DALAM DIAM, AKU MENCINTAIMU

on Jumat, 15 Februari 2013

Dia oh dia,
Dia tidaklah rupawan seperti yang diharapkan sejuta perempuan.
Dia juga tidaklah tampan seperti yang diimpikan seribu perempuan.
Dia biasa-biasa saja. Malah lebih biasa ku rasakan.
Tapi dia sosok yang berbeda diantara berjuta pria yang didambakan semua prempuan.

***
Seperti biasa, aku mulai melakukan aktifitas kecilku. Seusai subuh aku membersihkan kosan lebih dulu, menyapu kamar, mencuci baju, piring hingga menyetrika baju. Selesai sudah, aku kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuh.

" Ya Tuhan..." aku  mendengus sambil melototi jam dipergelangan tanganku. Tujuh menit lagi waktu yang tersisa untukku. Aku buru-buru menghetikan angkutan umum. Hari semakin panas, jalanan macet. Mau tidak mau aku pasti telat masuk kerja. Dan lagi-lagi aku harus mempersiapkan diri untuk mendapat hukuman dari atasan, omelan ples membersihkan semua kamar mandi. Sungguh sulit dibayangkan.

"Ren, tolong izinin aku yah. Aku telat masuk, jalanan macet banget" pintaku pada Reni diseberang telepon.
"Iya, entar aku izinin"
"Makasih yah"
"Oke, sama-sama"
Ku sudahi panggilan. Ada kesedihan yang kurasakan, padahal tadi pagi aku berusaha untuk tidak tidur sehabis salat subuh. Tapi hasilnya tetap sama saja, aku masih terlambat masuk kantor. Ku perhatikan jalanan, macet dimana-mana. Bagaimana ini? Hampir jam delapan. Aku berusaha untuk tidak melirik jam ditanganku. Biarkan saja waktu berlalu toh apa yang harus disesali lagi.

"Baru nyampe?"
Sontak aku terkejut. Bukan karna keterlambatanku, bukan juga karna hukuman ataupun omelan. Hanya saja suara aneh yang sama sekali belum pernah ku dengar tiba-tiba saja mengejutkanku. Aku berbalik arah, menutup pintu kantor. "Iyah pak, tadi macet" sedihku. Sudah hampir jam 09.00 sedang aku baru saja tiba. Hampir dua tahun lebih aku bekerja di kantor ini tapi baru kali ini aku mendengar suara itu.
"Ya sudah, lain kali kebiasaan seperti ini jangan diulang lagi" mata sendu itu tersenyum.
Subhannallah ku palingkan seketika itu pandanganku. Begitu teduh pancaran sinar wajahnya, begitu halus bicaranya.
"Maaf, saya duluan yah, mau solat jum'at"
Dan abu-abu itu kian berubah menjadi hijau warnanya.

***
"Besok jangan telat lagi Tin, untungnya pak Ajat enggak masuk. Aku enggak bakal bisa bayangin lagi kalau pak Ajat ada, kamu pasti diomelin trus disuruh bersihin kamar mandi" Reni menasehatiku. Mukanya semakin mungil dengan jilbab ungu yang dipakainya. Ia menatapku iba.
"Aku udah berusaha buat enggak telat Ren, tapi hasilnya yah begini mulu" ku seruput teh dingin ditanganku. Ku sandarkan punggungku yang terasa gilu.
"Jangan bilang kalau habis subuh kamu tidur lagi"
Mataku menyipit "enak ajah, aku punya kegiatan kok" elakku
"Bagus kalau gitu" Reni melahap makan siangnya. "Aku lapar banget Tin, tadi pagi belum sempet sarapan"
"Jangankan sarapan Ren, nyampe kantor enggak telat ajah alhamdulillah"

Seperti biasa, jam istirahat siang aku dan Reni slalu menghabiskan waktu dikantin. Bercerita, mencari solusi juga saling bertukar fikiran. Reni memang sosok sahabat yang penyabar dan slalu ceria. Hidup itu harus dibawa enjoy Tin, kalau serius mulu entar bakal jadi gila itu katanya padaku. Tapi namanya juga manusia karakteristiknya berbeda. Aku bukan sosok wanita tegar dan penyabar sepertinya.

Aku memutar pandanganku keseluruh kantin, hampir semua karyawan berkumpul disana untuk makan siang. Suasana yang slalu ku rindu, dimana semua orang sibuk melakukan apa saja, terbebas dari guratan pekerjaan dikantor yang memusingkan fikiran. Ada yang tertawa, ada yang sibuk dengan HP ataupun laptopnya masing-masing ada juga yang sedang menyendiri barangkali mencari ide dan gagasan untuk perkembangan yang lebih baik lagi. Mataku tiba-tiba saja menangkap sosok yang baru saja memasuki kantin, jujur saja baru kali ini aku melihatnya disini. Atau mungkin karna dulu mataku tidak sejeli hari ini. Sama sekali tidak begitu.

"Tin, pak Anwar" Reni mencolek lenganku.
"Iyah, aku juga lihat kok. Subhannallah yah Ren" tanpa ku sadari aku berdecak kagum.
Reni menatapku.
"Coba deh kamu fikirin, wanita mana yang tidak terpikat pada sosok sepertinya. Soleh, baik, berwibawa, dermawan, mudah senyum" aku memuji sosok itu.
"Iyah si tapi orangnya pendiam banget" ujar Rena."Aku jadi sungkan"
Ada benarnya juga dengan kata Rena "mungkin karna kita belum mengenal sosoknya" ujarku, menegaskan lebih pada diri sendiri.
"Iya mungkin"

Sekilas ku pandangi sosok disana, dia menyendiri dan hanya menikmati secangkir kopi dimejanya. Tangannya sibuk menulis sesuatu dilembaran hariannya. Tuhan, jangan palingkan hatiku agar tidak pernah menjadi debu. Dalam diam aku hanya berharap.


***
Pagi sekali aku sudah berada dikantor. Hari ini dan sampai esok aku tidak akan mengulang kesalahnaku lagi. Telat datang ke kantor. Dan akhirnya tugas menumpuk di meja kerjaku. Baru saja aku ingin merapikan meja kejaku, sebuah buku catatan kecil yang bukan milikku tergeletak disana. Aku berusaha melirik semua isi kantor tapi tidak seorangpun yang ku temukan terkecuali pak Amin, OB kantor. Tentu saja buku catatan itu bukan miliknya.

"Pak Amin, bapak tau ini milik siapa?" aku memperlihatkan buku ditanganku.
Pak Amin menggeleng "saya tidak tau mbak"
"Tadi pagi atau semalam bapak ada lihat orang enggak di meja kerja saya?"
Lagi-lagi pak Amin menggeleng.
"Ya udah pak, makasih" aku menghampiri meja kerjaku. Aku begitu penasaran dengan isi buku catatan ditanganku. Ku coba membuka lembaran pertama, tanpa identitas. Lalu aku mulai membuka lembaran seterusnya. Sebuah puisi menarikku. Lembaran demi lembaran hanya bertuliskan puisi. Aku bingung dengan buku ditanganku. Tanpa sadar sebuah puisi menyeret rasa penasaranku.

Hijau
Menarik pesonamu tanpa banyak kata padaku
hijau
Menarik pancaran aura indahmu disetiap gerikmu

Kau indah
Tanpa cela
Kau indah
Meski tak banyak kata

Dia
Gadis manis berkerudung hijau

Puisi kedua yang membuatku semakin penasaran

Kemaren ku lihat dia
Di kantin biasa yang dia suka
Duduk dan berbagi cerita
Tersenyum membahana

Dia masih saja sama
Kerudung hijau yang memikat rasa

Entah mengapa
Dua tahun sudah lamanya
Kali ini Tuhan tak mungkin salah
Kalau ia adalah pesonaku yang terindah


Ku buka lembaran terakhir catatan kecil itu, mencari nama pemilik yang sebenarnya. Debaran jantungku bergetar hebat begitu melihat nama itu, AW. Rasanya tak mungkin, aku tak mungkin salah baca. Atau barang kali ada seseorang yang ingin mengerjai ku. Tapi kenapa harus aku? Dan puisi itu, kata-katanya? Gadis berkrudung hijau. Bukankah itu aku? Aku yang slalu suka memakai kerudung hijau.


Karyawan kantor mulai semakin banyak. Reni juga hadir disana bersama yang lainnya. Aku mencari inisial AW yang ada di buku catatan tadi. Barangkali ada yang merasa kehilangan kemudin memberi pengumuman pada kami. Dan aku siap memberikannya walau resiko apapun. Sudah lama aku berdiri tapi tak seorangpun yang merasa kehilangan. Aku semakin linglung dan bingung. Pak Anwar tiba-tiba saja menghampiri meja kerjaku. Aku gugup, aliran darahku mencuat, jantungku tidak menentu.

Pk Anwar tersenyum padaku, dengan gugup aku membalas senyumnya.
"Ada yang bisa saya bantu pak" tanyaku menahan gugup
"Ada" sungguh singkat jawabanya
"Semua karyawan saya mohon untuk berdiri" pak Anwar memberi aba-aba pada yang lain.
Ada apa ini? Apa yang terjadi? Apa yang salah dariku?. Ku lihat semua karyawan berdiri dan menatap ke arahku dan pak Anwar. "Ada acara apa ya pak" tanyaku heran
"Hari ini, didepan kalian semua tampa banyak kata saya hanya..." pak Anwar menatapku "Tina, maaf kalau saya mengejutkamu dan membuatmu penasaran tapi yang jelas niat baik bukanlah salah. Untuk hari ini saya ingin meminangmu agar menjadi halal dunia akhirat untukku"
Saat itu aku terpana. Tidak tau harus berkata apa. Tuhan dalam diam aku memuji keagunganmu.

Sebuah cincin melingkar di jemari manisku. Semua orang bertepuk tangan dan saling mengucapkan selamat. Aku tersenyum menatap sosok disampingku. Dialah pangeran impian itu.
Alhamdulilalh ya Allah, syukurku dalam diam.







 






























0 komentar:

Poskan Komentar