Rabu, 08 April 2015

Hujan Pukul Satu



Kali ini langit masih sama
Udara dimana-mana menjadi penyeruak jalanan
Berteduh di tempat biasapun percuma
Kerna kering kerontang yang akan di dapat

Pada langit yang juga gelap
Hujan mulai turun di perbatasan jalan
Becek, kotor dan berbau amis
Tak ada wewangi yang menyengatkan hidungku yang belang

Tengah dua belas berlalu
Sudah jelang siang dengan matahari di atas kepala
Keramas kepala di buatnya
Panas dan tak bisa dipenjarakan

Angin kembali berlalu
Membawa hujan pukul satu
Setapak jalananku di buatnya kelu
Aku terpaku lagi dalam bisu

Hei!
Kau tau?
Aku mencoba menghapus alur yang di terpa beling-beling di atas pagar kantorku
Tapi tetap saja tak bisa Tuan

Dan kuhapus sedikit petasan hujan di luar ruangan
Berharap sisanya tak menghapus senyuman
Kerap juga langkah yang tak akan kubiarkan berjalan
Agar tetap bersemayam dalam ingatan

Namun percuma Tuan
Aku tak bisa



jakarta, 09 April'15



Just Happen




“Apa kabar kak?” sebuah pertanyaan yang menurutku basi dan benar-benar basi. Tapi kali ini aku benar-benar bingung memulai percakapan dari mana. Setahun tidak pernah berkomunikasi membuat jarak di antara kami terasa aneh. 

“Alhamdulillah baik. Lya apa kabar?”

Suara itu masih sama. Hanya ada sedikit yang berbeda. Ataukah mungkin sekedar perasaanku saja.

“Baik juga kak,” jawabku. Kutarik napas berlahan kemudian menghembuskannya lebih pelan.

Pukul 22.30 Wib tadi HP di samping tempat tidurku berdering. Dengan mata yang masih mengantuk aku berusaha meraihnya. Sekian detik kudengar suara yang dari tadi kujawab terasa aneh. Ini bukan suara laki-laki itu, bukan. Lalu siapa? Kuperhatikan nomor di layar. Nomor baru. Tapi tunggu? Bukankah dia? Astagaaa... kak Wan. Sosok laki-laki yang pernah mengisi relung hatiku tiga tahun dulu. Dia menghubungiku?

“Hei, kuliah dan kerjamu lancar?”

Aku bangkit dari lamunan. “Lancar. Alhamdulillah semuanya lancar,” jawabku memperbaiki posisi. “Kok ribut ya kak. Kakak lagi dimana?”

“Masih di tempat kerja Lya.”

“Tempat kerja? Loh, kok malam?”

“Biasa. Aku sekarang jadi laki-laki karir,” jawabnya tertawa. Membuat suasana di antara kami semakin cair.

Aku ikut tertawa. “Aih, ada-ada aja. Aku yang wanita karir dan sudah punya pengalaman dibanding kakak biasa aja,” pungkasku sedikit menahan tawa.

“Kakak sifh malam Lya. Jadi pulangnya agak larut malam. Di sini juga masih ramai, ribut.”

Suara itu... aku seakan masuk ke dalam dimensi lalu. Aku yakin sosok itu sudah banyak berubah dari dulu.

“Apa kakak masih marah padaku?” Ya, ini pertanyaan yang sudah lama ingin kutanyakan. Apa dia masih membenciku? Kutarik guling di dekatku kemudian memeluknya. Kurasakan angin di ruangan semakin panas. Aliran darahku semakin melaju. Aku bukan takut, sungguh. Hanya saja aku tidak ingin dia terlalu membenciku.

“Marah?” tanyanya menakan kata-kata.  

“Kita sudah menjadi masa lalu kak. Tidak perlu menanam rasa benci terlalu lama bukan? Aku memang salah, tapi setidaknya bukan aku saja yang merasa salah. Itu sudah keputusan dan bagaimanapun kita harus menghargainya.”

“Aku tidak pernah menyalahkanmu Lya. Semua sudah brlalu, setidaknya begitu. Dan aku malah senang kau masih ingin menjawab telponku.”

Aku tertawa pelan. Dulu, setelah putus aku memang tidak pernah menjalin komunikasi dengannya. Bahkan aku benar-benar benci bila mengingat namanya.

“Sudahlah kak, untuk apa mengingat masa lalu,” pungkasku. Aku tidak ingin larut lagi ke dalamnya. “Oh ya kak, kalau ada waktu mainlah ke tempatku, tapi jangan lupa bawa makanan ya, hehe...” Aku tertawa. Mengubah suasana lebih baik agar tidak merasa canggung.

“Makanan?”

“Aih, sudahlah! Kali ini aku yang minta. Biasanya aku gak pernah minta.” Jujur saja, sewaktu bersamanya dulu aku memang jarang minta ini itu. Bukan karna malu tapi harga diri lebih utama menurutku.

“Nanti ya, kalau ada waktu luang aku bakal main ke tempatmu sekalian silaturahim.”

“Aku bercanda kak jangan terlalu serius. Tapi kalau kakak mau main silahkan. Aku tunggu,” ujarku.

“Iya, aku tau Lya.”

Beberapa menit suasana menjadi hening. Aku lebih banyak diam. Rasanya ini memang aneh. Aku berharap setelah malam ini suasana di antara kami akan jauh lebih baik lagi.

“Aku tidur dulu ya kak. Besok pagi aku harus bangun pagi-pagi untuk kerja. Salam untuk Ibu, tolong katakan padanya aku merinduinya.”

“Iya, insha Allah. Nanti kakak sampaikan.”

Dan malam semakin menjelajahi separuh napasku. Seiring detak jantung yang kian menggebu bersama udara di sekelilingku. Dia... laki-laki yang baik yang pernah hadir. Dia... laki-laki yang baik yang berhak untuk mendapat yang lebih baik. Dia... semoga kelak menjadi lebih baik lagi.

Kupejamkan mataku bersama iringan musik yang slalu kuputar melalu HP kesayanganku.




Jakarta. 07 April’15










Selasa, 24 Maret 2015

Kau tau?







Kau tau mengapa aku suka sekali dengan menulis? Menulis adalah sebagian dari perjalanan hidup. Yang tak perlu di dengarkan orang lain. Tak perlu di komentari orang lain. Cukup berkeluh kesah serta memuntahkan semua yang terjadi di dalam otak. Tak akan ada yang mengeluh dan marah. Tak ada seorangpun yang akan memakimu. Tak seorangpun, aku yakin.

Menulis seperti mengikuti setiap gerak-gerik hati. Ya, karna menulis adalah isi hati. Tak ada yang lebih jujur selain tulisan. Ia slalu menerima muntahan isi perutmu, ocehanmu, amarahmu, bahagiamu, sedihmu, senangmu, segala sesuatu yang berkaitan dengan hidupmu. Sungguh, takkan pernah membencimu.

Tidak dengan yang lain, terkadang mereka menerima ucapanmu, mengiyakan, memberi masukan namun diam dan pelan ia menghunuskan pisau di punggungmu. Kau... bisa jadi korban yang kesekiannya.

Menulislah! Sebab tulisan tidak akan pernah hilang sepangjang zaman.







Jakarta, 25 Mar’15


Kekasihku




Kekasihku...
Tidakkah kau rasakan basah tanah di tempatmu karna gerimis hujan sore ini? Membawa sejuta percikan rindu yang kukayuh bersama dermaga biru. Di sana, di sudut kota yang penuh dengan para pecundang serta musisi jalanan.

Kekasihku...
Tidakkah kau rasakan kerasnya angin di sore ini? Saling berebut mencari tempat tuk menghampiri. Menyampaikan kisah rindu yang kusimpan rapat di dadaku. Beserta gerakan irama bersambut siulan angin malam. Kemarilah... kita dawaikan angin yang mulai menepi di penghujung senja. Akan kuajari kau bagaimana namanya bercinta dengan ritma.

Kekasihku...

Tidakkah kau rasakan siulan merpati di kotamu? Nadanya pelan menghantarkan melodi di ujung cerita rindu. Kukatakan aku merinduimu tanpa sebab musabab yang dikatakan orang percuma. Tapi, taukah kau kekasihku? Di antara sore yang beranjak malam serta berganti pagi ada sebuah cerita yang diam-diam kusembunyikan sebelum fajar menghampiri. Kukutipkan di secarik kertas di atas kanvas hidupku. Di dalam setiap munajat do’aku, kupinta pada Tuhan agar kelak kau membawaku pada tempat yang di sebut sebagai singgasana mahligai indah. Kelak, di sana kita akan bebas terbang serupa pasangan merpati yang bergurau sepanjang hari.

Kekasihku...
Sore ini, dengan aroma tubuh bumi yang di basahi angin serta sisa hujan tadi. Ku do’akan dirimu menjadi pertama dalam dekapan hidupku. Menjadi sosok pemberi semangat setiap kala kuterjatuh. Semoga Tuhan slalu melindungimu dalam hari.

Aku dan sejuta rindu di kota padat kini menantimu. I miss you :)




Jakarta, 23 Mar’15


Hujan di Akhir Maret





Kututup lebih rapat pintu yang melindungi kamarku dari dingin yang menarik-narikku sejak pukul lima sore tadi. Berharap angin yang mulai menerobos dedaunan di depan rumah tetanggaku takkan terbang singgah ke depan teras. Selang lima menit, kutarik sebuah jaket yang tergantung di belakang pintu dekat kamar tidur lalu kueratkan keseluruh tubuhku. Kenapa angin di luar sana seakan masih mampu menguliti tubuhku? Menjalarkan dingin yang membuat tubuhku serasa berada di bawah nol derjat celcius.

Kurapatkan tubuhku kedinding. Kupeluk kedua lututku dengan tangan kosong lalu menenggelamkan kepalaku di dalamnya. Ada yang lebih dingin di banding angin yang kini berganti dengan hujan di luar sana. Ada yang lebih dingin dan pekat di banding hujan serta guntur yang bersahutan di luar sana. Ada. Sesuatu yang menerobos kulit ariku lalu berlahan mengalir lewat darahku dan bercampur dengan napasku. Sesuatu yang membuatku terasa semakin sesak dan sakit. Kucoba menahan kepalaku lama di atas lutut. Aku ingin berlama-lama melakukan hal ini. Aku ingin menahan dadaku yang sesak di dalamnya. Aku ingin sekali menenggelamkan dengan apa saja agar sesakku segera hilang.



Dua jam berlalu namun hujan tak kunjung reda. Bukankah akhir Maret tak pernah berakhir dengan hujan? Hujan slalu berakhir di akhir tahun. Dan semua akan kembali di hiasi terik matahari. Kugeser sedikit penutup jendela kamar yang menghalangi pemandangan. Hujan masih saja belum bersahabat. Sekarang hanya ada aku dan sepi. Tak ada yang ingin menemani selain hujan di sana. Kuraih tas lalu mencari benda yang slalu kubawa kemanapun. Kosong. Tak ada pesan, tak ada BBM tak ada panggilan. Akhir bulan slalu saja berhasil membuatku galau. Dan kata-kata bodoh slalu menjadi kutukan tersendiri buatku. Dasar! Umpatku kecil.



Kau tau Maret?
Satu bulan sebelum kau datang seolah menjadi kenangan tersendiri bagiku. Februari namanya. Bulan dengan Valentine di dalamnya. Dan para remaja seusiaku atau mungkin di bawahku juga di atas umurku slalu menyukainya. Tapi tidak denganku, sungguh. Tentu saja alasan yang tepat karna aku adalah seorang muslimah dengan jilbab yang masih merekat di kepalaku. Meskipun sebenarny aku masih jauh dari kata baik, tapi setidaknya untuk aturan agama aku masih tau untuk menjalankannya. Ya, begitulah sekiranya. Dan alasan yang lain aku tidak ingin menyebutnya. Sungguh! Mengingatnya sama halnya dengan merebus udara di sekeliling dan berubah menjadi racun mematikan. Dan aku benci setiap kali mengingatnya.

Ferbruari dan Maret. Dua bulan yang masih saja ingin melaju dengan hujan. Hujan dengan genangan air mata di dalamnya. Hahahaha... aku tertawa boleh? Hei, jangan ledek aku dengan sebutan orang bodoh karna yang mengataiku bodoh hanya aku seorang dan aturan yang lainnya telah kutulis dengan kata, ‘not for other.’ Baiklah, kembali ke hujan. Hujan yang belum juga reda dengan kilat yang bersahutan di atasnya. Barangkali ia ingin balas dendam dengan sebutan banjir di dalamnya.

 Kau tau Maret? Ini sudah akhir. Aku ingin mengakhiri bulan di dalamnya dengan sebutan April. April dengan kelahiran tanggal baru. Dengan kelahiran semangat baru. Dengan kelahiran nuansa baru. Untuk itu Maret, jangan menangis lagi. Tutuplah bulan ini tanpa hujan di dalamnya. Tanpa gemerisik langkah yang di derai gemercik langkah indah. Tetaplah menjadi Maret dalam doa nan tanpa sisa air mata.

Selamat akhir Maret hujan di akhir Maret.




Jakarta, 23 Mar’15









Rabu, 11 Maret 2015

The Heart Wants What It Wants







You got me sippin' on something
I can't compare to nothing
I've ever known, I'm hoping
That after this fever I'll survive
I know I'm acting a bit crazy
Strung out, a little bit hazy
Hand over heart, I'm praying
That I'm gonna make it out alive

The bed's getting cold and you're not here
The future that we hold is so unclear
But I'm not alive until you call
And I'll bet the odds against it all
Save your advice 'cause I won't hear
You might be right but I don't care
There's a million reasons why I should give you up
But the heart wants what it wants

You got me scattered in pieces
Shining like stars and screaming
Lightening me up like Venus
But then you disappear and make me wait
And every second's like torture
Hell over trip, no more so
Finding a way to let go
Baby baby no I can't escape

The bed's getting cold and you're not here
The future that we hold is so unclear
But I'm not alive until you call
And I'll bet the odds against it all
Save your advice 'cause I won't hear
You might be right but I don't care
There's a million reasons why I should give you up
But the heart wants what it wants (x4)

This is a modern fairytale
No happy endings
No wind in our sails
But I can't imagine a life without
Breathless moments
Breaking me down down down

The bed's getting cold and you're not here
The future that we hold is so unclear
But I'm not alive until you call
And I'll bet the odds against it all
Save your advice 'cause I won't hear
You might be right but I don't care
There's a million reasons why I should give you up
But the heart wants what it wants (x4)

The heart wants what it wants baby






Selasa, 24 Februari 2015

Pada Detik Ke Tiga





Pada detik ke tiga, aku jatuh cinta pada warna yang kausebut sebagai senja. Pada warna marun yang menjadikannya tiada menjadi ada. Aku jatuh cinta padanya.

Pada detik ke tiga, aku jatuh cinta pada warna yang kausebut sebagai senja. Pada warna marun yang menjadikannya tiada menjadi sempurna. Aku jatuh cinta padanya.

Pada detik ke tiga, aku jatuh cinta pada warna yang kausebut sebagai senja. Senja yang merona dengan kilaunya yang hampir sempurna. Tanpa cacat sedikitpun, tanpa luka sedikitpun. Aku jatuh cinta padanya.
Pada senja yang menghampiri malam. Pada senja yang menyemburatkan percikan kilauan emasnya ke seluruh jagat raya. Aku jatuh cinta padanya.

Pada senja yang menghangatkan sukma. Pada senja yang bisa kau raih di pucuk gunung di perbatasan Sahara. Aku jatuh cinta padanya. Pada warna yang tak lagi sepekat mentari yang menyiratkan panasnya. Pada warna kemilau nan memekatkan prahara.

Pada detik ke tiga, aku jatuh cinta pada warna yang kau sebut sebagai senja. Pada pekatnya, meski kutau senja yang kau maksud akan kembali pada malam berikutnya. Pada malam yang kemudian menghadirkan pagi, lalu kembali bertemu bersama mimpi. Tak mengapa, aku tetap suka senja. Senja yang menghantarkan pelangi pada kelopak mataku yang binarnya kian merekat dengan seonggok rasa peduli pada hati yang tersisih. Aku tetap suka senja. Senja yang kumaksud sebuah penantian antara malam yang beranjak pagi. Menunggu waktu, berputar kembali lalu bertemu lagi.

Pada detik ke tiga, aku jatuh cinta pada warna yang kau sebut sebagai senja.



Jakarta, 24 Feb’15


Senin, 23 Februari 2015

(BUKAN) RINDU MATI




Rinduku tertahan angin malam
Pada semilir rumput yang bergoyang
Pada bingkis purnama yang menghantarkan mimpi jalang

Rinduku tertahan angin malam
Pada bunyi kerincing gelang bidadari bermata sipit
Pada nyanyian yang di iringi dentingan gitar di separuh pagi

Rinduku tertahan angin malam
Pada kerlipan bintang yang tak ingin berjalan
Pada sunyi kendraan yang lalu lalang
Pada hati yang terpaut mati



Rinduku terpaut sepi
Pada perangkap hati
Pada detak jantung yang tak lagi mengalir deras
Pada sesak napas setiap kali mendengar denyut nadi

Aku tak berani beralih lagi
Pada lain hati
Pada hati yang ingin jatuh hati
Pada sepi yang membawa mati

Rinduku mati
Pada titik yang tak pernah terputus
Pada sebongkah harapan yang menjadi mimpi
Aku mati pada rindu sendiri



Jakarta, 23 Feb’15

Jumat, 20 Februari 2015

A Beautiful Lier




Sebelumnya baik-baik saja bukan? Bahkan kita masih tertawa bersama. Kita masih duduk bersama meski tidak saling berhadapan. Kita masih bercerita dengan lelucon yang sama. Kita masih biasa-biasa saja terhadap waktu. Bahkan aku sendiri ingin memutar posri waktu saat bersama.
Kau tau? Wanita mana yang tidak bahagia ketika sang pujaannya datang secara tiba-tiba dari tempat yang berbeda? Menjumpainya dengan senyuman manja serta kata-kata yang indah. Tentu saja hal itu lebih membahagiakan di banding seribu mawar, atau setangkai bunga adelwis sekalipun. Tidak ada yang melebihi bahagiaku saat itu. Namun kemudian perasaan itu luluh lantak. Menjadi puing-puing yang hancur berantakan. Sisa kepercayaan di balas pengkhianatan. Ah, kejam sekali.
“Hana? Pacar?”
Ah, dunia seperi tumpukan batu yang menghajarku saat itu. Kekuatanku roboh. Bekas-bekas senyum sehari yang lalu hilang. Bagaimana mungkin aku menyakinkan pendengaranku sendiri? Aku tidak tuli kasih, aku tidak tuli. Aku mendengar pembicaraan itu secara berlahan dan sadar. Aku mendengarnya, mencernanya. Sejahat apa aku padamu hingga kau duakan aku? Kau bagi cinta serta perhatianmu pada tiga wanita sekaligus.
Mungkin karna LDR? Oh ya? aku ingin tertawa puas. Membenci dunia burukku sendiri. Mengutuk diriku sendiri. Mengatakan pada dunia bahwa wanita ini telah tertipu untuk ke dua kali. Ya, aku tertipu kasih. Aku kau tipu, aku kau tipu dengan obralan manismu.
“Aku adeknya, kak.”
Adek? Hahaha... aku tertawa lagi. Bagaimana mungkin? Dulu antara kita juga hal yang sama, bukan? Tapi, ya sudahlah, aku tidak ingin membahas sesuatu yang berujung luka lagi. Aku ingin menenangkan hati, aku ingin menjadi biasa lagi. Seperti dulu, seperti sebelum mengenalmu.
 “Aku sayang kamu, percayalah!”
Percayalah? Aku mempercayaimu dengan semua kebohonganmu. Aku mempercayaimu dengan semua yang pernah kau lakukan padaku. Aku mempercayaimu melebihi apapapun itu. Bahkan dengan jarak yang meragukanku aku tetap mempercayaimu dengan semua kebohonganmu. Lalu mengapa kau masih melakukanku dengan hal yang sama? Hal mana lagi yang tidak pernah kukatakan padamu? Hal mana lagi yang membuatmu baik-baik saja? Apa karna aku ini jahat? Atau aku polos? Ya, aku polos dan terlalu kekanak-kanakkan pada perasaanku. Kau tau karna apa? Aku tulus mencintaimu. Aku tidak pernah merasakan hal yang sama layaknya dulu. Tidak kasih, tapi denganmu? Ah, sudahlah!
“Semuanya akan baik-baik. Aku janji.”
Janji? Tidak perlu berjanji dengan sesuatu yang tidak bisa di tepati. Sebab khilaf itu akan terjamah di antara ke kosongan. Maka katakanlah apa yang sebenarnya. Jangan di pendam, ucapkan saja.
Aku memaafkanmu, memaafkan semua yang terjadi di antara kita. Memaafkan kesalahanku karna egoku. Memaafkan semuanya. Untuk itu tersenyumlah, mari kita awali semua dengan sebuah pembelajaran tersendiri. Bagaimana menghargai hati yang lain, menghargai hati sendiri. Karna segala sesuatu tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya slalu berhikmah yang indah. Kuucapkan trimakasih padamu dalam hal apapun itu.
Bolehku katakan padamu sesuatu? Jangan pernah mengulangi hal yang sama untuk kedua kali. Jangan pernah siakan siapa yang tulus padamu, sebab kau akan tau bagaimana kehilangan setelah tiada.
Trimakasih...



Jakarta, 17 Feb’15       

Senin, 16 Februari 2015

Trimakasih



Ah gila!
Hatiku seperti di cabik-cabik, di hunus pisau lalu di garamin dan di taburi jeruk nipis. Menyakitkan sekali...
Kau datang seperti malaikat namun berjiwa iblis. Setelah kau tau aku mulai menghabiskan sisa kepingan keseriusanku lalu berlahan kau jatuhkan jiwaku menjadi batu. Dan bodohnya aku karna kelemahanku. Aku menerima tawaran indahmu, tawaran laksana kilau di perempatan jalan yang sempit kemudian menarikku di hidupmu. Lalu apa yang terjadi? Kau jatuhkan aku.

Aku gila!
Ya gila! Seperti pengemis yang mencari-cari sisa bekas makanan pada seonggok sampah. Setelah kudapatkan malah menajadi racun yang menakutkan. Ya, aku mati, hampir mati dengan segala airmata yang tersisa jua berlebih. Hidupku seperi bayangan dalam dirimu. Menampilkan semua alur yang kau setting sesuai keinginanmu. Kau puas?

Aku memaafkanmu!
Percayalah! Aku memaafkanmu. Memaafkan dengan rasa cinta yang masih bertahan di hatiku. Memaafkan dengan segala rasa cinta yang masih melekat di hatiku. Tentu saja! namun jika kembali dan menjadikan keadaan lebih baik aku tak bisa. Sungguh, aku tak mampu. Seekor keledaipun tak ingin jatuh ke lobang yang sama untuk ke dua kali. Aku rasa kau paham itu.

Aku melepaskanmu hari ini...
Melepaskanmu bukan karna aku tak cinta. Tentu saja aku sangat mencintaimu. Namun aku ingin kau bahagia dengan sosok yang bisa membuatmu bertahan. Bukan denganku, ya tentu saja bukan aku. Karna aku tidak ingin menjadi beban dalam langkah pencarianmu. Maka pergilah! Pergilah dengan wanita yang mencintaimu. Pergilah dengan wanita yang telah meraih lenganmu di sana. Maafkan atas apa yang pernah kuperbuat. Atas sikapku yang keras, atas watakku yang hanya ingin kau menjadi milikku tanpa ada kedua, ketiga atau lainnya. Maafkan aku...

Aku mencintaimu...
Sungguh! Namun biarlah cinta yang kumiliki kurekat erat di hatiku sebagai kenangan sisa air mata semalam. Trimakasih laki-laki dengan tawa yang renyah. Trimakasih untuk hal apapun itu.


Jakarta, 16 Feb’15


Denganmu Di Hujan Januari




Masihkah kau ingat sisa hujan kemaren sayang?
Saat itu kita memijaki aspal yang kokoh
Dan gemercik air menepis gelang kakiku
Jua cipratannya mengenai sisi rok panjangku

Apa kau masih ingat sisa hujan kemaren sayang?
Saat jemarimu meraihku
Lalu menggengamku tanpa ekspresi kaku
Aku tau kau tak ingin melepasku

Hujan Januari yang kita lalui malam itu
Dengan sorotan lampu jalanan
Serta malam yang kian berajak pagi
Merekat pelukan hangat secangkir kopi

Namun kenyataannya, hujan kali ini hanya sebatas bayang semu 


Katamu di hujan itu seolah melepas penat yang tersisa di sesak napasku
Mari, akan kuantarkan kau kepelabuhan
Kuajari bagaimana namanya bergaul dengan hujan
Serta meringkuhnya bersama angan

Aku di sampingmu menyapu kembali gerimis hujan yang kian pekat
Kusampaikan seonggok sapa
Diamlah hujan jangan berhenti basahi jalangnya malam
Agar kutetap merengkuh sosok kekasih yang menghangatkan kekosongan

Dan hujanpun hilang
Seiring panas yang kian datang
Kau rajut kembali genggaman
Bersama menerobos pagi yang kian menyisakan hangat bersama pelukan



Jakarta, 09 Feb’15