Jumat, 02 Desember 2016

KEMANA?



Kemana berlari hati?
Sedangkan engkau terikat mati

Kemana engkau menjauh hati?
Sedang engkau di segel mati

Sudah jalan manapun kau tapaki
Sudah perkara apapun kaulalui
Kau sudah belajar banyak makna hati
SUdah tau susah bagia itu kan makan hati

Mau kemana kau pergi hati?
Berdiam diri saja kau hati
Toh, siapapun slalu membuatmu makan hati
Lantas kau biarkan saja baik-baik hati

Kemana?
Di sini saja
Nikmati petang yang berbagi malam
Kelak kau akan temui bahagiamu


Jum'at. 02 Des'16

RAPUH



Jiwa-jiwa mana yang telah menghantam?
Raga-raga mana yang telah menangis?
Bak ombak menerjang pantai
Lalu menghantam karang di pinggir hati

Tubuh yang tertinggal
Tulang yang hampir tak berkulit
Baginya semu segala rasa
Entah apa yang melepuhkan dada

Ruh sudah ingin melayang
Jauuuhhh ...
Ingin tinggalkan raga yang tak bertubuh
Ingin tinggalkan jiwa yang tak bernyawa



Rapuh aku

Menangis aku

Tersiksa aku

Adakah yang ingin membantu?
Beribu kali kuteriakkan 
Berratus kali kupintakan
Tak ada yang mau datang

Semu

Hampa

Rapuh

Aku ingin seperti mereka 
Kekasih yang tak berkhianat
Aku ingin seperti mereka
Keluarga yang bahagia

Tak sepertiku
Kesepian 
Kesunyian
Bagaikan pelaj*r yang menanti belas kasihan


Sh*t aku benci 
Rapuh


JUm'at, 02 Desember 2016 (17;30)

HATI




Kuketuk hati
Barang kali di sana tak lagi sepi
Seperti asap yang muncul ketika ada api

Kuketuk hati
Yang lama sekali tak terobati
Hampir lupa bagaimana caranya menyapihi

Lalu dari dalamnya
Hitam gemerlap mulai bermunculan
Masuk entah dari mana saja
Berlawan pun jadi



Kuketuk hati
Yang hampir mati
Sebab sakit sudah lama sekali

Kuketuk hati
Adakah yang mengerti?
Di sini sepi

Tak kudapati siapa-siapa bersamanya
Ia sudah mulai melepuh sendiri
Sebab sudah banyak sakit hati

Kuketuk hati
Bersama Tuhan aku percayakan diri
Agar ia bersih kembali

Semoga.


Jum'at 02 Des'16 (17:22}

Senin, 19 September 2016

MASA LALU


            “Sudah lama tidak bertemu Ly. Apa kabar?”

            Pertanyaan sekedar basa-basi. Aku tau itu. Aku lantas tersenyum kemudian menatapnya sebentar lalu mengarahkan pandangan ke luar jendela Cafe. Setidaknya untuk semenit saja sebelum perasaan kelabu ini berhasil kutenangkan. Tapi, sepertinya aku tidak berhasil, pikiranku malah mengambang tentang kenangan silam. Dimana semua membuatku semakin merasakan pahit saja.

            “Hei, kau tidak apa-apa?”

            Tidak apa-apa?

            Kali ini kuberanikan menatapnya lekat. Aku tidak ingin terhanyut pada masa lalu. Toh, semuanya telah terjadi.

            “Aku ... baik. Kau, bagaimana?”

            Pria itu tersenyum manis. Hampir berhasil membuatku luluh kembali. Oh, tidak, tidak akan pernah terjadi kali ini. Aku sudah tau bagaimana watak kepribadiannya. Sudah tau bagaimana semua dengan tingkahnya. Aku harus tetap dengan pendirianku.

            “Aku baik, Ly. Sangat baik malah. Apa lagi setelah bertemu denganmu.”

            Tuhan, maafkan atas kerasnya hati ini. Aku benar-benar sudah tidak ingin jatuh lagi. Bukankah aku sudah berjanji?

            “Kau masih sama Ray, penuh rayuan. Aku yakin perempuan manapun pasti sudah banyak yang jatuh hati padamu.”

            “Tidak, Ly. Aku sudah berhenti melakukannya.”

            Oh, benarkah? Dulu, dua tahun lalu ketika kita bersama kau juga pernah mengatakan hal yang sama. Kau tidak akan melakukannya lagi. Tapi nyatanya dua kali kau buat aku sakit hati.       

            “Aku yakin kau pasti tidak percaya. Tapi nyatanya aku sudah tidak melakukannya lagi. Aku sadar semuanya Ly, terlebih lagi setelah kau memutuskan untuk pergi. Aku baru tau kalau kesetiaan itu adalah nomor satu.”

            “Kau hampir membuatku tertawa terpingkal-pingkal.”

            “Kenapa?”

            Kutatap mata Ray dalam. Sungguh, aku sama sekali tidak merasakan apapun lagi, yang kudapat hanya kekosongan. Hampa. “Jangan jadikanku sebagai alasan, Ray. Kau tau, kau dan aku sudah terbentang ribuan bahkan jutaan kilometer jarak yang sampai kapanpun tidak akan pernah telihat batasnya. Aku juga sudah bahagia dengan jalan hidupku meskipun sebenarnya aku tau itu salah. Tapi, ya, semuanya sudah terlanjur, dan  aku menjalaninya, menikmatinya layaknya seseorang yang candu dengan alkohol. Aku mabuk, lupa, dan hanyut.”

            Ray mencoba meraih jemariku tapi segera kutarik jauh. “Kau, benarkah yang selama ini kudengar?”

            “Kau dengar apa?” tanyaku penasaran. Oh, aku paham maksudnya. “Kau tidak usah pedulikan aku Ray. Kau lihat, aku baik-baik saja. Lagian yang mengajarkanku menjadi wanita jahat adalah kau. Ah, sudahlah tak usah khawatir aku sudah memaafkan segalanya.”

            “Maafkan aku, Ly.” Ray menunduk. Menyesal.

            “Sudahlah, aku sudah melupakan segalanya,” ujarku.

“Ly, boleh aku meminta sesuatu?” pinta Ray membuatku bingung.

            Keningku berkerut. Meminta sesuatu? Ray bukanlah tipe laki-laki yang suka meminta apapun. Dia adalah sosok laki-laki yang menjunjung martabat tinggi. Dan aku tau itu.

            “Kau  mau minta apa?”

            “Kembalilah, Ly. Aku dan Natasya menginginkanmu. Kita membutuhkanmu.”

            Natasya? Ah, apa kabar malaikat kecilku itu?

            Setelah perkelahian besar antara aku dan Ray siang itu aku memutuskan untuk pergi. Ya, aku marah besar setelah tau apa yang telah dilakukannya bersama wanita lain. Awalnya aku diam namun lama kelamaan amarah itu membuncah juga. Aku marah besar. Lantas memutuskan untuk pergi. Tak kupedulikan malaikat kecil yang menangis tersedu-sedu. Tak kupedulikan panggilan dan permohonana Ray agar kuurungkan pergi. Tekatku sudah bulat, aku akan pergi kemana saja. Rasa sakit dan kecewa pada Ray mengalahkan segalanya. Aku muak karna penghiatan yang dilakukannya. Aku muak dengan janji-janji yang berujung dusta. Aku muak dengan kebaikan yang berbalas dengan kekecewaan. Aku pun pergi. Dan kini setelah dua tahun, Ray menghubungiku untuk bertemu. Awalnya aku tidak ingin menemuinya. Namun mendengar nama Natasya hatiku yang beku luluh juga.

            “Ly, kau mendengarku?”

            Tentu saja aku mendengarnya. Hanya saja aku tidak ingin jatuh ke dalam lobang yang sama lagi untuk kedua kalinya. Akan kuputuskan segera.

            “Kau tau, Ray, semejak siang itu aku slalu merindukanmu dan juga Natasya. Tapi, untuk kembali lagi aku benar-benar tidak akan pernah bisa. Maafkan aku Ray. Aku harap kau mengerti dengan keputusanku. Aku yakin kau bisa mencarikan ibu yang masih gadis dan cantik untuk Natasya. Bukan aku, aku tidak sama layaknya dulu. Aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaanku. Aku butuh uang untuk terus hidup dan melangkah maju. Meratapi masa lalu hanya akan membuatku semakin terpuruk.”

            “Tapi, Ly. Aku ... aku masih mencintaimu.” Ray, tertunduk. Ia menatap lilin di atas meja.

            “Cinta?” aku tertawa. “Kau tau, Ray. Ah, kau pasti tau, semua laki-laki yang datang padaku hanya membutuhkan kesenangan dan kenikmatan, bukan cinta. Mereka slalu bercerita tentang masalah keluarga, istri ataupun pekerjaan yang membuat mereka semakin jemu. Jadi, tolong, berhentilah mengatas namakan cinta. Aku muak.”

            “Ly, aku tulus.” Ray menatapku.

            “Percuma Ray. Dulu, rasa tulusku kau balas dengan penghiatan.” Aku membalas tatapannya. “Sekali lagi aku katakan Ray, aku tidak butuh cinta. Aku butuh uang untuk terus hidup dan melangkah maju.

            Kali ini Ray diam. Alasan apapun yang di ucapkan olehnya tidak akan berhasil membuatku menjadi seperti dulu lagi. Terlebih lagi untuk kembali.

            “Tolong sampaikan salam rinduku untuk Natsya. Katakan padanya agar menjadi anak yang tidak nakal.”

Aku meraih Handpone di atas meja. Satu panggilan tak terjawab dan satu SMS masuk. SMS dari seseorang yang kukenal baik.

            “Maaf Ray, aku harus pergi, seseorang sedang menungguku di depan pintu,” ujarku pada Ray. Di depan pintu Cafe seseorang dengan pakaian rapi sedang menunggu. Ia menatap kearahku yang kusambut dengan lambaian tangan.

            “Ly, bukankah dia ...”

            Belum sempat Ray menjelaskan maksudnya segera saja kusahut. “Ya, dia Om Herman. Bapak pemilik puluhan kios dan kosan dekat  kontrakan kita dulu.” Aku tersenyum menjawab rasa heran Ray. “Maaf, aku harus pergi. Waktuku tidak lama, hanya sejam.” Bisikku.

            Ray menganga.
           


Senin, 19 September 2016 (14:31)

Minggu, 11 September 2016

IBU



Ibu

Menjadi sosok sepertimu sampai kapanpun aku tak mampu. Menjadi sosok sepertimu tak akan pernah bisa kulakukan sampai kapanpun. Trimakasih untuk perjuanganmu melahirkanku ke dunia ini, Trimakasih atas cintamu yang luar biasa sampai kudewasa seperti ini. Maaf ibu, aku tak mampu menjadi anakmu yang baik. Maaf ibu, karna slalu menjadikanmu alasan mengapa aku membenci hidupku. Pada hal, Sesungguhnya kau mengajarkan padaku bahwa menjadi sosok ibu adalah cara Tuhan mengujiku. Trimakasih bu. Aku menyanyangimu.


***

Lirik Lagu Rafly 

Lembut ku kenang kasihmu ibu
Di dalam hati ku ingin menanggung rindu
Engkau tabur kasih seumur masa
Bergetar syahdu oh di dalam nadiku
Sembilan bulan ku dalam rahimmu
Bersusah payah oh ibu jaga diriku
Sakit dan lemah tak kau hiraukan
Demi diriku oh ibu buah hatimu
Tiada ku mampu membalas jasamu
Hanyalah doa oh di setiap waktu
Oh ibu tak henti ku harapkan doamu
Oh ibu tak henti ku harapkan doamu
Mengalir di setiap nafasku
Mengalir di setiap nafasku
Oh ibu, ibu, ibu
Lembut ku kenang kasihmu ibu
Di dalam hati ku ingin menanggung rindu
Engkau tabur kasih seumur masa
Bergetar syahdu oh di dalam nadiku
Indah bercanda denganmu ibu
Di dalam hatiku kini selalu merindu
Sakit dan lelah tak kau hiraukan
Demi diriku oh ibu buah hatimu
Tiada ku mampu membalas jasamu
Hanyalah doa oh di setiap waktu
Oh ibu tak henti ku harapkan doamu
Oh ibu tak henti ku harapkan doamu
Mengalir di setiap nafasku
Mengalir di setiap nafasku
Oh ibu, ibu, ibu
Allahummaghfirlii waliwaa lidayya
Warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa
Lembut ku kenang kasihmu ibu

DUNIA HITAM



Dunia hitamku
Bertemu denganmu membuatku buta kalbu
Laksana awan gelap menyelimuti mata bathinku
Lantas lupa pada siapa aku

Dunia hitamku
Gelap cahayamu menjadikan semu jalanku
Kemana aku harus mengadu?
Semenjak kau merasuki tubuh dan jiwaku aku tak dapat bergerak melaju

Dunia hitamku
Aku rindu masa bercumbu dengan hidup baikku
Meski hanya kepura-puraan tapi aku mengerti bagaimana menunggu
Setidaknya untuk dua jam berlalunya waktu

Dunia hitamku
Aku lelah sebenar-benar lelah
Rasa seperti menjalani dunia batu tanpa ampun
Menghimpit segala cara agar aku mati kaku

Dunia hitamku

Aku mau kembali seperti dulu

Senin, 22 Februari 2016

About Life

Maka nikmatilah setiap proses yang ada.





            “Pernah berpikir untuk tidak menikah, Re?” tanyaku pada Rere.

Wanita dengan rambut gelombang itu menatapku aneh. Ia menarik napas pelan.

            “Kau tau, Ly. Aku memang playgirl, punya pacar dimana-dimana tapi untuk urusan menikah tentu saja aku mau menikah. Aku tidak ingin menghabiskan sisa umurku sendiri. Aku butuh sosok pria yang menemaniku sampai mati.”

            Jawaban yang cukup mengangetkan. Aku tau Rere wanita jalang, slalu mempermainkan laki-laki semaunya. Tapi untuk menikah ia memang serius.

            “Kau tau, Ly. Ibu dan ayah slalu saja berdebat hanya masalah sepele. Mereka slalu saja menuruti ego dan kemamuan sendiri tanpa memikirkan aku. Anak satu-satunya yang butuh kasih sayang.”

            Tentu saja aku tau latar belakang Rere. Ia slalu menceritakan bagaimana kisah hidupnya padaku. Bagaimana orangtuanya, kisah cintanya. Meski hidupnya mapan, apapun slalu ada dan berlebih namun untuk kasih sayang orangtua, Rere benar-benar tidak pernah mendapatkan. Itulah salah satu alasan mengapa ia memiliki watak keras kepala. Dan untuk hidupku, aku jauh berbeda dengannya. Hidupku sangat pas-pasan. Untuk kuliah, jauh dari orangtua aku harus bekerja memenuhi kehidupan sehari-hari. Hidup di perantaun memang tidak semudah yang di bayangkan orang. Latar belakang keluarga memaksaku hidup serba cukup dan apa adanya. Terkadang sempat terpikir olehku untuk menyerah saja pada hidup. Namun, Rere slalu saja memiliki cara agar aku tersenyum.

            “Semestinya kau bersyukur Ly, orangtuamu jauh lebih baik dari oangtuaku.”

            Ia tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih. Aku tertawa pelan. Rere tidak tau bagaimana kerasnya hidupku. Bagaimana dengan orangtuaku. Bagaimana dengan keluargaku di kampung. Yang dia tau aku slalu berusaha tertawa saat meledekku.

            “Kita tidak pernah tau bagaimana dengan hidup, Re. Kita hanya berusaha untuk menjalaninya meski sebenarnya itu pahit.”

            Untuk hidupku yang pahit. Aku memang tidak pernah menceritakan pada Rere. Aku lebih ingin memendamnya sendiri. Bukan tidak percaya, hanya saja aku terlalu takut. Aku tak ingin Rere kembali terpuruk dengan kalimat orangtua. Cukup mendengar ceritanya aku sudah tidak sanggup. Apa lagi untuk menjalaninya. Untuk kasih sayang mungkin aku sedikit lebih beruntung di bandingnya, namun untuk pahitnya hidup tentu saja hidupku jauh lebih sulit darinya.

            “Kau tau, Re, hidupmu lebih beruntung di banding aku. Kau bisa lihatkan bagaimana aku. Hidupku seperti terluntang lantung. Aku seperti tidak memiliki tujuan hidup.”

            “Plis, Ly. Jangan pernah bilang kalau kau kurang kasih sayang. Aku benci dengan kata itu.”

            Rere slalu trauma dengan kalimat akhirku. Bukan karna membuatnya semakin sedih, tentu saja karna alasan lain.

            “Kau masih ingin menikah, Re? Menikah dengan salah satu kekasihmu?”

            Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Topikku hanya satu, tentang menikah tentunya.

            “Aih, apa jawabanku kurang, Ly. Tentu saja aku ingin menikah tapi bukan dengan salah satu pacarku. Aku ingin menikah dengan pria yang rajin ibadah, rajin sholat dan mengaji, rajin memberi dan tentu saja rajin mengingatkanku tentang hal-hal yang baik.”

            Rere ... bisakah kita bercermin? Untuk mendapatkan laki-laki sperti itu tentu saja kau harus punya modal yang sama. Kau harus lebih baik dari sekarang.

            “Aku tau apa yang sedang kau pikirkan, Ly. Aku memang tidak baik, lihat saja aku. Pakaianku masih terbuka, sholat saja bisa di hitung, puasa apa lagi. Setiap malam aku menghabiskan waktu dengan para lelaki hidung belang di Diskotik. Tapi, apa aku salah jika suatu hari nanti semua yang buruk hilang? Apa salah jika suatu saat nanti aku berubah menjadi lebih baik?”

            Mataku berkaca-kaca mendengar penuturan Rere. Ia slalu memiliki jawaban tersulit untukku tebak.

            “Kita tidak pernah tau hidup kan, Ly? Untuk itu aku slalu berpikir bagaimana jika suatu hari nanti orang-orang di sekelilingku meninggalkanku saat aku tak lagi memiliki apa-apa. Bagaimana jika suatu saat nanti orangtuaku tak ada dan hidupku masih tak berubah? Aku hanya ingin menjadi lebih baik. Dan itu tidak pernah salah.”

            Kupeluk Rere. Ia menangis dipundakku. Aku tau hidupku memang berat tapi setidaknya aku masih bersyukur jauh lebih baik darinya. Aku masih ingat kewajibanku di sini. Menuntaskan pendidikanku untuk masa depan nanti. Toh, hidup tidak akan seperti ini terus menerus. Hidup akan berubah jauh lebih baik kedepannya.

            “Kau tau kenapa aku bertanya tentang pernikahan, Re?” tanyaku di sela-sela tangisnya.

            Ia menggeleng dengan suara parau.

            “Aku terlalu takut pada hidup. Terlalu takut dengan rumah tangga. Terlalu takut jika hidupku akan sama dengan keadaan orangtuaku, dengan keadaan keluargaku. Tapi kali ini aku yakin, Re. Tidak mungkin Tuhan menyerupai hidupmu dengan sekelilingmu jika kau ingin memperbaiki, jika kau ingin merubahnya menjadi lebih baik. Untuk itu, aku yakin bahwa Tuhan memilik segudang rahasia untuk kita nanti. Percayalah.”

            Rere mengangguk. Sesekali kuhapus airmata yang menetes melewati pipinya. Membayangkan bagaimana pahitnya hidup sama halnya membuka pintu untuk berhenti berjalan meraih apa yang diharapkan. Bukankah berpikir positif akan menghasilkan nilai postif?

            Ponsel ditanganku tiba-tiba berdering. Segera kugeser garis hijau di samping kiri lalu menjawab panggilan.

            “Sholat ya, sayang. Dan makan yang banyak biar sehat.” Suara di ujung telepon mengingatkanku. Seketika itu pikiran cepat menikah terlintas di benakku.

           "Kapan kita nikah, sayang?"


             Jakarta, 21/12/2015 (12:37)


Rabu, 04 November 2015

The Night



Malam kian berpaut dengan cahaya di pinggir jalan. Diiringi pacuan roda-roda yang saling bersahutan. Bersama dingin membahana keseluruh ruang di seluruh tulang rusuk tubuh. Menancap kesetiap syaraf lalu menenggelamkan ke dalam mata. Kali ini lampu jalanan seperti teman yang menegadahkan tangan lalu melambaikan kebahagian. Seperti mengucapkan, "selamat malam, kawan. Selamat datang kembali." Aku tersenyum. Lalu merekatkan pelukan hangat pada sosok di hadapan. Satu tangannya menarik lebih erat.

"Kenapa sayang? Dingin?"

Aku mengangguk di sisinya.

"Tunggu sebentar ya. Kita berhenti dulu." Ia memberhentikan laju motor kemudian turun.

Aku mengikuti langkahnya dari belakang. "Kita mau ngapain?" tanyaku penasaran. Perasaan tak ada yang istimewa di sini. Ini juga bukan taman atau sejenisnya yang bisa di jadikan tempat berkencan.

"Hayu, ikut aku." Ia menarik tanganku.

Sejenak aku diam. Kaget dan benar-benar tidak percaya. Kupandangi wajahnya seserius mungkin. Aku tau dia bukanlah sosok yang romantis seperti yang lain. Bukan juga sosok yang terbilang berbasi-basi. Dia sangat jujur dan blak-blakan. Tapi malam ini satu kejutan yang mengangumkan berhasil dia lakukan.

"Kamu suka warna apa? Kamu bebas milih apa aja."

Semberaut matanya menyiratkan ketulusan yang dalam. Aku tak tau harus berkata apa. Barangkali aku bingung memilih yang mana.

"Aku mau yang warna merah sama pink," jawabku terkesan takjub. Aku masih belum sadar sepenuhnya.

"Merah sama pink doang. Kalau yang lain juga boleh."

"Gak, aku mau yang itu doang." Secepat mungkin aku menggeleng.

"Ya udah, kalau gitu. Tolong yang merah sama pink ya,  pak, jadi satu aja," pintanya pada pemilik toko. Pemilik toko langsung mengiyakan.

Sambil menunggu kuperhatikan lagi wajahnya. Benar-benar mengesankan. Dia ... meski tak romantis tapi tau kapan waktunya bersikap romantis. Trimakasih sayang untuk  malam yang menakjubkan ini. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.







Ciputat, 05/11/2015 (12:36)

Rabu, 28 Oktober 2015

فى حاجات




فى حاجات تتحس ومتتقلش وان جيت اطلبها انا مقدرش

ولو انت عملتها بعد ما انا اطلبها يبقى مينفعش

فى حاجات تتحس ومتتقالش توجع فى القلب ومبتبانش

وافضل علطول تعبانه مابين طب اقولك ولا مقولكش

مقدرش اقولك غير كل طريقة حبك ليا

او غير عليا ولا فجأنى فى مرة وهاتلى هديه

الا عنيا بعمل حاجه انا مش عارفاها

مقدرش اقولك حلى الدنيا فى عينى وغير فيا

لو مهما كنت قريب منى وكنت قريب لياe

مقدرش اقولك شكل حياتنا اللى اانا عيزاها

اعرف لوحدك شكل حياتنا اللى انا عيزاها

اوقات بيبان انى سكت وهديت ورضيت واتعودت

مش معنى كده انك علطول تحسبنى انى استسلمت

وساعات بتحس انى زهقت مع انى بخبى انى تعبت

متوصلنيش ياحبيبى اقول ده ياريتنى اتكلمت



Rabu, 07 Oktober 2015

Semenit yang lalu ...




"A ... aku hamil, Mas," ujarku pelan pada sosok di hadapanku. "Aku hamil," ulangku lagi. Berharap sosok itu mengubris.

Tak ada jawaban bahkan ekspresinya biasa saja. Apa mungkin telinganya tuli? Pura-pura tidak mendengar.

"Mas, aku hamil. Haaaamil, Mas." Kutarik tangannya menghadapku. "Mas kenapa diam? Kenapa?"

Lagi-lagi hanya bisu yang kudapat. Dia tak bergeming sedikitpun. Kenapa? Apa yang salah? Bukankah kemaren dia akan berjanji untuk bertanggung jawab. Menikah denganku.

"Mas, bicaralah. Aku butuh kepastian." Kugoncang tubuhnya berkali-kali. Masih diam.

Kali ini airmata tumpah membasahi wajahku. Aku tak bisa menahan sakit yang menyelimuti rongga dada. Aku tak bisa menahan perih di dada. Aku tidak pernah berpikir akan mendapat jawaban yang nihil. Aku kalang kabut. Otakku terasa melepuh.

"Jawab aku, Mas. Jawab aku." Kugoncang tubuhnya kuat.

"Sadar, Nit. Istigfar.  Mas Yuda  udah gak ada . Mas Yuda udah meninggal."

Seseorang meraih pundakku untuk menjauh. Kupandangi siapa yang telah berani menarikku. Ternyata Ria, sahabat akrabku. Tanpa pikir panjang aku memeluk tubuhnya. Lalu menangisi apa yang telah terjadi.

"Aku hamil, Ria. Aku hamiiiil... "aku menangis sejadi-jadinya. "Aku cuman mau jelasin ke Yuda kalau aku hamil. Tapi dia sama sekali gak mau jawab."

"Sabar Nit, sabar. Kamu istigfar. Yuda sudah gak ada. Yuda udah meninggal seminggu yang lalu. Dia kecelakaan, Nita. Kamu harus terima kenyataan." Ria menyadarkanku dengan apa yang telah terjadi.

"Meninggal?"

Ria mengangguk.

Jadi, tadi siapa?

"Kamu terlalu banyak berimajinasi, Nit. Bagaimanapun kamu butuh hidup yang baru. Dan jabang bayi kamu harus kamu jaga sepenuhnya."

Aku tak tau apa yang harus kulakukan. Kepalaku berdenyut hebat. Isi perutku meledak.

"Hueeekkk..." Aku muntah.




Ciputat, 08/10/2015 (12:36)

Sebulan lalu




Tepat sebulan yang lalu. Di sini, di tempat kita melabuhkan rindu bersama senja kelabu juga sorot lampu rumahan. Kau mengajariku apa itu rindu yang membisu. Bersama dingin serta gelapnya malam kau tunjukkan padaku wibawamu. Aku mengaung laksana singa kelaparan. Menerkam, memangsa, menggigit apa saja. Lalu selang beberapa detik kemudian berubah menjadi lembut bak miau yang di elus sang empu. Aku menggeliat manja di rebahmu.

Taukah kau apa yang berkecambuk di dadaku kala itu? Bagaimana mungkin kau berani merenggut milikku? Katamu, kau akan menjaga seutuh cintamu padaku. Sekarang, semuanya hilang. Tak ada yang bisa kusesalkan. Terkecuali sisa airmata yang tak bisa kembali.

Aku mencintaimu...
Bisakah kau lihat dari mata coklatku? Ketika kau redupkan pandangmu padaku. Ketika kau tuntun tanganku kepangkuanmu. Ketika kau rangkul aku kepelukanmu. Ketika apa yang kau pinta aku mau. Aku tak menyesal dengan yang berlalu. Ya, tak pernah. Hanya saja terkadang imajinasi itu merengkuh sebagian dari memoriku. Aku takut dan terlalu takut.

Kasih...
Bisakah kau datang padaku. Menggengam jemariku, memelukku hangat dalam pelukanmu. Lalu berbisik sendu.

"Percayalah, dua tahun bukanlah waktu yang lama untuk menunggu. Setelah itu, aku akan datangi dua orangtuamu untuk mengikrarkan sumpah setiaku. Berjanji menjadi suami serta sosok ayah yang setia untuk anak-anak kita nanti."

Kepadamu, aku rindu.




Ciputat, 08/10/2015 (12:27)