NAH, YAH BEGITU

on Senin, 07 April 2014


           

“Kamu terlalu banyak memilih Lya. Mau yang ginilah, mau yang gitulah. Kalau gitu mulu kamu bakal susah lakunya. Aku yakin itu.”
            Yah, itu bukan ucapan yang pertama kali yang ku dengar. Melainkan ucapan yang kesekian kalinya. Aku lagi-lagi harus mendengus juga membesarkan perasan. Aku tau ucapan itu bukanlah untuk menyakitiku melainkan untuk menegur agar aku sadar bagaimana harus meluruskan harapanku. Yah, meskipun kata-kata mereka sungguh kadang diluar perkiraan.
            “Kamu tau gak, kadang apa yang diinginkan itu malah jauh loh. Berputar balik sembilan puluh derajat.”
            Kali ini aku masih harus melakukan hal yang sama. Menutup telinga, menutup perasaan dengan melapangkan dada lagi. Kenapa bukannya mendukungku dengan ucapan jauh lebih menarik. Mendorong harapanku dengan senyuman yang lebih indah ketimbang harus merogohkan perkataan yang pasti sangat dan tentu terasa sakit.
            Ada banyak hal mengapa aku harus memilih untuk menentukan pasangan mulai saat ini. Bukan untuk main-main. Bukan juga untuk berbagi kebahagian sebentar saja. Bukan juga tempat hanya meminta jajan; duit atau membelikan perlengkapan lainnya disaat dompet sama sekali tidak ada isi. Bukan itu yang harus aku fikirkan. Bukan juga karna aku tidak laku—hem, aku rasa aku tidak terlalu jelek (sambil memperhatikan kaca dengan sebelah mata karna takut meilhat jerawat yang baru tumbuh tadi pagi di pipi kiri). Yah bukan juga hanya tempat melapiaskan amarah, kesal, sedih ketika sedang dilanda masalah. Bukan, sungguh bukan itu saja.
            Aku memiliki alasan lain. Alasan yang memperkuat diriku untuk tetap memiliki sesuatu yang harus ku pertahankan sampai hari ini. Setidaknya siapapun diantara mereka baik itu sahabat saudara ataupun keluarga lainnya bisa mengerti keinginanku yang kuat. Ku akui aku memang bukanlah pemilik harta warisan yang berlimpah ruah kesana kemari. Bukan keturunan pejabat yang seenaknya meminta untuk dibelikan mobil mewah. Yang mempunyai hitungan rupiah di ATM. Bukan, aku bukan keturan yang tergolong bisa mengangkat derajakku di mata para teman kuliah juga teman kerjaku.
            Aku hanya wanita biasa. Dari keturunan yang biasa-biasa saja. Dan alhamdulilah dengan kemapuan yang Allah berikan kepadaku, aku bisa menyelesaikan MTs juga SMA ku tanpa mengeluarkan rupiah dari orang tuaku; dalam arti jajan, buku juga baju belum termasuk hitungan gratis. Alhamdulillah aku termasuk juara kelas setiap semesternya. Setelah menyelesaikan sekolah kemudian aku melanjutkan kuliahku ke daerah yang menurutkku juga mungkin penilain orang lain begitu kejam, Jakarta namanya. Aku bisa meraih beasiswa dan melanjutkan studiku disana. Dan lagi-lagi aku bersyukur ketika sebuah cv entah keberapa kalinya aku diterima untuk bekerja dengan membiayai kebutuhan sehari-hari. Ini adalah anugrah terindah dalam hidupku.
            Kerja pagi, kuliah malam. Sebuah pertarungan yang harus dijalani dengan berbekalkan ikhlas.
            Dan dengan seiring bertambahnya usiaku yang beranjak masuk 22 tahun. Aku sudah memikirkan masa depan. Pasti, dan itu harus. Sebuah pilihan yang mengantarkan kita untuk tetap hidup dalam lingkungan rohaniah setiap harinya. Aku tidak muluk-muluk untuk memilih. Menurutku penilaianku bukanlah suatu dibatas yang tidak wajar. Aku hanya ingin mendapakkan sosok yang bisa mencintaiku tidak melebihi cintanya kepada Robbnya, menyayangiku tidak melebihi sayangnya kepada Robbnya. Sehingga dengannya bertambah kadar keimananku. Itu saja. Tapi entah mengapa setiapku, hemmm... lebih tepatnya ku ceitakan sosok pria idamanku ketika yang lainnya bertanya itu terlalu berlebihan. Lah, apa yang berlebihan?
            Tidak terlalu sulit bukan, tidak juga berlebihan.
            Kita hanya butuh saling mendo’akan dan tetap beusaha. Itu saja. 


JANGAN KAU BOHONG- FATIN SHIDQIA LUBIS

on Jumat, 04 April 2014


Jangan kau bohongiku
Jangan permainkanku
Ku tau kau telah mendua
Ku tau semua tentang dia

Tak akan memaafkanmu
Meski kau membujukku
Terserah mau bilang apa
Takkan ada yang percaya

Kesabaranku kau uji
Sungguh kau tak peduli
Kau tak peduli, kau tak peduli
Kalau tau begini
Akupun tak peduli
Ku tak peduli, ku tak peduli

Pictures on your phone, jangan kau bohong

Sikapmu dumdidumdidumdidumdi ey
Dumdidumdidumdidumdi ey ey
Sudah sudahlah sungguh ku gerah
Memang kau dumdidumdidumdidumdi ey
Dumdidumdidumdidumdi eyey
Sudah sudahlah pergi pergilah
Get out oo..
Get out oo..
Get out oo..
Sudah sudahlah


***

Ingat lagu ini, kenangan tiga tahun lalu seolah membekas dipelupuk mataku. Ah, bagaimana tidak. Itu kejadian yang terburuk dalam hidupku. Tidak, lebih tepatnya pelajaran yang bisa ku ambil sisi hikmahnya. Cerita tentang pembelajaran tersendiri buatku. Bagaimana memilah-milih. Meneliti, mebolak-balik juga yah, pastinya tidak usah terlalu melihat rupa luarnya saja karna dalam itu sungguh lebih penting.

Awalnya si kecewa, sakit hati, marah dan yang terlebih lagi sungguh tak ingin memaafkan apa yang telah diperbuat olehnya. Yah, pastinya. Sangat tidak rela jika kau di duakan bukan? Atau menjadi yang kedua. Begitulah, aku sudah pernah menjadi salah satu cerita didalamnya. Dan, dan sungguh-sungguh terlalu. Namun kali ini aku sangat bertrimakasih padanya karna telah banyak belajar untuk mendapatkan yang lebih baik lagi. Yah, mendapatkan yang lebih baik lagi.

Persis sebauh judul lagu; JANGAN KAU BOHONG-FATIN SHIDQIA LUBIS.

Bertimakasih, karna pengalaman itu mengajarkan kedewasaan bukan?

DAN TAK MUNGKIN

on Rabu, 02 April 2014




Bagaimana mungkin aku bisa mencintamu? Aku fikir ini bukanlah hal yang wajar. Yah, tentu, ini sudah diluar pemikiranku. Aku dan kamu sudah jelas dua insan yang tak mungkin bisa bersatu sampai kapanpun.  Apa kamu lupa apa yang sebenarnya terjadi diantara kita berdua. Apakah aku harus menjelaskan berulang kali dengan kata-kata yang sama?. Sudah tentu tidak mungkin. Kamu bukanlah anak kecil yang harus berulang kali membutuhkan penjelasan hingga kamu merasa puas. Sudah cukup kali ini, toh aku yakin kamu juga sudah mengerti.
“Aku tidak akan menyerah Sofia. Sampai kapanpun aku akan tetap memperjuangkan cintaku padamu,” jelasmu sore itu padaku. Tatapanmu menyiratkan harapan terdalam.
Aku tidak berani menatapmu yang kini duduk tepat disampingku. Haruskah aku mengulanginya kembali?.
“Kau tau Sofia. Aku mencintamu semenjak dulu. Dulu, saat kita masih kecil dan slalu bermain bersama,” ia kembali mengingatkanku pada kenangan sepuluh tahun yang lalu. Saat dimana kenangan indah itu kami lalu bersama. “Lalu dengan harus apa lagi aku menjelaskannya,” ia mulai meraih tanganku.
Aku masih tetap membisu. Adakah yang salah dengan namanya cinta pada masa kecil dulu?. “Tapi ini tidak mungkin Kevin,” ku tarik tanganku menjauh darinya. Angin sepoi-sepoi membelai poniku. Hatiku sungguh sesak. Dengan alasan apa lagi aku harus mengungkapkannya?.

***
“Coba tebak Sofia, siapa yang mama bawa,” aku mengalihkan perhatianku dari buku novel yang ku baca pada sosok pria yang ada dibelakang mama. “Gak tau ma,” jawabku.
“Yah, masa lupa,” jawab mama.
Sosok yang ada dibelakang mama kini beralih menghadapku. Aku coba mengingat-ingat siapa yang dimaksud oleh mama.
“Dia teman kecil kamu dulu Sof, waktu kamu masih tinggal di rumah nenek di kampung,” mama mengingatkanku.
“Kevin?” ujarku kaget. Ya Tuhan, sosok yang dulu begitu cupu dan culun sekarang sangat berbeda. Wajahnya kini sangat menawan bahkan mampu menggodaku dalam hitungan detik saja. “Ini beneran Kevin Ma?” aku masih tidak mempercayai penglihatanku. Aku masih ingat, Kevin dengan penampilannya yang lugu membuat semua keluarga meledeknya termasuk aku. Dia begitu sering ku buat menangis.
Mama mengangguk untuk meyakinkanku. “Nah, karna sekarang Kevin  kuliahnya bareng kamu jadi mama mutusin kalau Kevin tinggal bareng kita,” jelas mama yang membuatku semakin kaget lagi.
“Sekarang giliran aku yang bakal ngeledek kamu,” Kevin membisikkan kata-katanya ditelingaku.
Aku memukulnya dengan buku ditanganku. “Dasar,” umpatku.
***
Dua bulan setelah kehadiran Kevin.
Kevin sengaja mengajakku ke taman belakang kampus sehabis mata kuliah. Katanya ada yang harus ia jelaskan padaku. Aku mengikuti langkah kecilnya di sisi kiriku. Pandanganya sungguh teduh sekali. Aku yakin siapapun yang melihatnya akan jatuh hati. Kevin mengulurkan novel berjudul “SPRING” padaku. Itu adalah novel favorit yang slama ini ku cari-cari di google tentang sinopsisnya.
“Apa yang mau kamu omongin Vin,” tanyaku. Ku buka novel pemberiannya.
“Aku bingung harus dari mana Sof,”
Ku alihkan pandanganku padanya. “Loh, emang kamu mau ngomong apa? Kok bingung?”
Kevin menatapku. “Kamu tau kenapa aku bingung?”
Aku mengeleng. “Tentang pelajaran di kampus? Atau suasana di sini jauh berbeda dari tempatmu?”
Kevin menggeleng. “Bukan,” jawabnya datar.
“Kalau bukan, terus apa?” aku menutup buku ditanganku. Kenapa denganKevin? Mungkinkah dia sudah tidak betah tinggal di rumahku selama ini?.
“Aku mencintaimu,” tuturnya. Matanya menerobosku begitu dalam.
“Apa?” aku hampir kaget dibuatnya. Buku ditanganku hampir terjatuh. Kevin pasti bercanda.
“Aku serius. Aku mencintaimu Sofia,” ulangnya lagi.
Aku berdiri. “Aku gak mau kamu bercanda Vin. Ini bukanlah saat yang tepat,” kenapa aku jadi membenci ucapannya barusan.
Ia menarik napas kemudian berdiri menghadapku. “Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku.”
“Aku benci dengan ucapanmu tadi Vin,” ku tinggalkan Kevin yang mematung sendiri.
“Kevin itu sepupu kamu Sof. Jadi mama sarankan kamu harus bisa memperlakukan dia kaya sodara kamu,” ujar mama padaku dua minggu setelah kedatangan Kevin.
Sepupu?.“Kok aku baru tau ma, kan dia teman kecil Sofia dulu. Mama kenapa baru bilang,” jawabku. Kenapa begitu berat mendengar kata-kata mama. Seperti ada yang hilang dari separuh hatiku.
“Mama sengaja nyembunyiinnya dari kamu. Karna mama udah ngerencanain kalau kalian udah kuliah nanti mama mau bawa Kevin kesini.” Mama membelai rambutku.
Aku hanya mampu diam malam itu. Diam dengan hatiku yang tak menentu.

***
Setahun  setelah kehadiran Kevin.
“Kau tau apa yang sedang aku fikirkan sekarang,” jelasku pada Kevin. Kami sama-sama duduk di taman belakang kampus.
“Kau sedang memikirkanku,” ujar Kevin tertawa.
“Ada banyak hal yang sedang ku fikirkan. Yah, salah satunya kamu,” aku tidak memangdang Kevin.
“Sudah ku yakin,” Kevin lagi-lagi tertawa.
“Kau dan aku sepupu,” tatapku pada Kevin. Begitu berat rasanya untuk mengucapkan kata-kata tersebut.
“Aku sudah tau dari dulu,” ujar Kevin datar.
Aku menatap Kevin. “Kau sudah tau?” aku tidak percaya. “Lalu kenapa kau pura-pura seperti gak tau sama sekali.”
“Buat apa?”
“Buat apa?” ujarku mengulang ucapannya. Aku benar-benar tidak percaya dengan jawaban Kevin. Mungkinkah ada yang salah denganku?. Ku buang tatapanku sejauh-jauhnya. Aku terlalu berharap dengan harapan yang tidak mungkin pasti. Yah, ini bukanlah hal yang seharusnya aku lakukan. Ku tinggalkan Kevin yang mematung sendiri. Setidaknya aku harus sadar degan apa yang ku rasakan.


 *** 
Dan kini, perasaan itu takkan pernah menjadi nyata.





SEKEDAR CURHAT

on Selasa, 01 April 2014


Jujur saja, aku memang seharusnya tidak memiliki alasan untuk memutuskanmu. Aku juga tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk mengakhiri hubungan denganmu. Ini memang salahku. Kau adalah sosok yang baik yang pernah hadir di kehidupanku. Kau sosok yang sangat memahamiku serta menerima kekuranganku. Aku yang telah bersalah, telah putuskan harapanmu. Telah hilangkan semua keinginanmu. Jika mungkin kau tanya kembali mengapa semua ini terjadi, sungguh akupun jua tak mengerti mengapa ini terjadi. Hanya saja aku merasa aku bahagia tanpamu, aku bahagia menjalani diriku sendiri. Aku bahagia dengan kesendirianku.

Aku tau kau kecewa padaku. Aku tau kau marah padaku. Dan aku tau kau sangat sakit karnaku. Namun apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus ku pertahankan?. Sungguh cinta itu tak lagi mekar seperti dulu, sungguh rasa rindu itu tak lagi mewangi seperti dahulu. Semua telah sirna, telah ku simpan, telah ku hancurkan dan telah ku abadikan sebagai kenangan yang tek perlu untuk dibuka kembali. Sebagai masa lalu yang tak perlu ku ingat kembali.

Ini aku.
Aku yang telah menyakitimu.
Aku yang telah hancurkan harapanmu.
Aku yang telah khianati dirimu.

Maafkan aku.
Karna salahku padamu.
Maafkan aku yang pernah menyakitimu.
Dan trimakasihku, telah pernah menjadi bagian dari hidupmu.

MENGUKIR CINTA DIBELAHAN JIWA




  
Bila yang tertulis oleh-NYA engkau yang terpilih untukku
Telah terbuka pintu hati ini menyambut cintamu
Disini segalanya kan kita mulai mengukir buaian rindu
Yang tersimpan dulu tuk menjadi nyata dalam hidup bersama

Izinkan aku  mencintaimu
Menjadi belahan di dalam jiwaku
Ya Allah, jadikanlah ia pengantin sejati di dalam hidupku

Izinkan aku….

Wahai yang dicinta telah kurela hadirmu temani relung hatiku
Simpanlah jiwaku dalam do’amu kan ku jaga cintamu
Wahai yang dicinta telah kurela hadirmu temani relung hatiku
Simpanlah napasku dalam hidupmu kan ku jaga setiamu

Izinkan aku....


Melodi itu bagaikan untaian kisah hati. Sebuah kisah rindu yang merangkup dalam bait-bait yang bersatu menjadi syair yang indah. Lalu menjadi irama syahdu nan merdu. Siapapun yang mendengarnya kan terhanyut di dalamnya. Bak riak air sungai yang lambat laun jatuh menimpa bebatu didasarnya, pelan namun sangatlah pasti. Begitulah kuuntai satu persatu. Tentang rindu, jua tentang bagaimana perasaan yang tertambat didalam kalbu sejak lama dulu. Menjadi sebuah kisah yang ku jadikan penegar di dalam sanubari. Kelak jika telah tiba saatnya akan hadir padaku dengan sendirinya. Dan saat itu akan ku katakan dengan tulus pada seorang insan yang te;lah Tuhan ciptakan untukku bahwa slama ini bait rindu itu ku simpan sepenuhnya hanya untuknya.

***
“Subhanallah,” aku mendengus kecil sembari menundukkan pandangan. Sosok itu berjalan melewatiku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku yang menyadari kehadirannya berbalik menghadap gedung di hadapanku. Hatiku seketika berdetak sangat tidak karuan. Aku baru kali ini melihatnya di Mesjid tempat yang sering ku jadikan peneduh jiwa dikala sedang gundah. Megapa tidak, wajah penuh keteduhan itu seolah menghipnotis insan sepertiku dalam tiga detik saja. Aku yang baru sadar segera mengelus dada sembari mengucap astagfirullah berulang kali.
“Kak Safia,” seseorang menepuk punggungku.
Aku berbalik arah menatap siapa yang mengangetkanku. Anna berdiri dibelakangku dengan senyum menggoda. Kerudung biru yang ia pakai memperindah wajah mungilnya. Anna, wanita yang lebih muda dua tahun itu sudah ku anggap seperti saudara sendiri. Dengan meringis ia mendorongku dengan dua tangan yang penuh dengan buku-buku padaku. Anna memang lebih suka mengajakku berdiskusi dikala waktu lenggang.
“Kita mau belajar apa kak hari ini?” senyum mungil Anna padaku.
Ku raih beberapa buku ditangangnya. “Terserah kamu,” jawabku. Aku berjalan memasuki Mesjid diikuti Anna dari belakang. Aku dan Anna memilih tempat paling pojok agar tidak mengusik orang-orang yang sedang melakukan aktifitas lainnya.
“Tafsir hadist gimana kak? Aku kurang mengerti,” ujarnya.  
Aku mengangguk, “boleh.”
“Kak Safia emang pinter ya. Aku yakin siapapun yang bisa jadi istri kakak pastlahi laki-laki yang beruntung.” Anna tiba-tiba berujar demikian.
Aku yang mendengarnya hanya menjawab dengan senyuman. “Do’akan saja Na.”
“Ya pasti kak masa aku do’ain yang jelek,” jawabnya.
Aku tersenyum lagi. Ku raih salah satu buku yang tergeletak diatas karpet lalu membolak-balik isinya. Buku itu berjudul “Salah satu menjadi istri solehah” karya salah satu karangan novelist terkenal. Ternyata Anna menyimpan buku seperti ini.
“Oya kak aku mau nanya boleh gak?” Anna mendekatiku.
Mataku beralih padanya, “mau nanya apa Na?.
“Hem… Jika suatu saat nanti kalau waktunya udah tiba kakak mau gak dijodohin?”
Aku menatap Anna lekat. Usianya yang masih muda sudah memikirkan hal perjodohan. “Kamu kenapa tiba-tiba nanya gitu Na?.
“Gak kenapa-napa kok kak,” jawabnya. Ia kembali menekuni buku dihadapannya.
Ku sandarkan punggungku ke dinding Mesjid. “Jika suatu hari nanti ada seorang yang datang pada kakak yang soleh serta baik hatinya untuk apa kakak harus menolaknya? Jika dia berniat untuk menjadikan kakak sebagai pendamping yang halal bukanlah suatu masalah yang besar. Dia pantas untuk kakak terima, kakak jadikan imam untuk kakak serta keluarga kakak nanti,” jawabku melihat Anna yang berhenti membaca.
Anna menatapku seksama, “benarkah kak?”
Aku mengangguk.
“Iya juga ya kak untuk apa harus menolak jika ia adalah pilihan yang telah di takdirkan untuk kita. Toh dimana-mana agama itu adalah paling utama”
“Anna udah mulai beranjak dewasa,” senyumku menggodanya. Ku tunjuk buku ditanganku padanya.
“Kak Safia…” Anna mencoba meraih buku ditanganku. Ia mungkin merasa malu.

***
Aku memasuki ruang perpustakaan. Wajah-wajah penuh serius begitu banyak disana. Ada yang berjalan sembari menekuni buku ditangannya. Ada yang sedang duduk sambil memeriksa beberapa kali file yang ada di dalam komputernya. Ada juga yang sedang berdiskusi bersama teman-teman yang lainnya. Ruangan perpustakaan begitu penuh dengan mahasiswadan mahasiswi yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku berjalan ke salah satu kursi yang paling pojok. Dimana tidak ada seorangpun yang bisa melihatku. Tempat itu memang slalu ku jadikan ruang baca tersendiri. Ruangannya memang agak tertutup dari yang lain. Di ruangan ini aku bisa belajar sendiri. Membaca buku apapun yang ku mau.
Tas di legan kiri ku letak ke atas meja. Aku merogoh sesuatu di dalamnya. Sebuah buku kini berada dihadapankku. Buku itu pemberian ibu sebelum aku meninggalkan kampung halaman menuju kota tempat kuliahku sekarang. Sampulnya keliatan sudah kumuh. Entah sudah berapa kali aku terus membaca buku tersebut. Barangkali setiap singgah ke sini aku pasti melakukannya. Aku saja lupa entah berapa kali.
Sebuah suara mengalihkan pandanganku  ke rak-rak buku dibelakangku. Ku dengar suara seseorang di sana entah sedang apa. Aku beranjak dari tempat duduk kemudian melangkah kearah suara tersebut. Ku lihat seorang laki-laki berusaha menyusun buku-buku yang terlegetak dilantai ke rak-rak buku dihadapannya. Aku mencoba membantu dengan menyusun buku-buku tersebut.
“Trimakasih,” ujarnya tanpa melihatku.
Aku mengangguk. Buku-buku itu begitu banyak sekali tergeletak diatas lantai. Mungkin dia tidak sengaja menjatuhkan buku-buku tersebut.
“Maaf sudah merepotkan,” ujarnya untuk kedua kalinya.
Aku mengangguk lagi. Wajah sosok itu sungguh teduh sekali. Aku seperti pernah melihatnya tapi entah dimana. Memoriku berulang kali berputar mencoba mengingat-ingat. Mungkin saja aku salah toh mahasiswa laki-laki begitu banyak dikampus. Sosok itu mencari-cari sesuatu ditumpukan buku dihadapannya. Tangannya berkali-kali membolak-balik buku satu persatu. Aku berusaha menahan napasku yang terasa semakin tak menentu. Ya Ilahi, kenapa ini? Aku menunduk.
“Maaf, buku yang kamu pegang itu judulnya apa ya?” sosok itu menatapku.
Aku membaca judul buku ditanganku. “Fiqih islam,” jawabku.
“Alhamdulillah, akhirnya ketemu. Saya boleh minta bukunya?” ia mengulurkan tangannya padaku.
Aku mengangguk. Pandanganku beralih padanya. “Subhannallah,” gumamku sendiri. Dugaanku benar, aku pernah melihat sosok dihadapanku beberapa hari yang lalu. Ketika sedang menunggu Anna di Mesjid. Aku mengulurkan buku tersebut padanya kemudian menundukkan pandangan. Aku tidak ingin lama-lama hanyut dalam perasaan ini. Duhai Robbi pemilik hati sungguh mulia ciptaan-Mu.
“Maaf mas. Saya duluan,” ujarku setelah selesai membantunya menyusun buku.
“Oh iya, trimakasih ya,” jawabnya sopan.
Aku mengangguk. Kemudian beranjak ke tempatku semula.

***
Ku buka jendela kamar dengan lebar. Udara malam ini begitu sejuk dan dingin. Ada banyak bintang-bintang di langit sana. Ku coba menghitungnya satu persatu namun sayang aku tetap tidak berhasil dengan hitunganku. Seberapa banyak yang ku hitung sebanyak itu juga aku harus mengulang kembali. Ku pejamkan kedua mataku menghirup udara segar di luar sana. Perlahan ku hembus udara tersebut dari kedua hidungku. Perasaanku sedikit tenang.
Handpone di atas meja belajarku tiba-tiba berdering. Aku melangkah meraih handpone tersebut kemudian menekan tombol hijau. “Iya bu,” jawabku. Kenapa ibu tiba-tiba menelpon selarut ini.
“Ibu ada urusan penting sama kamu Fa,” jawab ibu tanpa berbasa-basi. “Fa” adalah panggilan kecil ibu untukku.
Keningku berkerut. “Ada apa bu? Kok malam-malam gini?” pungkasku. Aku berjalan menuju lemari dekat jendela. Ku tatatp tulisan di pojok kirinya. Begitu banyak planing yang ku tulis di sana. Planing itu tulisanku mulai dari pertama memasuki dunia perkuliahan. Dan sampai saat ini aku belum ingin menggantinya dengan kertas yang baru. Aku membaca satu persatu dalam hati.
“Ibu ingin menjodohkan kamu.”
Mataku tepat berhenti di planing kedua. Menikah adalah targetku tapi bukan sekarang melainkan nanti setelah urusanku selesai. Gelar yang ku tunggu telah ku miliki. “Menjodohkan?” aku menghela napas sangat panjang. Bagaimana mungkin ibu berniat menjodohkanku? Sedang kuliahku saja belum slesai. Aku masih butuh ancang-ancang untuk kedepannya. Butuh dua semester lagi untuk target menikah.
“Iya Fa. Ayah sama ibu sudah setuju. Ibu yakin dia orangnya baik,” ibu meyakinkan kata-katanya.  “Sekarang ibu sama ayah tinggal menunggu keputusan kamu.”
Aku melingkari kata nikah di planingku. Sebuah tanda tanya besar ku tulis disana. Aku masih belum percaya dengan pendengaranku sekarang. Mungkin saja ibu bergurau, hiburku pada diri sendiri. Percakapanku dengan Anna di mesjid mulai tergiang-ngiang. Adakah yang salah dengan ucapanku kemaren? Sehingga do’a malaikat begitu cepat terkabulkan.
“Kalau kamu emang gak setuju dan merasa berat dengan perjodohan ini. Ibu gak bakal maksain kamu Fa,” ujar ibu mengangetkanku.
Aku menghampiri kursi belajar kemudian duduk. “Safia bukannya menolak bu tapi menurut ibu apa perjodohan ini gak terlalu cepat? Lagian Safia masih kuliah,” jawabku mencoba menenangkan ibu. Aku takut ibu kecewa denganku.
“Satu tahun itu bukan waktu yang lama,” sanggah ibu membuat ku terdiam.
Ku senderkan punggungku ke kursi. Berbagai macam memori berputar kesana kemari.
“Jadi keputusan kamu bagaimana? Apa kamu bersedia?” ulang ibu.
Ku raih pulpen di atas meja kemudian menulis sesuatu disana. “Safia gak menolak bu. Safia cuman pengen selesai wisuda dulu,” jawabku. Ku tulis nama bulan di dalam binderku.
“Sampai kapan? Nanti ibu bisa sampaikan padanya juga keluarganya,” tanya ibu penasaran.
“Pertengahan April bu.” Napasku terasa berat sekali. “Ibu bisa sampaikan padanya sampai pertengahan April nanti,” jawabku lagi. Kenapa jantungku berdegup keras dan semakin keras lagi. Matakupun ikut terasa berat.
“Baiklah. Ibu akan sampaikan.” Ibu mengakhiri panggilannya.
Di sudut ruangan kamar dengan bertemankan bintang di langit sana aku dapat merasakan kebahagian ibu saat ini.

***
Ku telusuri lorong demi lorong menuju ruang kelas. Ini adalah awal semester enam. Itu artinya aku harus mempersiapkan judul skripsi sebagai syarat wisuda. Ku usahakan langkah kakiku yang begitu terasa sulit untuk digerakkan berjalan dengan cepat. Namun rasanya sangat sulit.  Adakah yang salah dengan hari ini? Sehingga sifat malas yang dulunya menjauh lambat laut menghampiri. Semangat Fa, semangat. Aku mengepulkan jari-jariku sebagai kata semangat.
“Kenapa jadi loyo gitu Fi,” itu suara Naila.
Aku menggeleng. Tas di tanganku ku letakkan keatas meja. Aku mengeluarkan pulpen dan laptop dari dalamnya.
“Akhir-akhir ini aku sering banget ngeliat kamu males,” ujarnya.
Naila memang sosok yang slalu jujur dengan apa adanya. “Benarkah Nai,” aku menatapnya lalu tersenyum.
Naila mengangguk. “Apa mungkin aku yang salah yah?” Naila mencoba memikirkan sesuatu.
Aku tertawa pelan. “Aku rasa kamu benar. Mungkin aku kurang tidur karna memikirkan judul buat skripsi nanti,” pungkasku.
“Ya ampun, sampai segitunya Fi. Kamu terlalu rajin,” mata Naila mencoba menggodaku.
Aku menangguk. Laptop dihadapanku ku nyalakan.
“Trus apa sekarang kamu udah dapet judul?”
Dengan mata sedih aku menggelengkan kepala. “Belum”
“Sama sekali belum?” Naila benar-benar tidak percaya. Ia menarik kursinya mendekatiku, “aku yakin dugaanku tidak akan pernah salah dalam segala sesuatu. Sekarang kamu jujur Fi kamu itu males apa banyak fikiran?”
Aku mengalihkan pandangan Naila ke laptop dihadapanku. “Kok nanyanya gitu Nai. Kamu kayak baru kenal aku aja,” jawabku.
“Kamu tau gak si Fi. Kita ini mahasiswi Fsikolog dan aku rasa kita bisa membaca fikiran orang-orang disekililing  kita. Apa lagi dia itu bukanlah orang lain melainkan teman dekat sendiri.” Naila kini  mulai mencurigaiku.
Aku menghentikan ketikanku. Aku bukanlah orang yang ingin mengikut sertakan orang lain dalam urusan pribadiku walau dia teman dekat sekalipun. “Kamu itu ya, slalu pengen tau apa aja masalah orang lain. Aku akui kamu memang cocok jadi hiptonis Nai,” aku mengarahkan dua jempol tangan padanya sebagai tanda setuju.
Dengan segera Naila mengubris tanganku. “Aku serius Fi.”
“Aku juga srius Nai. Gak ada yang harus kita bahas. Oke!”
Naila mendorong kursinya menjauh. “Aku percaya kamu Fi,” Naila mencoba tersenyum.
Aku tau senyum itu pasti sebuah pertanyaan yang belum bisa terjawab. Maafkan aku Nai.ku fokuskan pandanganku pada tulisan di laptopku. Aku rasa seorang ibu tidak ada yang berbuat jahat pada anaknya. Bagaimanapun ibu pasti memiliki alasan tersendiri untuk perjodohan ini. Semangat Fi. Aku mengangkat kepalaku mencoba merangkai judul skripsi.

***
“Pacaran itu seperti mengupas bawang merah ya kak,” ujar Anna padaku. Ia mengunjungi kontrakanku pagi ini. Katanya mau belajar di kontarakanku saja sekalian mau main.
“Kok gitu Na,” jawabku. Ku ulurkan secangkir susu coklat buatanku padanya.
Anna meraihnya kemudian duduk. “Ya iya kak. Aku belajar dari pengalaman teman .”
“Pengalaman teman atau pengalaman pribadi kamu?” jawabku mencandainya.
“Teman sekelas kak masa aku,” jawab Anna tidak terima. “Tadi dia cerita sama aku di kelas sambil nangis. Katanya dia baru diputusin sama cowoknya.”
“Trus kamu bilang apa sama dia,” aku meraih buku Fsikolog Islam diatas rak buku.
Anna menyeruput susu coklat ditangannya. “Aku bilang tetap sabar. Kan itu udah resiko kalau pacaran.”
Aku tertawa pelan sambil membuka halaman yang akan ku baca. “Seharusnya kamu lebih baik nasehatin dia biar dia gak terlalu sakit hati.” Ku pandangi Anna yang sedang memikirkan sesuatu.
Anna menghadapku. “Mau gimana lagi kak. Toh jauh sebelumnya aku udah pernah bilang untuk tidak terlalu mempercayai laki-laki. Dan akhirnya dia juga yang ngerasain akibatnya.”
Aku mendekati Anna kemudian duduk disampingnya. “Bukan semua laki-laki yang begitu Na. Terkadang ada juga laki-laki yang di sakiti wanita, “ ku letakkan buku ditanganku kemudian meraih salah satu buku dari rak. “Kamu bisa baca buku ini,” ku ulurkan buku ditanganku padanya.
Anna mentapku seksama. Ia mungkin heran dengan maksudku.
“Kamu bacanya di rumah aja kalau sekarang kita kan mau belajar yang lain,” aku tersenyum pada Anna. “Kalau ada yang mau kamu tanyain masalah buku ini kapan-kapan kamu bisa tanya sama kakak.”
Anna mengangguk. Ia berjalan mengelilingi kamarku. “Oya kak, kamar kakak kok banyak tulisan yang ditempelin ke dinding? Itu buat apa?.” Anna berdiri memeriksa seluruh ruangan kamarku. “Maklum kak, aku kan baru pertama kali ke kontrakan kakak abis kakak biasanya minta di mesjid mulu kalau mau belajar bareng,” tungkasnya. Pandangannya beralih dari satu tulisan ke tulisan lainnya.
“Semua orang berhak mau nulis apa aja sebagai motivasinya buat belajar lebih giat lagi,” jawabku.
Anna beberapa kali mengangguk. “Iya si kak. Buktinya kakak aku juga suka banget nempelin tulisan dikamarnya. Sampai aku bingung mau baca apaan,” komentarnya lagi. “Tapi kok aneh ya. Kak Safia hampir sama kayak kakak aku,” Anna menatapku.
Aku menganggkat bahuku. “Bukan kakak kamu aja Na, teman-teman kakak juga banyak yang gitu,” jawabku.
Anna mengangguk-angguk.  “Oya kak, ini kok tulisaannya gak keliatan ya kak?” Anna menunjuk sesuatu.
Aku mengarahkan pandanganku padanya. Ya Tuhan, itu adalah planing yang ku tulis. Dan... sesaat saja aku langsung tau apa maksud Anna.
“Loh, kok meridnya ada tanda tanyanya kak? Trus ada tulisan...” Anna mencoba mengeja tulisan disana.
Dengan segera aku menutup tulisan tersebut darinya. Aku tidak ingin dia tau apa yang sebenarnya terjadi. “Kamu masih kecil Na gak boleh tau. Ini privasi.” Ku coba mendorong tubuhnya menjauh. Itu tulisan bulan untuk perjodohan yang telah ku janjikan pada ibu.
“Ya... kok gitu kak,” Anna tidak terima.
“Kamu tau gak Na. Ada sesuatu yang boleh diketahui orang lain dan ada juga sesuatu yang gak boleh untuk orang lain ketahui. Nah, sekarang kakak harap kamu mengerti apa maksud dari ucapaan kakak,’ aku duduk disampingnya.
“Iya kak aku tau.”
“Kalau gitu sekarang kamu mau belajar apa?” aku mencoba mengalihkan perhatiaannya.
“Aku mau bahas Ilmu Kedokteran dari sisi Islam aja kak,” jawab Anna. Ia mengeluarkan buku dari dalam tasnya.
“Itu bagus,” jawabku.
“ Oya kak entar kalau udah pulang dari sini aku juga mau nulis planing kayak kakak biar nanti aku lebih semangat lagi buat belajar,” ujarnya menatapku.
Aku menahan napas sebentar kemudian tertawa. Anna paling suka melakukan sesuatu yang diluar dugaan.

***
“Gimana Fi, apa kata pak Andree?” ujar Naila padaku setelah keluar dari ruangan pak Andree. Pak Andree adalah dosen pembimbing untuk skripsiku nanti. Naila menghampiriku dan mengenggam tanganku. Naila sudah mengajukan judul skripsinya dua minggu yang lalu dan hasilnya diterima.
Aku merasakan tanganku yang dingin di genggamnya.  “Alhamdulillah Nai. Judul aku di terima,” jawabku. Aku tak henti-hentinya bersyukur.
“Itu artinya..” mata Naila menggodaku.
“Artinya...” aku mengulang kata-kata Naila. Kenapa seperti ada yang menyekat di tenggerokanku?. Itu artinya tidak lama lagi janji perjodohan itu akan segera ku tunaikan. Kenapa rasanya berat untuk mengingatnya? Bukankah niat seorang ibu itu sangat mulia?. Atau barangkali aku belum siap. Belum siap bagaimana? Jika dia sosok laki-laki yang soleh, untuk alasan apa aku menolaknya? Umur bukanlah alasan yang tepat. Lalu apa? Aku merenung sendiri.
“Fi, kamu kenapa?” Naila menyentuh bahuku.
Aku kaget dibuatnya. Naila masih berdiri disampingku.
“Kamu kenapa sih Fi,” ulang Naila. Ia mengulurkan botol minuman padaku.
Aku menggeleng. “Oya Nai, planing kamu setelah wisuda nanti apa?” tanyaku. Ku seruput minuman ditanganku. Mataku tak henti menatap reaksi Naila. Aku ingin sekali mendengar jawabannya.
“Kalau aku si pengen nikah,” spontan saja ia menjawab.
Aku hampir tidak bisa menelan minuman ditenggorokanku. Naila ingin langsung menikah?. “Kamu gak pengen kerja dulu,” tanyaku pura-pura. Seingatku ia tidak pernah membicarakan pernikahan.
Naila mengeleng, “Ibu udah ngejodohin aku.”
Aku terpaku menatapnya, “terus kamu mau?” tanyaku. Aku semakin penasaran dengan jawaban Naila. Naila yang super ceplas-ceplos ternyata sangat penurut. Lalu bagaimana denganku?.
“Mau,” jawabnya simpel.
“Emang kamu udah pernah ketemu?” kali ini aku ingin tau apakah dia akan sama denganku.
Naila menggeleng, “aku yakin pilihan orang tuaku pastilah sangat baik. Mereka menjodohkaanku dengan orang yang baik,” Naila menghadapku dengan senyuman.
“Lalu pacar kamu gimana?”
Naila menghadapku, “kan aku udah lama putus Fi masa lupa.”
Astaga.. aku baru ingat Naila putus dari pacarnya ketika aku mengingatkannya untuk tidak pacaran. Beberapa minggu kemudian ia malah memilih untuk sendiri.
Subhanallah. Naila yang dulu ku fikir sosok wanita yang manja dan keras kepala ternyata jauh dari dugaanku. Meskipun kadangkala ia suka melakukan hal-hal yang aneh namun dia bukanlah sosok wanita yang tidak memahami keinginan orang tuanya. Aku dan Naila sangat berbeda, lihat saja dari segi berpakaian ia lebih suka yang modis. Aku pernah menasehatinya ketika menghampiriku di kontrakan. Saat itu aku hampir tidak mengenali siapa sosok dihadapanku.
“Aku Naila Fi, kamu kok ngeliat aku aneh banget.” Naila berdiri tepat dihadapanku dengan seorang laki-laki. Aku menyimpulkan itu pasti pacarnya. Saat itu aku sangat kaget melihat penampilan Naila yang sama sekali diluar dugaanku. “Nanti jemput aku sore ya. Aku mau ngerjain tugas dulu sama Safia,” ujar Naila mengingatkan.
Laki-laki disampingnya mengangguk. Ia tersenyum sebagai salam kenal kemudian meninggalkan aku dan Naila.
“Kamu gak nyuruh aku masuk Fi,” Naila mengangetkanku.
Aku mengangguk kemudian menyuruhnya masuk. “Kamu tau gak Nai, kamu lebih anggun kalau ketemu aku di kampus,” ujarku halus padanya. Aku tidak bermaksud menyidirnya.
“Aku tau maksud kamu Fi. Tapi jangan sekarang dulu ya masih butuh waktu,”
Aku duduk disampingnya, “asal jangan lama-lama,” jawabku.
Naila tertawa.
Dan mulai beberapa hari kemudian aku sudah melihat perubahan Naila dengan berlahan.

***
Untuk jodohku.
Untuk jodoh yang belum ku temui. Bolehkan aku mengungkapkan satu kata saja. Jika nanti aku telah bertemu denganmu, maukah kau menerimaku dengan ikhlas. Mencintaiku tidak melebihi cintamu pada Robbmu. Menyanyagiku tidak melebihi sayangmu pada Robbmu. Agar denganmu nanti bertambah keimananku.
Untuk jodohku.
Meskipun kita belum bertemu saat ini. Tapi aku yakin bahwa Robbku menitipkanmu di tempat yang jauh lebih aman. Agar nanti kau tidak tersesat menuju jalanmu kepadaku. Agar kita dipertemukan disinggasana yang tidak ada yang bisa memisahkan kita kecuali maut. Dan aku yakin, kelak bersamamu aku bisa menemukan surga hakiki itu.
Untuk jodohku.
Aku siap menantimu dengan kerinduanku.
Ku tunggu engkau di belahan jiwaku.

Aku menulis tanda kecil disudutnya kemudian menempelkan kata-kata tersebut tepat di depan meja belajarku. Kata-kata itu sengaja ku tulis dan ku tempel disana. Ku putar pandanganku ke dinding lemari, sebuah tanda tanya itu menguak rahasia yang dalam. Siapakah sosok yang ingin ibu jodohkan padaku? Apakah dia orang yang pernah ku temui? Atau mungkin sosok yang lain. Itu masih rahasia dan aku tidak boleh terlalu larut didalamnya. Ku dekati planing tersebut kemudian menghampus tanda tanya disana. Ini bukanlah tindakan yang baik. Aku tidak seharusnya melakukan itu. Baik Bagaimanapun ibu pasti berniat padaku. Aku memutar pandanganku keseliling kamar.
Wahai jodoh yang telah di takdirkan untukku, mungkinkah aku melihatmu sebelum hari pertemuan  kita nanti? Duhai hati percayalah jika engkau sudah siap dia akan hadir dengan sendirinya. Aku menghembuskan napas, lega. Malam ini aku masih menghabiskannya dengan secangkir susu coklat bertemankan buku-buku. Tidak ada waktu untuk bermain. Saatnya pintu wisuda didepan mata.

***
“Kak Safia kapan mau belajar bareng lagi?” tanya Anna padaku. Pagi sekali ia sudah menghubungiku.
“Nanti ya di mesjid. Setelah jam kuliah selesai,” jawabku.
“Kalau nanti siang kan ada acara santunan anak yatim di mesjid kak. Kakak lupa ya?,” jawab Anna.
Aku hampir lupa. “Oh iya, kakak hampir lupa. Kalau gitu lusa gimana?”
“Boleh deh kak. Kalau gitu entar siang kita ikutan acara santunan aja gimana kak?” ajak Anna semangat.
“Kakak si mau tapi kakak gak ada yang ngajak jadi gak enak,” tolakku halus.
“Gak masalah kak. Aku diajak kok. Entar kita kesana aja ya sekalian aku mau ngenalin kakak aku sama kak Safia,” ujar Anna. “Dia baru tiga bulan di Jakarta,” jelas Anna lagi.
“InshaAllah, nanti kita ketemu di Mesjid ya Na,” jawabku.
“Iya kak, nanti aku tunggu kakak ya,” ia kemudian mengakhiri panggilaannya.

***
Suasana di Mesjid begitu ramai. Aku mencari-cari sosok Anna di sana. Barangkali ia bergabung dengan teman-temannya yang lain. Sepertinya Anna belum datang. Aku keluar Mesjid kemudian menuju kamar mandi. Aku masih mencari-cari Anna disana namun sosok Anna belum juga ku temui. Seseorang menyentuh pundakku.
“Safia, kamu ngapain?” itu Naila, disampingnya ada wanita yang sedang tersenyum manis padaku.
“Lah, kamu sendiri?” aku balik bertanya.
Ia membisikkan sesuatu ditelingaku. “Mama aku mau ngenali calon suami aku Fi makanya aku datang ke sini. Kebetulan dia ikutan acara santunan yatim.” Senyum bahagia tersirat diwajah manisnya.
Aku mengangguk-angguk. Betapa bahagianya Naila saat ini.
“Oya kenalin Fi, ini  kak Ayu sepupu aku. Dia baru pulang dari Mesir,” Ayu mengulurkan tangannya padaku.
Aku menyambutnya, “Safia kak,” kenalku. Alangkah anggunya dia. Penampilannya mencerminkan kepribadian yang begitu indah. Wajah teduhnya menyiratkan ilmu ketawaduan.
“Kak Safia,” Anna berdiri tepat dihadapanku. “Aku dari tadi keliling nyariin kakak,” lanjutnya lagi.
“Kakak juga dari tadi  nyariin kamu emangnya kamu kemana aja,” tanyaku.
Anna mendekatiku, “aku nungguin kakak aku yang ikutan acara ini kak. kan semalam aku bilang sama kakak kalau ada yang ngajakin nah itu kakak aku, hehe..” Anna tertawa. Ia meraih tanganku.
“Nai, kenalin ini adek yang pernah aku ceritain yang dekat ama aku. yang sering ngajak belajar bareng, namanya Anna.” Ingatku pada Naila. Anna mengulurkan tanggannya pada Naila dan Ayu. Mereka saling berkenalan.
“Wah, kamu cantik banget Na,” ujar Naila membuat Anna tersipu malu.
“Benerkan kata aku, dia cantik juga pintar,” lanjutku.
“Kan pinternya ikut kak Safia,” sambung Anna.
Aku tertawa diikuti Naila dan Ayu.
“Acaranya udah mulai, kita masuk yuk,” ajakku pada mereka. Kami memasuki Mesjid lalu menmgambil barisan yang paling belakang.
“Kak Safia, aku ke kamar mandi dulu ya. Nanti aku nyusul,” ujar Anna padaku.
Aku mengangguk.
“Nanti aku mau liatin calon suami aku sama kamu,” ujar Naila disampingku sambil berbisik pelan. “Kebetulan calon aku itu temannya kak Ayu waktu kuliah di Mesir dulu,” lanjutnya.
Aku menatapnya lagi. Sungguh bahagia Naila saat ini.
“Aku yakin dia pasti sosok yang yang soleh, cakep dan menawan,” Naila tertawa pelan sekali agar orang-orang di sekelilingnya tidak mendengar.
“Do’akan saja Nai, kalau kamu yakin inshaAllah segala sesuatu akan terjadi,” yakinku padanya.
Naila mengangguk.
“Diharapkan untuk para tamu dan juga undangan agar segera memasuki ruangan karna acara akan segera kita mulai,” suara MC menggema keseluruh ruangan. Para tamu juga undangan yang lain mulia memenuhi Mesjid. Suasana Mesjid dalam beberapa menit mulai penuh dengan para tamu juga undangan. Beberapa tamu undangan pengisi acara duduk di depan mengahadap para undangan lainnya.
Aku memperbaiki posisi dudukku ketika seorang ibu memintaku untuk menggeser tempat dudukku. Dari tempat dudukku aku bisa melihat siapa saja yang duduk di sana. Mataku tiba-tiba menatap sosok yang baru masuk ke dalam ruangan. Disampingnya ku lihat laki-laki yang tidak jauh beda umur dengannya. Ia berbicara sebentar pada sosok didekatnya kemudian menghadap para tamu. Jantungku terasa berdegup kencang dan semakin tidak beraturan. Segera ku alihkan pandanganku pada Naila disamping kananku. Aku bisa merasakan sosok yang di duduk didepan sana. Sosok yang sekarang yang berhadapanku.
“Subhannallah, kamu tau gak Fi yang akan di jodohkan sama aku, yang bakal jadi suami aku nanti. Itu dia orangnya tadi kak Ayu ngasih tau aku waktu dia baru masuk,” Naila berbisik kemudian menunjuk sosok yang dimaksudnya.
Aku mengarahkan pandanganku pada sosok itu. Benarkah dia yang dimaksud Naila? Atau mungkin saja aku yang salah orang. Jika benar sosok itu sungguh beruntung seorang Naila. Ku alihkan pandangaku pada Naila yang masih memperhatikan sosok yang dimaksudnya. Matanya tidak beralih sedikitpun, senyum kecil Naila menambah indah kebahagiannya saat ini. Aku menarik napas. Mencoba menenangkan hatiku yang mulai berkecambuk. Robbi, adakah yang salah dengan hati ini? Aku hanya hamba yang lemah, beri aku kekuatan untuk perasaan yang hanya akan mengelabuhi hatiku. Aku tidak ingin masuk terlalu dalam pada perasaan yang akan menghanyutkanku. Aku beristigfar berkali-kali untuk menenangkan hati.
“Kamu sangat beruntung Nai,” ujarku pada Naila. Aku mendo’akan Naila agar apa yang diharapkannya menjadi kenyataan.
Naila merangkul tanganku kemudian tersenyum.
“Kak Safia, itu kak Raihan. Kakak kandung aku yang baru datang dari mesir,” Anna yang baru datang dari kamar mandi tiba-tiba membuatku kaget. Anna duduk di samping kiriku. Ia mengulurkan minuman padaku dan yang lainnya. “Kak Raihan mau ngasih pembukaan sekaligus pengisi acara santunan hari ini kak. Makanya aku di ajak sama dia sekalian aku  ngajakin kakak,” lanjut Anna.
Sosok yang  dimaksud Raihan oleh Anna kini berdiri. Ia tersenyum pada semua orang yang ada di ruangan. Mata kecilku mulai membesar menatap sosok yang dimaksud Anna. Bukankah dia sosok yang membuat jantungku berdegub tidak beraturan saat pertama kali melihatnya di Mesjid kampus. Sosok yang ku temui di ruang perpustakaan kampus dulu dengan sapaan yang halus menanyaiku. Ternyata sosok itu akan segera menjadi calon imam Naila. Aku tiba-tiba merasakan dunia kecil disekelilingku berjalan begitu tidak beraturan. Bukankah Raihan yang dimaksud Anna adalah tunangan Naila?. Raihan yang kuliah di Mesir dulu juga adalah sahabat Ayu, sepupu Naila. Aku pura-pura menulis sesuatu di buku kecil yang selalu ku bawa kemanapun untuk menenangkan hatiku. Aku tidak ingin terbawa perasaan saat ini. Robbi, begitu sempitkah dunia-MU ini? Sehingga segala sesuatu yang diluar pengetahuanku terjawab hanya dalam satu jam saja.
Safia... Ibu sudah menjodohkanmu. Lalu untuk apa kamu harus bergelisah hati. Yakinlah Safia, pilihan ibu dan ayahmu pasti jauh lebih baik. Aku menutup mataku, membatin dalam hati kecil. Ada apa denganku?.

***
Aku menahan napas dengan sangat lama. Jantungku berdegup kencang dan semakin kencang lagi. Sudah hampir dua jam lamanya aku tidak berani melihat kehadapanku. Tidak berani menatap kesekeliling ruangan. Aku tidak berani menghadapi sipapun untuk saat ini. Aku terlalu kaku. Ruangan di tempat ini semakin dingin, padahal sebelumnya aku sudah menyalakan AC dengan suhu yang sedang. Air ditelapak tanganku semakin banyak mengalir. Keringat dingin mulai bercucuran. Kenapa rasanya hari ini melebihi sidang wisuda? Lebih menakutkan di banding saat bertemu dengan dosen-dosen yang menanyaiku disaat sidang skripsi. Bahkan suara jantungku lebih keras di bandingkan sebelum melihat papan pengumuman nama siapa saja yang terdaftar yang lulus wisuda. Aku berusaha menenangkan diri.
Ku perhatikan ayah dan ibu yang sudah beberapa kali menatap jam dinding bergantian. Ini adalah hari dimana aku menepati janjiku setelah menyelesaikan tugasku di Jakarta. Ayah dan ibu akan menjodohkanku dengan seseorang yang dianggap oleh mereka sangat pantas dan baik untukku. Aku yang dari tadi hanya diam kini mengeluarkan suara. Aku tidak ingin ayah dan ibu terlalu gelisah.
“Sebaiknya ayah dan ibu tenang dulu. Mungkin saja mereka masih dijalan. Saat ini kita lebih baik berdo’a agar tidak ada kendala,” ujarku pada ayah dan ibu. Ayah dan ibu sedang berdiri didepan pintu. Di ruangan ini hanya anggota keluarga kecilku saja yang hadir.
“Mudah-mudahan saja,” ibu menghamipiku. Ia kemudian duduk disampingku lalu mengelus pundakku.
Aku menatap ibu. Ada yang slama ini ingin kutanyakan padanya. Sesuatu yang membuatku sangat ingin tau. Ku sentuh punggung tangan ibu lembut, “ibu kenapa ingin menjodohkanku? Apakah ada yang terjadi sebelumnya?” aku menatap ibu dalam. Sungguh aku tidak ingin terjadi segala sesuatu apapun diluar dugaanku.
Ibu menggeleng. “Kamu tau Fa. Laki-laki yang ayah dan ibu jodohkan padamu bukanlah orang yang baru kami kenal. Ayahmu sudah lama mengenalnya semenjak dia kuliah S.1 di Mesir dulu bahkan sampai sekarang  ayah sama ibu masih tetap sangat dekat dengannya. Dia itu mahasiswa yang pintar. Kebetulan dia juga sekarang sedang menyelesaikan S.2 nya di Jakarta sambil mengajar di Kampus kamu dulu,” jelas ibu. “Dia itu anak teman ayah waktu masih sekolah sampai kuliah. Ayah dan ibu menjodohkanmu bukan karna atas paksaan melainkan terlebih dulu mendapatkan persetujuan darimu,” jelas ibu lagi. “Dan ibu yakin kamu pasti sosok yang beruntung mendapatkannya.”
 Aku hampir tidak percaya dengan apa yang ibu bicarakan. Jujur, awalnya aku takut jika perjodohan ini adalah karna segala sesuatu yang berakibat buruk pada keluargaku. Namun penjelasan ibu kali ini membuatku lega dan yakin. “Dosen?” tanyaku pada ibu penasaran. Aku belum pernah mendengar dosen yang ibu maksud. Atau mungkin saja aku yang tidak terlalu ingin tau tentang segala sesuatu hal yang baru terjadi di kampus.
Ibu mengangguk. Ia meyakinkanku.
“Alhamdulilah mereka sudah datang,” ujar ayah padaku dan ibu.
Ibu menghampiri ayah yang masih berada di depan pintu. Mereka menyambut kedatangan keluarga tersebut. Aku duduk sendirian di ruang tamu. Aku menutup mata, menarik napas dalam dan sangat dalam lagi. Aku tidak berani memandang keluar pintu. Sungguh segala seuatu sekarang menjadi lebih nyata. Aku lebih memilih untuk meremas-remas tanganku agar rasa gelisahku berkurang. Robb, kuatkan aku dan tenangkan hatiku. Aku bertakbir berkali-kali didalam hati.
“Maafkan atas kedatangan kami yang terlambat,” suara itu meminta maaf. Aku yakin beliau pasti ayah yang tegar dan berwibawa. Aku bisa tau dari cara berbicaranya. “Bagaimana? Proses pertunangan ini bisa kita lakukan secepatnya. Lebih cepat lebih baik bukan?” lanjut suara tersebut.
“Itu ide yang bagus,” jawab ayah di sampingku.
Ku rasakan tanganku yang menggigil. Ibu memengang pundakku mencoba menenangkan.
“Raihan, kamu boleh mengajukan pertanyaan pada Safia sekarang, barangkali ada yang ingin kamu tanyakan sebelum acaranya kita lanjutkan,” tanya ayah. “Dan kamu juga berhak untuk menanyakan sesuatu pada Raihan nak,” ujar ayah padaku.
Raihan?. Aku seperti pernah mendengar nama yang dipanggil ayah. Mungkin saja Raihan yang dimaksud ayah adalah orang lain. Aku masih menunduk, belum terlalu berani menatap siapa saja yang berada di hadapanku saat ini. Mataku terlalu takut mendapat jawaban sosok siapa disana.
Ku dengar sosok Raihan menarik napas kemudian menghembuskannya pelan. “Aku tidak akan menanyakan sesuatu yang memberatkanmu duhai calon bidadariku,” suara itu begitu lembut dan sangat sopan memanggil namaku.
“Silahkan, kamu berhak untuk menanyakan apapun itu,” jawabku. Aliran darahku kembali mengalir deras. Aku tidak merasakan apapun disekitarku kecuali hanya suara napas satu persatu dari kami.
“Maukah kau menikah dengaku?” pertanyaan itu membuatku sangat kaget.
Dia tanpa basa-basi mengatakan hal keseriusannya padaku. Bukankah kata-kata itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk mengucapkannya? Namun dengan mudah saja dia mengucapkannya.
“Jika kau yakin, lalu untuk apa aku harus menolakmu? Aku tau, inshaAllah kamu akan menjadi imamku yang slalu patuh pada perintah Robbku.” Ku beranikan mataku menatap sosoknya. Satu, dua dan dalam tiga detik aku merasakan getaran yang tidak bisa ku artikan sendiri.
Semua yang ada di ruangan ini mengucapkan kata hamdalah. Namun aku masih pada pandanganku. Subhanallah, laki-laki itu. Mungkinkah dia yang dimaksud oleh ibu beberapa menit yang lalu? Atau mungkin aku yang salah. Bukankah dia sosok  yang dimaksud Naila yang akan menjadi calon imamnya. Tapi kenapa sosok itu yang saat ini berada tepat dihadapanku?. Mana mungkin aku mau menikah dengan calon suami sahabatku sendiri. Itu hal yang tidak wajar.
“Tapi... Naila? ” kata-kataku begitu saja keluar. Mana mungkin ini bisa terjadi?. Ku pandangi sekelilingku. Anna sudah meyambutku dengan senyuman khasnya. Ia duduk di samping sosok tadi.
“Selamat ya Fi untuk pertunanganmu. Aku do’aka smoga semuanya lancar. Oya, do’akan aku juga ya Fi. Minggu depan aku juga mau tunangan sama kak Raffi. Kamu harus datang ya,” itu pesan singkat Naila.
 Ku sempatkan untuk membuka pesan darinya. Rasa penasaranku sekarang sudah hilang. Robbi, inikah yang telah ENGKAU rahasiakan slama ini? Tanpa sedikitpun kau izinkan aku tau apa maksud di saat itu. ENGKAU biarkan aku untuk tetap bersabar dalam penatianku. Maafkan atas apa yang telah aku lakukan slama ini. Dan syukurku pada-MU tiada hentinya. Aku menyambut sosok Raihan dalam senyuman.
Duhai calon imamku, selamat datang dipertapaan hatiku.
***
Duhai engkau belahan jiwa
Awalnya adalah satu pertemuan singkat
Seperti sebuah angka nol yang lambat laun bertemu titik dan satu
Kemudian berubah menjadi huruf romawi yang tanpa dasar

Trimakasih duhai belahan hati
Kau telah hadiahiku satu sajadah dibelakangmu
Menjadi imamku slama hayat hidupku

Untukmu imam dunia akhiratku
Bersamamu adalah hari-hari bahagiaku