku menangis untuk ketiga kalinya. Kenapa harus menangis lagi? Kenapa airmata ini mudah sekali jatuh? Aku benci menangis. Aku benci airmata. Namun yang paling kubenci aku tidak bisa menahan bendungan airmataku sendiri. Air mata yang bisa mewakili semua penat yang tersisa. Semua perih yang menikam jiwa. Semua luka yang menyayat sukma. Rasanya sesak sekali setiap fikiran buntu ini menggelayut di fikiranku. Sesak yang membuatku sulit bernafas.
“Aku baik-baik saja. Percayalah!” kuselipkan tawa di ujung ucapanku.
“Kau yakin?” ujarmu tidak percaya. Tentu saja kau tidak akan percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan. Tidak mungkin dalam sedetik saja keadaan menjadi lebih baik. Tapi percayalah, mendengar suaramu sudah menjadikan keadaan lebih tenang.
“Ya, aku baik-baik saja,” jawabku menghapus sisa airmataku tadi. Tak kubiarkan air mataku jatuh lagi.

*
   Seperti puluhan ribu putaran berkeliling di kepalaku. Pusing dan mual kini bercampur aduk di tubuhku. Sakit sekali rasanya jika harus begini lagi. Setiap ada masalah tubuhku slalu jadi tempat pelampiasan. Aku lelah, pusing dan ingin pinsan. Aku tak kuat lagi. Benar-benar menyiksa sekali.
Sekali, dua kali dan tiga kali aku bergumam sendiri. Aku harus bisa, aku harus kuat. Namun tetap saja aku tak kuat. Aku berlari ke dalam kamar mandi kemudian memuntahkan semua yang membuat perutku mengerang. Cairan kuning mengalir dari mulutku. Aku muntah lagi dan lagi. Jelang kemudian aku tenang. Perutku yang tadi terasa ngilu lambat laun menjadi biasa saja.
Kuhempaskan tubuhku di atas kursi. Pandanganku nanar pada komputer yang berada tepat dihadapanku. Cahayanya membuat mataku menyipit. Ah, aku tidak fokus kerja. Aku ingin pulang dan istirahat sejenak. Membuang unek-unek yang menggelayut di kepalaku.
“ Mas, aku pulang duluan ya mas,” ujarku dengan menekan-nekan kepalaku yang semakin pusing.

*
“Sebaiknya kamu periksa saja, Lya.”
Sosok dihadapanku mengulurkan secangkir teh hangat. “Periksa? Ngapain? Wong aku baik-baik aja kok,” jawabku. Kuseruput teh hangat ditanganku.
“Apa kamu gak takut jika sesuatu terjadi di kepalamu?”
Kupandangi sosok itu tajam. Dia benar-benar membuatku takut. “Aku baik kok,” ketusku.
“Kalau kamu baik terus ngapain mengeluh mulu kalau kamu sakit. Kepala sakit, rambut rontok, perut mual. Apa itu bukan penyakit?” Dia menatapku. Matanya tajam sekali.
“Kamu jangan menakutiku. Aku gak suka,” aku semakin kesal dibuatnya.
“Aku tidak bermaksud menakutimu, Lya. Tapi dengarlah, jika kamu memang sahabatku sebaiknya kamu ikuti saja saranku.”
“Itu bukan saran, Ema. Melainkan jebakan yang membuatku semakin takut.” Kutinggalkan dia sendiri dengan teh yang tadi diulurkannya padaku. Aku sudah malas mendengar ucapannya untuk kesekian kalinya.

*
Dan kepalaku berdenyut lagi...
Aku benci dengan hal ini. Aku benci jika ini harus terjadi lagi. Apa aku harus mengikuti saran Ema saja? Memeriksa kepalaku yang tiap kali berdenyut. Tapi, ah, untuk apa? Toh para dokter hanya bisa mendiagnosa saja. Yang katanya inilah-itulah. Membuatku semakin tegang saja jika mendengarnya. Lebih baik kubiarkan saja jika terus begini. Nanti saja, jika mungkin aku sudah memiliki keberanian maka akan kulaksanakan saran dari Ema. Ya, walaupun aku takut.

Sepertinya aku harus tetap mempertahankan keegoanku dengan memendam segala apapun yang terjadi di diriku. Mungkin itu yang lebih baik.

Ah... aku tidak ingin terlalu pusing dengan semuanya.

Jakarta, 14 Nov'14

Kau Tau Sayang




Kau tau sayang...
Jarak ini seperi sel yang siap membunuhku
Menghancurkan kepingan kekokohan hatiku
Jika semenit saja tak kudengar suaramu

Kau tau sayang...
Jarak ini seperti racun mematikan bagiku
Membunuhku secara pelan dan berlahan
Jika sedetik saja kau acuhkan aku

Kau tau sayang...
Jarak ini seperti lautan api yang siap melahapku
Menghanguskan seluruh sisa kesabaranku
Jika sedetik saja ku tak mendengar kabarmu

Kau tau sayang...
Jarak ini seperti detak jam di dinding
Berlalu dan berdentang dengan berisik
Jika kau tak mebiarkan jenuhku kini tak terobati

Kau tau sayang...
Jangan buatku semakin tak tenang
Meregang dengan keadaan yang mematikan
Maka kemarilah segera datang, temui aku di tempat kita sewaktu berbincang



 Jakarta, 04 Nov’14

Adakah Yang Salah Sayang





Adakah yang salah dari sekeping hati ini sayang?
Sejak mengenalmu kepalaku terus saja terasa pusing
Adakah yang salah dengan sekeping hati ini sayang?
Sejak mengenalmu jiwaku semakin terasa mengering

Aku mau makan tampak wajahmu
Aku mau minum tampak lagi senyummu
Aku mau tidur tampak lagi kamu
Aku kemanapun ada saja kamu

Apa yang salah dari sekeping hati ini sayang?
Jatuh cintakah aku padamu?
Atau apa karna aku terlalu memikirkanmu?
Hingga kamu menggelayut dibenakku

Kamu tampak lagi tadi sayang
Mengintipku, menolehku di sela tawaku

Ada apa dengan sekeping hati ini sayang?
Atau kau sudah racuni aku?
Kau buat aku candu dengan semua tingkahmu
Ada apa dengan sekeping hati ini sayang?
Kau benar-benar membuat penak kepalaku



Jakarta, 04 Nov’14

Dia Lebih Dari Indah





            Di sana, jauh di dalam gumpalan awan yang memutih. Jauh dari warna pelangi dan jauh dari sederetan guyuran hujan. Terekam namamu yang mengelilingi fikiranku. Berputar-putar dalam benakku. Serta memanggil-manggil namaku. Kamu... ya, kamu yang slalu membentak dalam sanubariku. Melebihi derasnya anomali air yang slalu setia pada panasnya mentari. Tidak... kamu malah melebihinya. Bahkan melebihi indahnya purnama ketika malam menyunggingkan senyumnya. Menoreh bingkisan putih tepat di hadapanku. Dan tanpa sadar aku menulis namamu di dinding kaca tepat dihadapanku. Sebuah nama yang berhasil membolak-balikkan hatiku. Sebuah nama yang berhasil menjatuhkan butiran-butiran rindu di penghujung malamku. Sebuah nama yang aku sendiri tanpa sadar slalu menyebutnya.

            Dia...
            Indahnya melebihi lintasan pelangi setiap hujan. Hujan yang mengguyurkan perasaan yang tenang dan tentram setiap saatnya. Ah... tak perlu kukatakan lagi tentang dia, tentang dia yang nanti kau, kalian bahkan aku sendiri tak bisa membayangkannya. Hanya saja aku bisa merasakan sosoknya yang benar-benar ada dan nyata tepat dihadapanku. Melengkungkan senyumnya yang merona melebihi lukisan kanvas di senja yang tak berwarna.

            Aku merindukannya...
            Ah, aku terlalu merindukan sosoknya yang di sana. Terlalu merindukan sosoknya yang menjadi pelabuhan kehampaanku. Aku terlalu menrindukannya...
Merindukannya dengan sosok kesederhanaannya.


Jakarta, 18 Nov’14

            

Selasa, 11 November 2014

Kopi


Kopi pahit
Kopi hitam
Kopi manis

Pahit kopi
Hitam kopi
Manis kopi

Kopi hitam manis
Kopi hitam pahit
Kopi manis pahit
Kopi hitam pahit manis

Kopiku kopi pahit manis
Kopiku manis kopiku pahit
Kopiku kopi hitam manis
Kopiku kopi pahit manis

Kopiku tak suka kopi



Created: Jakarta, 21 Okt'14

*saat itu aku lagi pusing dan terciptalah sebuah puisi 'Kopi' 

Apa Kabar Ayah?


Apa kabar sore ini Ayah?
Masihkah peluh itu menghiasi keningmu yang semakin mengkilat
Apa kabar sore ini Ayah?
Masihkah senyum itu menghiasi bibirmu yang pucat

Aku slalu mendo'akanmu Ayah
Dengan linangan air mata yang hampir mengering
Jua suara yang semakin serak tak berfungsi
Kuharap Ayah baik slalu disana

Apa kabar sore ini Ayah?
Masihkah binar indah itu menggelayut di matamu
Yang slalu menatap ke angkasa
Menghitung paruh waktu yang kian berlalu

Aku disini Ayah
Mengupas sang mentari di sore ini
Bersama tumpukan perisai yang siap menemani
Serta cekikikan mereka yang tak kukenali

Apa kabar sore ini Ayah?
Kuharap mentari di ufuk sana tak sekejam sore di Jakarta ini
Agar Ayah bisa pulang ke rumah
Membawa sejuta permadani untuk kami

Apa kabar sore ini Ayah?
Sungguh, aku merindukanmu beserta pujianmu

Created: Jakarta, 03 Nov'14

Selamat malam purnama yang redup...


            Selamat malam purnama yang redup...
Setahun sudah kita tidak bertemu. Tidak pernah saling bertutur sapa. Saling memberi kabar meski hanya 'hai' saja. Tidak pernah terjadi sedikitpun diantara kita sejak kejadian dulu. Kita bagai matahari dan pluto yang terpisah jarak dan waktu. Sangat jauh.
            Selamat malam purnama yang redup...
Kemaren aku memimpikanmu. Ya, aku bermimpi tentang kamu namun bukan tentang kamu yang dulu. Aku melihat kamu tersenyum menyapaku. Apa mungkin ini pertanda kamu memaafkanku? Memaafkan semua kesalah yang pernah terjadi diantara aku dan kamu.
            Selamat malam purnama yang redup...
Kau pasti sudah bahagia sekarang, bukan? Pasti. Aku yakin kamu sudah menemukan sosok wanita yang pernah kamu ceritakan yang pernah kamu inginkan yang pernah menjadi idaman yang menjadi harapanmu sebelum kau jatuh cinta padaku. Tentu saja, aku yakin wanita itu beruntung memilikimu.
            Selamat malam purnama yang redup...
Kudengar kau menanyaiku lewat familyku? Ohyah? Tak usah lagi kau hiraukan aku. Walaupun kutau kau hanya ingin sekedar tau saja. Tapi aku tidak suka. Sama sekali benci jika kau kembali mengusik hidupku yang damai ini. Aku takut semakin membencimu nanti. Kau taulah, aku ini wanita yang mudah terjangkit amarahnya.
            Selamat malam purnama yang redup...
Kembalilah lagi pancarkan sinarmu untuk sang mawarmu yang membutuhkan cahaya indahmu. Agar kelak kamu bisa tersenyum sembari mengingatku sebagai masa lalumu yang pernah menyakitimu. Ya, menyakitimu agar kau bisa merubah hidupmu menjadi lebih baik lagi.
            Selamat malam purnama yang redup...




Jakarta, 11 Okt'14

SUDAH SETAHUN, BUKAN?




Sudah setahun, bukan?
Rindangnya cemara ini tak seperti dulu lagi
Ranumnya mawar ini tak seindah dulu lagi

Sudah setahun, bukan?
Mentari yang menepi di setiap pagi tak seindah dulu lagi
Pelangi yang menabur jingga tak sewarna sedia kala lagi

Sudah setahun, bukan?
Ladang taman ini tak pernah ku singgahi lagi
Bahkan memetik bunga di sana rasanya tak ingin sekali



Sudah setahun, bukan?
Kita tak berjalan di jalur yang sama lagi
Tidak saling pandang
Jua tidak saling menggenggam

Bukan kubenci dengan cara yang tak bisa kau dendang
Bukan juga enggan pada senyummu
Sebab semua sudah berlalu
Hingga setahun yang lalu kutanam di dalam kalbu

Sudah setahun, bukan?
Trimakasih untuk setahun yang lalu
Dengan warna pelangi jua mawar yang kau beri
Serta rindangnya ladang cemara yang mewangi



Created: Jakarta, 06 Okt'14

Senin, 10 November 2014

Aku Menunggu



Aku menunggu pagi, katamu
Menunggu hingga kau terlelap
Menunggu mentari menyapa bumi
Menunggu senyummu menggugah jiwa

Aku menunggu malam, kataku
Menunggumu menyapa namaku
Menunggumu mengatakan rindu untukku
Biar lelap tidurku

Aku menunggu sore, katamu
Menunggu hangatnya suaramu yang merdu
Menunggumu mengungkapkan kalimat nan syahdu
Menunggumu hingga kau tau aku baik-baik saja disini



Aku menunggu...
Menunggu purnama di ufuk daun kamboja
Menghiasi taman-taman dihati
Memberi sejuta arti

Aku menunggu...
Menunggu hingga lelah membasuh peluh
Tak mengapa tak ada bunyi ketukan palu
Yang pasti aku tetap setia menunggu

Karna aku menunggumu


Jakarta, 10 Okt'14

KAMU JAHAT, SAKITNYA TUH DISINI...!



            Namanya Candra, sosok laki-laki bagai pahlawan yang datang menghampiri. Menghiasi hidupku yang kelam tak berwarna. Dia memberi warna indah layaknya senja yang tak ingin terpisahkan dari tepi pantai. Laki-laki yang biasa namun penuh dengan guratan aksara.
Aku mengenal Candra hampir tiga tahun lamanya. Senyumnya yang merekah membuatku slalu memikirnya. Tawanya yang manja membuatku tak bisa berpaling darinya. Jujur, diam-diam aku menyukai Candra. Diam-diam aku juga memperhatikan tingkah lakunya setiap kali bersamaku. Dapat kulihat dari matanya yang teduh sepertinya dia juga menyukaiku. Entahlah, jika ini hanya perasaanku saja aku tak peduli. Yang kutau Candra slalu ada setiap kali aku membutuhkannya.
Candra yang periang dan humoris membuat hatiku berdebar-debar tak menentu. Bergetar layaknya genderang mau perang. Bergejolak bagai air terjun yang menetes mengenai bebatuan dibawahnya. Jika ada yang mendefinisikan sebuah kalimat ‘cinta itu buta’ maka aku adalah seorang yang buta karna cinta. Aku telah buta melihat laki-laki selain hanya Candra. Ya, hanya Candra yang menggelayut disetiap langkahnku.
*
 “Aku menyukai Candra, Na,” ujarku pada Luna. Entah karna apa aku berani membuka perasaanku yang sengaja kututupi dari Luna— sahabat karibku.
“Oh ya?” jawab Luna datar.
“Kok kamu jawabnya ‘Oh ya’ doang si Lun,” kesalku. Aku pura-pura mayun.
“Kamu aneh,” jawab Luna datar.
Aneh? Apa yang aneh dengan perasaanku. Bukankah wajar kalau aku menyukai Candra. Sosok laki-laki yang baik hati dan perhatian. “Aneh kenapa Lun?” aku masih penasaran dengan ucapannya.
Luna menyentuh kedua bahuku. Dia memperhatikanku.  “Dengar ya Mey, sampai kapanpun aku tidak akan pernah setuju kalau kamu pacaran dengan Candra,” tegas Luna membuat mataku melotot kearahnya.
“Loh, kenapa?” keningku berkerut. Aku tidak terima Luna berbicara seperti itu padaku.
“Ya.. aku gak setuju aja.”
“Setidaknya kamu punya alasan kenapa kamu gak setuju?” aku benar-benar bingung dibuatnya.
“Candra itu sahabat kamu Mey. Dan kalian sudah seperti saudara sendiri. Apa kamu tidak pernah berfikir jika suatu saat nanti kalian putus kalian gak bakal bisa jadi teman layaknya sekarang.” Luna menangkupkan tangannya ke dagu. Ia memperhatikanku dengn teramat sangat. “Teman jadi pacar itu mudah Mey, tapi yang namanya pacar jadi teman itu gak bakal bisa. Sulit banget!”
Benarkah?
Untuk beberapa menit aku diam mempertimbangkan ucapan Luna.
*
Setelah percakapanku dengan Luna beberapa hari lalu aku memutuskan untuk tidak bertemu dengan Candra. Aku ingin menenangkan perasaanku terlebih dulu. Aku takut jika nanti menememuinya perasaanku semakin tumbuh padanya. Untuk itu aku memutuskan tidak akan menemuinya sampai hatiku kembali dalam keadaan tenang.
Satu hari, dua hari, tiga hari aku masih bisa menahan rinduku padanya. Aku masih bisa tidak menemuinya. Namun setelah seminggu kemudian aku merasakan seperti ada yang hilang dari diriku. Tidak mendengar canda dan tawa Candra sehari saja rasanya hidupku terasa hambar. Ah, aku benar-benar tidak bisa kehilangan dirinya.
 Setelah seharian bertempur dengan fikiranku aku memutuskan untuk menemui Candra di kantin kampus seusai mata kuliah. Akan kutanyakan padanya tentang sesuatu yang mengendap di hatiku.
“Ada yang ingin kutanyakan padamu Candra,” ujarku menatap Candra yang sedang menyeruput teh manis di tangannya.
 “Kita sudah lama saling mengenal Mey. Mau nanya doang kenapa harus minta izin segala,” jawab Candra diselingi candaan.
“Aku tidak sedang bercanda, Candra,” kali ini kupasang wajah seserius mungkin. “Ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu.”
“Oke! Tanya saja,” Candra menggeser gelas ditangannya.
Aku menarik napas pelan. Tidak perlu waktu lama untuk menunggu sebuah pengungkapan. Jika Candra tidak berani mengatakan isi hatinya maka aku yang akan menanyakan secara langsung padanya. “Apa kamu menyukaiku?” ujarku. Kukuras semua keberanianku untuk mengungkapkan apa yang kurasakan selama ini.
Candra melotot. Mungkin dia belum percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan.
“Kenapa? Apa aku harus mengulanginya sekali lagi?” tanyaku.
 Candra masih tetap diam.
“Baiklah, akan kuulangi sekali lagi. Apa kamu menyukaiku Candra?” ulangku. Aku berharap penjelasanku kali ini Candra tau apa maksudku.
“A.. aku!” jawab Candra terbata.
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
Candra tiba-tiba meraih tanganku. “Dengar Mey, aku memang menyayangimu tapi tidak mencintaimu.” Candra berhenti sebentar. Ia memperhatikanku sangat dalam. “Aku mencintai wanita lain, Mey.”
“Kamu... kamu mencintai wanita lain?” mataku terasa perih sekali. Jantungku berdetak tidak karuan.
Candra mengangguk.
“Jadi... selama ini?” aku benar-benar tidak sanggup melanjutkan kalimatku. Rasanya sakit sekali jika harus mendengar penjelasan darinya. Bukankah selama ini Candra slalu memberikan perhatian yang lebih padaku? Bukankah Candra slalu menjadikanku wanita nomor satu dimanapun? Candra tidak pernah membicarakan wanita lain saat bersamaku. Dan sekarang? Saat kuucapkan cinta padanya dia malah mengatakan ada wanita lain yang dia cintai. Benar-benar menyakitkan.
“Selama ini aku hanya menganggapmu sebatas teman saja, Mey. Aku menganggapmu seperti saudara sendiri.”
Kutarik tanganku dari genggamannya. Jadi? Oh God,  sakitnya tuh disini...! Kutekan dadaku yang terasa perih.
“Siapa wanita yang berhasil menaklukan hatimu, Can?” tanyaku. Aku tau aku akan semakin terluka dengan pertanyaanku.
Candra berfikir untuk beberapa detik lalu kemudian tersenyum. “Aku mencintai, Luna.”
Apa? Luna? Ah, aku pasti salah mendengar. “Luna?” ulangku. “Luna siapa maksudmu, Can?”
“Luna sahabat kamu, Mey. Aku menyukainya saat kamu mengenalkanku padanya. Dan semenjak itu aku mulai mencintainya.”
 Candra mencintai Luna? Luna sahabatku? Sahabat yang kuanggap seperti saudara sendiri. Tidak... tidak mungkin. Candra pasti sedang bercanda.
“Kamu pasti bercanda, Candra?” tanyaku. Aku berusaha menahan bendungan air mataku yang mulai jatuh. Aku tidak boleh menangis hanya karna masalah cinta.
“Aku tidak bercanda, Mey. Aku serius.”
“Oke, baiklah!” jawabku. Aku berdiri ingin meninggalkan Candra sendiri.
“Maafkan aku, Mey.” Candra berusaha menenangkanku. Dia pasti tau apa yang sedang berkecambuk dihatiku. “Tolong, jangan pergi Mey, dengarkan penjelasanku dulu.”
Aku kembali duduk. Sebaiknya aku mendengarkan penjelasan dari Candra. Toh, menghindar bukanlah solusi yang tepat.
“Kamu marah padaku, Mey?” tanya Candra setelah beberapa menit aku diam.
 Aku menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Candra. Yang jelas aku sudah jujur padamu tentang perasaanku.” Aku tersenyum kemudian memalingkan wajahku darinya. Bagaimanapun aku harus tegar dihadapannya. Aku tidak ingin terlihat lemah. Tiba-tiba perkataan Luna terngiang-ngiang di telingaku. Luna melarangku untuk mencintai sahabat sendiri dan kuakui dia benar. Aku terluka dengan perjalan cintaku yang belum di mulai namun yang lebih menyakitkan Candra mencintai Luna. Mereka berdua adalah sahabat terbaikku yang slalu ada untukku.
“Mey...” Candra memanggil namaku.
Kutatap Candra. Dia tersenyum namun senyum itu bukanlah senyum yang sama layaknya dulu. “Apa Luna tau perasaanmu?” tanyaku penasaran.
Candra mengangguk. “Kami sudah jadian, Mey. Seminggu yang lalu.”
Seminggu yang lalu? Itu artinya Luna jadian dengan Candra setelah beberapa hari kukatakan pada Luna kalau aku menyukai Candra. Setega itukah kamu padaku, Luna? Kamu pura-pura baik padaku dengan mengatakan kalau kamu tidak setuju jika aku jadian dengan Candra namun nyatanya kamu mengkhianatiku. Kamu jahat, kamu benar-benar bukan sahabat melainkan musuh dalam selimut.
“Aku yakin suatu hari nanti akan ada laki-laki yang baik hati datang padamu, Mey.”
Entahlah... sepertinya aku akan mengunci hatiku untuk sementara waktu.





*Cerpenku yang harusnya sudah dikirim eh malah salah alamat :( 
Mungkin belum rezeki :)



Selasa, 04 November 2014

Kutinggalkan dia karna Dia



Laki-laki itu datang layaknya semilir angin yang berhembus lalu menghangatkan jiwaku yang kelu. Laki-laki itu datang layaknya pelangi yang mewarnai hidupku yang abu. Laki-laki itu datang layaknya pecandu yang membuatku semakin rindu. Laki-laki yang istimewa bahkan lebih dari segalanya. Laki-laki yang slalu memberikanku senyum saat terluka. Laki-laki yang membuatku tertawa ketika sedang gundah. Laki-laki  istimewa yang membuatku semakin bangga mengenalnya. Laki-laki yang tampil apa adanya yang slalu ada kapanpun dan dimanapun aku berada. Laki-laki yang tabah dan penuh semangat. Laki-laki dengan kesederhanaannya. Laki-laki yang mencintaiku apa adanya. Namun, laki-laki istimewa itu semakin lama semakin tidak terlihat istimewa. Laki-laki itu semakin terlihat biasa saja. Kau tau mengapa? Karna aku menemukan pencuri hatiku yang sesungguhnya. Bukan laki-laki itu melainkan Dia. Dia yang telah mencurinya hingga aku memutuskan untuk meninggalkan cintainya dengan segenap kemampuanku.
*
            Masih ku ingat awal perkenalam kita dulu. Dengan kedua bola matamu yang sipit serta tawamu yang terdengar melengking aku sempat berfikir bahwa kamu adalah laki-laki yang berbeda.  Yah, berbeda dalam segala hal. Dan malam itu, dengan berbagai rayuan kau mengajakku menikmati bintang di taman. Akupun mengikuti pintamu.  
“Uhibbuki...” ujarmu padaku malam itu. Setangkai mawar merah kau ulurkan tepat berada dihadapanku.
Antara yakin dan ragu dengan pendengaranku, kuperhatikan wajahmu yang malu-malu. Rona merah di pipimu membuatmu terlihat lucu.
“Kamu tidak suka mawar?” tanyamu membuyarkan lamunanku.
Ku perhatikan wajahmu dengan teramat sangat. “Aku mau mendengar ucapanmu sekali lagi,” pintaku tanpa memperdulikan padanganmu. Ku lihat kau menunduk. “Aku mau mendengar sekali lagi,” ulangku.
“U... U... uhibbuki,” dengan terbata kau mengeja perkataanmu. Ah, begitu lugunya dirimu malam itu.
“Sejak kapan kamu menyukaiku?” tanyaku. Sebagai wanita tentu saja aku penasaran mengapa dia mencintaiku, kenapa dia memilihku.
“Aku tidak memiliki alasan yang tepat untuk menjawabnya. Yang ku tau, aku menyukaimu dan mencintaimu.” Matamu menerobosku. Mengikat sebuah aksara yang melengkung didalamnya. Lalu, aksara itu berubah menjadi butiran-butiran bewarna jingga yang hanya aku saja bisa memilikinya.
Malam itu, aku menerimamu dengan senyum manis yang terus menghiasi bibirmu.
*
Setahun lamanya aku menjalani hubungan denganmu. Suka dan duka slalu kita hadapi bersama. Kau slalu mengisi ruang hatiku yang kosong. Memberikan semangat ketika aku mulai terjatuh. Mengajakku mengitari samudra luas meski hanya lewat imajinasiku. Kau laki-laki yang slalu ada disampingku kapanpun. Kau hadir dengan segala kesederhanaanmu.
Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Pancaran dari wajahmu membuatmu tidak seperti dulu lagi. Kau asing bahkan terasa sangat asing. Ada yang berbeda darimu. Ada yang lain darimu. Ada sesuatu yang membuatmu begitu aneh dimataku. Entahlah, aku hanya merasakannya.
“Kamu terlihat aneh belakangan ini. Apa ada yang salah denganku?” tanyamu padaku. Seperti malam biasanya, kau slalu datang ke rumahku untuk mengobrol. Menghabiskan beberapa jam hanya untuk memberikan lelucon.
Aku menggeleng pelan. “Tidak ada yang aneh,” jawabku. Aku berbohong. Kenapa perasaan ini terasa hambar?
“Wajahmu berbeda dari biasanya. Apa kamu sakit?” kau mendekatiku.
“Sebaiknya kamu duduk disana saja,” aku menggeser dudukku.
“Kenapa?” tanyamu heran.
Aku tidak menjawab tanyamu.
“Bailkah,” kau mengalah dan kembali ke tempat dudukmu.
“Ada yang ingin ku katakan padamu,” aku menarik napas pelan. Kualihkan pandanganku pada minuman di hadapanku. Aku terlalu takut dengan matamu yang mencari-cari jejak kebenaran disana. “Aku... aku...” rasanya tidak sanggup lagi untuk melanjutkan ucapanku.
“Katakanlah, apa yang sebenarnya terjadi. Barangkali semua akan menjadi lebih baik kalau kamu jujur,” ujarmu padaku seakan semuanya akan menjadi lebih baik jika aku jujur.
Dosa apa yang kau lakukan hingga aku  menginginkan hal yang tak mungkin kau inginkan? Tapi aku tidak bisa memunafiki hatiku. Setiap kali aku menatapmu lautan api itu terpanjang disana. Seakan menarikku dan melahapku dalam semenit saja. Aku benar-benar takut. Aku ingin berlari dan bersembunyi agar semuanya baik-baik saja seperti sebelumnya. Sebelum aku mengenalmu.
“Apa kamu mencintaiku?” tanyaku. Aku tau itu bukanlah pertanyaan, toh aku sudah sering mendengar kau mengucapkan kata cinta setiap kali kita bertemu.
Kau mengangguk sebelum aku melanjutkan tanyaku. “Aku mencintaimu. Dan, sangat mencintaimu,” kau mengulumkan senyum padaku. Senyum yang tak pernah hilang dari bibirmu.
“Bagaimana jika seandainya ku katakan aku tidak pernah mencintaimu.” Yah, sebaiknya aku harus jujur saat ini. Tidak perlu ada yang di sembunyikan lagi.Aku tau kau pasti sangat terkejut dengan jawabanku.
“Maksudmu?” heranmu.
Aku mendengus kemudian menutup kedua mataku. “Aku tidak mencintaimu,” akhirnya kata-kata itu terucap juga. “Aku tidak pernah mencintaimu,” ku alihkan pandanganku ke luar jendela. Gemerisik angin disana seakan mengerti perasaanku saat ini. Aku... aku telah berbohong. Dan biarkan kebohongan ini menjadi jalan yang terbaik.
“Jadi?” kau menatapku.
Aku mengepal tanganku. Detak jantungku semakin tak menentu. “Aku ingin mengakhiri hubungan ini, Wan. Aku ingin sendiri seperti dulu.”
“Mengakhiri? Maksudmu?” kau masih belum percaya.
“Kita putus, Wan.” Ku beranikan menatap matamu.
“Tapi kenapa? apa slama ini aku memiliki salah, Lia? Kenapa denganmu? Apa yang terjadi?” kau mendekatiku. Mencoba menepis apa yang telah terjadi.
“Tolong, jangan mendekat, Wan.” Aku menjauh.
“Oke,” Ku lihat kau menuruti apa yang baru saja ku katakan.
“Aku tidak ingin semakin terpuruk pada perasaanku, Wan. Kau tau? Semakin aku mencintaimu perasaanku semakin hampa. Aku tidak bisa menemukan siapa aku. Dan, terlebih lagi aku semakin lupa pada Tuhan-ku,” pandanganku menerawang pada daun yang di tiup angin di luar sana. Hujan mulai jatuh membasahi bumi. Layaknya membasahi jiwaku yang semakin tandus.
“Sungguh, Lia. Aku benar-benar mencintaimu. Bahkan sedikitpun perasaan ini tidak pernah berubah, tapi kenapa denganmu? Apa cintaku salah?”
“Tidak,” tepisku. “Aku sudah mengatakan alasannya tadi, Wan. Aku... aku semakin lupa pada diriku dan juga Tuhan-ku jika harus terus bersamamu.” Ku harap kau mengerti dengan semua penjelasanku.
“Tapi..?”
Ku alihkan pandanganku darimu. Robbi... adakah jalan lain yang bisa ku tempuh untuk menjauhkan laranganmu? Aku tidak ingin semakin mendekat lagi pada keterpurukanku. Aku tidak ingin kembali pada diriku yang terperangkap pada cinta semu. Pada diriku yang tidak pernah ku tau siapa aku. Dan terlebih lagi jika terus bersamanya aku semakin lupa siapa aku. Masih ku ingat saat bersamanya, aku tidak malu jika dia menggenggam jemariku di keramaian. Aku tidak malu ketika tangannya merangkul pinggangku. Aku terlalu khawatir kehilangannya saat tidak bersamaku. Ketika tidak mendengar kabarnya aku merasa cemburu. Aku ingin slalu bersamanya. Hingga suatu hari, Andi—sahabatku di SMA dulu meneleponku. Dia memberiku berbagai nasehat yang membuat hatiku terketuk.
“Lalu apa pendapatmu, An?” tanyaku pada Andi setelah menceritakan semuanya. Dia memang sahabat yang slalu mendengar ceritaku. “Apa aku harus putus?”
“Keputusanmu ada di tanganmu, Lia. Aku hanya mengingatkan pelajaran di sekolah dulu. Waktu kita masih di Pondok. Kamu pasti masih ingat dengan nasihat ustad Usman. Jangan pacaran, sebab pacaran itu mendekatkanmu pada zina. Dan zina itu banyak mudorotnya,” ujarmu mengingatkanku pada kenangan dua tahun lalu. Saat itu aku adalah sosok santri teladan yang tidak pernah melanggar aturan. Tapi kini aku bukanlah santri itu, aku telah menjadi orang lain. “Ya sudalah, aku tidak ingin berbicara terlalu panjang takutnya kamu malah bosan.” Andi seperti seorang ustad baru yang slalu membuatku tersentuh.
“Trimakasih, An. Kamu slalu memberi celah baik ketika aku sedang kebingungan.”
            “Sama-sama, Lia. Dan kuharap kamu mengerti maksudku,” Andi kemudian memutuskan teleponnya.
            “Ada apa denganmu, Lia?” suara itu mengagetkanku. Ku lihat sosok itu masih berada disana, tepat dihadapanku.
            “Mafkan aku, Wan. Aku tidak bermaksud menyakitimu,” terangku menunduk.
            “Kamu sama sekali tidak menyakitiku, Lia. Tapi jujur, aku masih tidak percaya dengan apa yang kamu katakan. Hubungan yang telah kita bina setahun ini gugur sudah.  Aku bahkan sudah merencanakan sesuatu yang indah denganmu kedepannya nanti. Semua percuma, Lia. Percuma karna kamu telah memutuskan harapanku,” kau menatapku sengit. Sengumpal kemarahan terpancar dari matamu yang memerah.
            “Tapi...” aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.
            “Baiklah,” ujarmu akhirnya. Kau berusaha seolah semua biasa saja.
            “Aku tau kamu pasti marah padaku, Wan,” jelasku.
            “Aku tidak marah padamu, Lia. Aku hanya kecewa padamu. Tapi bagaimanapun aku tidak bisa menuntutmu untuk terus mencintaiku. Aku akan mencoba menerima keputusanmu. Dan... trimakasih untuk kebersamaan selama ini. Maafkan aku karna telah menggangu waktumu. “
Ku  lihat kau beranjak dari tempat dudukmu kemudian meninggalkanku. Dengan langkahmu yang tertatih aku bisa  merasakan bagaimana terpukulnya dirimu. Kau meninggalkanku tanpa senyum layaknya dulu yang slalu kau berikan padaku. Kau pergi dan mungkin takkan pernah menghampiriku lagi.
“Maafkan aku,” tubuhku terjatuh di atas kursi.
*
Setahun kemudian..
Aku masih disini. Di tempat yang sering kita kunjungi, namun kini aku sendiri. Tiada lagi ada kamu disisi yang menemani. Candamu tidak terdengar lagi, tawamu hilang menjadi sepi. Semua terasa hampa bahkan sangat hampa sekali. Semenjak malam itu, aku tidak pernah mendengar kabar darimu lagi. Tidak ada sms atau tlepon yang berdering setiap harinya. Tidak ada lagi kamu yang datang menghamipirku setiap harinya. Tidak ada lagi kamu yang slalu memberiku mawar serta seuntai bahasa penyejuk jiwa. Tidak... kamu benar-benar tidak ada lagi.
Bukan ku menyesal kehilanganmu. Bukan juga ku bersedih tanpa kamu. Namun terkadang aku berfikir, masihkah kau ingin mengenali sosok sepertiku? Sosok sahabat tentunya. Aku tidak ingin ada dendam di antara kita. Aku juga tidak ingin ada amarah di antara kita. Aku hanya ingin semuanya baik-baik saja. Sama seperti sedia kala.
Kau tau? Malam ini aku melihat bulan purnama melalui tempat ini. Purnama ynag mengingatkanku pada perkenalan pertama kita. Saat itu kau mendatangiku dengan setangkai mawar di tanganmu lalu kau ucapkan cinta padaku. Kenangan yang membuatku tertawa jika mengingatnya. Tapi ya sudahlah, aku sudah ingin mendekatkan diriku pada Pencipta-Ku sekarang. Jika terus mengenangmu aku takut hatiku kembali di gerogoti nafsu yang membelenggu. Aku takut jiwaku kembali jatuh pada tempat yang salah. Maka dari itu lebih baik kudiamkan saja. Bukankah jika menyukai seseorang jika memendamnya adalah jihad? Dan andai saja kau masih menyukaiku maka pendamlah perasaanmu. Aku yakin itu lebih baik.
Pandanganku beralih pada sebuah buku dan handphone di sampingku. Aku meraih handphon tersebut dan mencari nama seseorang disana.
“Assalamu’alaikum...” ujarku setelah mendengar seseorang menjawab panggilanku.
“Wa’alaikumussalam,” suara itu menjawab.
Aku menarik napas sebentat. Suara itu masih sama seperti dulu. “Apa kabar, Wan?” tanyaku.
“Alhamdulillah baik. Bukankah ini, Lia?” kau seperti tidak yakin kalau aku sedang menghubungimu.
Ku dengar suara itu lebih teduh dari sebelumnya. Laki-laki itu pasti jauh berbeda sekarang. “Alhamdulillah, semuanya baik,” jawabku. Ku perbaiki posisi dudukku. “Apa aku mengganggumu?” tidak enak rasanya menelpon malam begini. Dan sungguh, ini hal yang belum pernah ku lakukan setelah kami berpisah.
“Tidak, sama sekali tidak.” Kau diam sebentar lalu melanjutkan kata-katamu, “sudah lama tidak mendengar suaramu, Lia. Dan ternyata masih sama. Ah, tidak, aku salah. Kamu semakin dewasa,” tuturmu.
Oh ya? Benarkah?
“Itu do’a yang bagus dan akan ku aminkan,” jawabku. Ku dengar kau tertawa di seberang sana. “Apa kegiatanmu sekarang, Wan?” tanyaku penasaran.
“Aku masih dengan aktifitasku, Lia. Mengajar mengaji untuk anak didikku setiap malamnya dan rutinitas kuliah setiap paginya. Alhamdulillah semuanya menyenangkan bahkan sangat menyenangkan dengan melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat lagi. O ya, do’akan aku bulan depan aku akan wisuda.”
Tentu saja, jika di bandingkan dengan menghabiskan waktu bersamaku dulu kegiatan saat ini jauh lebih baik dan aku tau itu. “Semoga segala sesuatunya di lancarkan,” do’aku untukmu.
Beberapa menit kau dan aku diam.
“Oh ya, bagaimana dengan kegiatanmu, Lia?” tanyamu mencairkan suasana.
“Alhamdulillah, aku masih kerja di tempat dulu dan kuliahku juga baik-baik saja,” jawabku. Tentunya semua terasa begitu indah. “Apa kamu masih marah padaku, Wan?” dengan hati-hati aku menanyakannya. Sebenarnya aku tidak ingin mengungkit kejadian dulu tapi bagaimanapun aku ingin tau apakah kau masih marah padaku.
“Aku tidak pernah marah padamu, Lia. Bahkan aku sangat bertrimakasih. Karnamu aku bisa belajar lagi. Aku akui, awalnya aku memang marah dan kecewa tapi sekarang tidak. Semuanya malah biasa-biasa saja.”
Aku mendengus napas. Sesuatu yang membuat dadaku sesak telah menghilang. Aku yakin, semuanya akan menjadi normal kembali. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Wan. Kamu tau? Allah menyayangi hambanya sehingga dia mempertemukan kita dengan jalan yang tidak di sangka-sangka. Dan perpisahan dulu anggaplah itu sebuah awal hidayah untuk memperbaiki diri kita masing.-masing. Dan, aku bahagia mengenal sosok sahabat sepertimu. Trimakasih karna telah mengenalku dan memaafkan perbuatanku sebelumnya.”
“Sama-sama, Lia. Kita bisa saling belajar, bukan?” ujarmu.
Aku tersenyum. Ku raih buku di sampingku kemudian menulis sesuatu disana.

Dear God,
Tanpa-Mu betapa angkuhnya jiwaku yang rapuh
Tanpa-Mu kerasnya hatiku yang beku
Dan karna-MU sepiku menjadi rindu            
           


            
*Harusnya sudah di kirim tapi ya belum riski. So keep smile forever.

*True Story*

Senin, 03 November 2014

Diary Pink



Aku menarik sebuah buku bewarna pink didalam tumpukan buku. Diary pink itu masih ada disana. Diary pink pemberian seorang sahabat sewaktu ulang tahunku dulu. Diary yang mengingatkanku pada kisah silam. Diary itu sudah menemani sepiku setiap harinya.
            “Kamu pasti menyukainya, Ra.” Tara mengulurkan sebuah buku bewarna pink padaku di waktu ulang tahunku yang ke-18. Itu pasti diary.
            Aku meraih diary itu dari tangan Tara. “Darimana kamu tau kalau aku menginginkan diary ini?” heranku.
            “Fikri yang menceritakannya padaku,” Tara berbisik pelan di telingaku.


            Fikri, laki-laki yang ku taksir semenjak kelas satu SMA sampai saat ini tau warna kesukaanku? Juga diary yang sekarang berada ditanganku. Aku menyukai Fikri dengan semua kesederhanaan serta senyum manis di bibirnya.  
            “Tapi aku sama sekali tidak pernah memberitahunya kalau aku menyukai diary ini?” lanjutku masih heran.
            “Itu karna dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu,” Tara—sahabatku yang menjadi tempat curhatku slama ini menyunggingkan senyuman.  
            Benarkah? Aku tidak bisa menahan rasa bahagiaku. Ku lihat Fikri yang duduk di sebelah pojok ruangan. Mataku sesekali mencuri pandang kearahnya. Fikri menatapku, mungkin sadar apa yang sedang kulakukan. Ah, aku seperti kucing yang tertangkap basah sedang mencuri seekor ikan di atas meja makan. Karna malu aku memalingkan wajahku ke kue tart di atas meja.

            “Selamat ulang tahun, Ra” Fikri sudah berdiri di hadapanku.  Laki-laki yang dengan senyum sumringahnya mengulurkan tangan padaku. Aku menyambut tangnya kaku. Ada getaran yang berkecambuk di dadaku. Sejenak ku beranikan menatapnya. Dia... aku bisa menangkap dari matanya dia juga menyukaiku.