Selasa, 02 April 2013

MASA LALU





            ***
            “Aku baru patah hati kak”  ungkapku pada sosok dihadapanku. Mataku lurus menatap senar gitar ditanganku.
Mata itu menyipit kemudian ia mengembangkan senyumnya, manis. “Terus, kalau kamu patah hati kamu bakal biarin diri kamu tenggelam dalam kesedihan?” ia menolehku, mengambil gitar ditanganku kemudian memainkannya.
            Aku menatap sosok itu, berfikir tentang apa yang diucapkannya. Ku tatap wajahnya dalam, ada kebenaran dari matanya yang teduh. Ah, andai saja semudah membalikkan telapak tangan untuk melupakan bayangan itu pastilah saat ini aku tidak akan pernah memikirkannya lagi. Tapi, semuanya tidak seperti itu, melupakannya tidak seindah kenyataan yang ada.
            “Mes, balik yuk?” Rara berdiri dihadapanku.
            Aku mengangguk, “aku balik dulu ya kak, besok kita main lagi”
            Sosok itu menatapku lalu mengangguk. “Benar ya?”
            Aku tersenyum, “iya”
            Engkaukah perawan itu…
            Mengipaskan angin cinta…
            Menafsir luka lara dari kerut wajahku dari senyuman pahit ku…
Engkaukah perawan itu…
Yang datang dalam mimipiku…
Menyembuh luka lama dengan suara syahdu…
Meninggalkan rasa rindu…”

Dari kejauhan meskipun samar-samar aku bisa mendengarkan lagu yang dimainkannya. Suaranya indah, merdu dan menyentuh. Tadi, waktu aku disana sosok itu sama sekali tidak ingin menyanyi walau sebersi keras apapun aku memintanya.
“Aku tidak suka yang mellow mes, aku sukanya yang ngerock. Metal” jelasnya.
“enggak apa-apa kak yang penting kakak mau nyanyi, sekali aja” pintaku berharap.
Sosok itu justru menjawabnya dengan senyuman, dan aku langsung luluh begitu saja.

***
“Senyum-senyum sendiri. Sms dari kak Andri yah?” goda Rara. Dengan sigap tangannya langsung meraih HP ditanganku.
“Rara…” teriakku tidak terima. “ Bukan kok, emang kenapa?” aku berusaha mengambil HP darinya.
“Yah, udah dihapus” ada kekecewaan dari nada Rara. “enggak asik lu” tungkasnya mengembalikan HP padaku.
Aku tersenyum puas “suruh siapa jahil gitu, lu si kepengen tau mulu gue smsan ama siapa”
“Gue kan temen lu Mes, wajar dong gue pengen tau”
“Wajar si, tapi kan..?”
Belum selesai aku menjawab, Rara menggambil posisi duduk dihadapanku. “Lu tau enggak Mes, banyak yang berubah sama diri lu semenjak kenal kak Andri” ada nada serius dari ucapannya.

“Berubah?” aku menatap diriku sendiri. “Perasaan masih kayak dulu kok, gue masih kurusankan?”
Rara menyentuh pundakku “gue serius, bukan itu tapi yang lain”
“Terus apaan?”
“Gue udah nemuin Mesy yang dulu, lu tau kenapa? Semenjak lu putus ama Fendi hari-hari lu begitu gelap. Lu sering murung, nangisin dia ampe semuanya begitu beda banget. Trus sekarang lu balik ke diri lu sendiri dan gue senang banget lihat lu yang sekarang”
Aku diam. Tidak ingin rasanya mengingat kejadian yang dulu toh hal itu sudah terjadi. Mengingatnya sama halnya menggali rasa pilu dan benci yang amat dalam. Bahkan namanya saja aku mual mendengarnya. “Gue udah pernah ngomong sama lu, jangan pernah ngingatin kenangan itu” aku berdiri memalingkan pandangan kearah yang lain.
“Sorry Mes, gue bukannya mau ngingatin lu ama yang dulu tapi justru lu harus belajar dari kejadian yang lalu”
“Nah, kenapa sekarang lu malah ngajarin gue?”
“Gue enggak ngajarin kok Mes” Rara malah ngambek “kan elu marah?”
Kalau Rara mayun aku akan luluh. “Gue enggak marah Ra, gue cuman canda jangan ambil hati gitu napa. Lu kayak baru kenal gue aja”
 Rara tidak jadi mayun ia malah tersenyum “ mes, ada sms tuh dari kak Andri”
Aku meraih HP ku dengan sigap, mengecek layarnya. Kosong. Lagi-lagi deh Rara berhasil mengerjaiku. “Emang yah, kalau sehari ajah enggak ngerjain gue hidup lu bakal hampa gitu”
“Ketahuan banget yah, hehe… peace Mes” Rara mengacungkan dua jarinya ke awang-awang. Sambil tersenyum puas.

***
Setidaknya luka bisa disembuhkan dengan seiring bergulirnya waktu. Begitulah yang sering ku dengar dari mereka yang pernah merasa patah hati. Mengapa tidak, aku juga dapat mengakuinya meskipun setengah persen dari seratus pesen. Luka itu mulai menipis dan tak terlihat lagi. Kejadian yang lalu ku anggap hanya sebatas kenangan yang tak perlu diungkit dalam ingatan. Setidaknya masa-masa menyakitkan itu adalah pelajaran yang mendewasakan kepribadian. Ku harap seperti itu dan biarlah semua menjadi nostalgia.
 Waktu begitu cepat berlalu, hari-hariku mulai seperti biasa. Aku lebih sering menulis beberapa kejadian dalam hidupku yang berubah dalam bait-bait puisi yang tidak begitu beraturan. Seperti kali ini, aku mencoba mengeluarkan isi hati.

Dan kau,
Sebait lentera yang baru terlahir dihidupku yang rumit
Secercah cahaya rembulan yang menelusuri lorong gelapnya hati
Sepercik air hujan yang menghilangkan dahaga dalam dada


 Dan kau,
Bagai senja yang hilang menghampiri sisi lainnya
Menabur senyum
Menghias sepi


“Nulis apa Mes?” kepala Rara tiba-tiba saja muncul dihadapanku, ia mengubris tanganku yang berusaha menutupi layar notebook.
“Apaan si Ra?” sewotku
Rara berhasil mengelakkan tanganku, “ya elah, gue fikir lu ngapain? Tau-taunya nulis puisi. Buat siapa ni?” Rara menatapku.
Aku mendengus kesal, “enggak buat siapa-siapa kok. Gue cuman pengan nulis ajah kan udah lama enggak nulis puisi jadinya gue kangen”
Rara menghindariku, ia duduk disalah satu sisi ranjang. Matanya menatapku seolah menertawakan tingkahku yang dinilainya begitu konyol. “Coba deh lu baca baik-baik trus lu hayati. Gue emang enggak puitis Mes tapi gue cukup mengerti kalau masalah hati” Rara meletakkan kedua tangannya didada. Memberi aba-aba yang tidak ku mengerti lalu membentuknya menjadi love. “Lu jatuh cinta ya?”
Sontak aku kanget, apa maksud Rara?. Ku pandangi puisi yang baru ku tulis. Tidak ada yang aneh, kata-katanya juga biasa menurutku.
“oke, enggak apa-apa kalau lu enggak ngaku yang jelas gue udah ngerti perasaan lu” senyum Rara jahil.
Keningku berkerut, Perasaan?. “Ra, sini deh gue mau jelasin ke elu. Lu taukan kalau lu sahabat gue yang paling baik sedunia, gue emang punya perasaan tapi bukan perasaan suka, cinta atau apalah namanya”
“hahaha… dasar yah, udah ketangkap basah masih aja ngelak”
“Rara…!”
“Lu sebenarnya suka ma kak Andri kan? Tapi lu pura-pura enggak ngerti ama prasaan lu sendiri”


“Astaga Ra, gue…” HP ku tiba-tiba berdering, satu pesan masuk. Sesaat ku pandangi layarnya, kemudian menatap Rara. Sms kak Andri.
Besok main yah
Kangen J
“Udahlah sobat gimanapun mata itu enggak bakal pernah bohong”
Kali ini aku akui aku kalah. Telak.

***
“Kamu kenapa bisa putus Mes”


Sontak saat itu jantungku seakan berhenti berdetak. Mataku yang sedari tadi fokus menatapnya yang sedang bermain gitar kini terasa perih. Pertanyaan itu yang paling ku benci selama ini. Pertanyaan yang menyebalkan, kenapa harus itu? Apa tidak ada yang lain?.
“Kok diam”
Sama sekali tidak mengerti “aku enggak mau jadi selingkuhan” jawabku singkat. Hatiku terasa begitu sakit.
“Oh… “ kak Andri kembali memainkan gitarnya.
“Jadi selingkuhan itu menyakitkan. Dari pada diselingkuhin mending putus aja” ku pandangi kak Andri serius “atau enggak mending kita aja yang nyelingkuhin” tawaku kecil. Untuk apa membenci mantan lama-lama.
Ku pandangi kak Andri, aku merasa seakan ada yang berbeda dengan kak Andri hari ini, kemana senyum itu? Senyum yang slalu ku tunggu-tunggu darinya. Senyum yang siap membuat hariku kian berbeda. Senyum yang mampu menjadikan karang hatiku pecah berhamburan. Senyum yang begitu tulus dan murni. Ah….
“HP lu bunyi An” kak Tomi, teman dekat kak Andri menghampiri kak Andri lalu mengulurkan sebuah HP.
“Siapa?” Tanya kak Andri
“Biasa” jawab kak Tomi membuatku bingung.
“Bentar yah” kak Andri tersenyum padaku kemudian menjauh.
Aku mulai curiga, ada sesuatu yang disembunyikannya dariku. Ku perhatikan kak Andri dari kejauhan, mataku tak ingin lepas dari setiap kata yang diucapkannya. Kak Andri tidak banyak berkata hanya menjawab sekedarnya saja. Tapi, mengapa aku begitu ingin tau apa saja yang dibicarakan kak Andri dengan seseorang disana? Meskipun hanya lewat HP tapi sepertinya ada yang mengganjal dihatiku.
“Lama ya?” kak Andri mengambil posisi duduknya ditempat semula. Ia lalu meraih gitarnya kemudian memainkannya kembali. “Kamu kenapa? Kok diam, enggak kayak kemaren-maren. Cerewet, hehe…” tawanya.
masa bodo, kesalku dalam hati. Dua kali kak Andri  membuatku kesal hari ini. Pertama masalah mantan, kedua karna kak Andri menjauhiku sewaktu menelpon tadi. Ah, aku benar-benar kesal.
“Mesya…Mesya…Mesya…” panggilan yang sering kak Andri lakukan padaku. Ia meletakkan gitarnya, kemudian menarik sisi bajuku.
Aku masih tetap diam. Ku pandangi HP ku, semenjak tadi sewaktu kak Andri menjauhiku aku memainkan Fb lewat HP. Ku buka nama Fb kak Andri kemudian melihat-lihat fhotonya. Ku lihat kak Andri bersama seseorang disana, tidak terlalu mesra tapi senyum itu, senyum yang slalu kak Andri tunjukkan padaku mengapa ia membaginya pada orang lain? Atau jangan-jangan senyum disana lebih dari sekedar senyum biasa. Ku pandangi kak Andri, hatiku terasa sedikit teriris.
“Kamu kenapa?” kak Andri mencoba meraih HP ditanganku. “Dari tadi kakak panggil kamu diam aja, kenapa?”
Beruntung, aku langsung mengeluarkan Fb dari HP sebelum kak Andri berhasil mengambil HPku.
“Kan kakak udah pernah bilang, enggak boleh main HP kalau lagi sama kakak. Masa kamu lupa?”
Aku tersenyum kaku, “ iya kak, aku enggak bakal lupa kok”
“Nah gitu dong, kan enak” kak Andri tersenyum
Dan aku kembali terjatuh dalam senyum itu.

***
  “Aku suka kakak” pengakuan yang bodoh memang tapi itulah kenyataannya. aku tidak bisa menyimpan rasa ini sendiri, aku telah memendamnya selama mengenalinya, lama sudah ku pendam.
Suara diseberang sana mendengus.
Aku tak peduli apa yang ku rasa kali ini. “Aku tau tentang kakak slama ini. Tapi bagaimanapun  perasaan itu benar-benar sakit kalau  dipendam”. Ku rasakan aliran darahku yang mengalir semakin deras. Jantungku berdetak lagi dan lagi. “Maaf kak, aku merusak suasana hati kakak”
“Enggak apa-apa”
Ah, suaranya merdu sekali. Jawabannya seakan menjadikan dunia gelapku terang.
“Suka itu hak setiap orang, tapi apa kamu benar-benar menyukai kakak….?” Dia membawa suasana dengan bercanda.
Aku mengangguk sendiri. “Ya” yakinku
“Kenapa harus kakak”
“Aku enggak tau kak, yang pastinya aku suka sama kakak” spontan jawaban itu mengalir dari bibirku. “Kakak... kakak suka sama aku?” ku hembus nafasku panjang. Mataku terpejam, antara takut dan penasaran akan jawaban kak Andri.
Kak Andri lalu diam untuk beberapa menit “kakak harap kamu yakin dengan perasaanmu”
           
Lalu suasana diantara kami mulai berubah semenjak malam itu.

***
Siapa yang dapat menyangka kejadian indah menjadi suram?
Siapa yang tau kejadian bahagia menjadi memilukan?
Siapa juga yang tau kalau hati yang berbunga-bunga kembali bergguguran?
Dan itulah yang aku rasakan saat ini.
            “Kak Andri emang suka sama lu Mes, tapi dia enggak mau nyakitin lu” wajah indah Rara seolah  merasakan kesedihanku.
Ku tatap Rara yang ikut duduk disampingku.
“Gue tau dari kak Tomi. Dia cerita ke gue tentang kak Andri katanya dia sayang sama lu tapi dia enggak mungkin bisa miliki lu, lu tau sendirikan dia udah...”
“... punya pacar maksud lu. Gue udah tau lama tapi gue enggak tau kenapa gue tetep pengen dekat ma dia. Gue ngerasa nyaman ajah bareng dia Ra” ku usahakan air mataku tidak keluar. “Ra, sebenarnya gue dah tau lama kak Andri punya pacar malah gue pernah lihat fhoto bareng mereka d FB” kenangku mengingat kejadian waktu itu. Tapi entah kenapa aku tetap saja menginginkan sosok itu, malah merindukannya.
“Sabar say” Rara mengelus-ngelus kepala dan pundakku.
“Mungkin udah takdir gue, jadi ngapain juga nyesel toh gue yang salah udah tau punya pacar masih ajah kepengen dekat yah ginikan akhirnya. Nyesak, sakit dan pastinya nyesal banget” aku berusaha setegar mungkin.
“Udah, lu enggak boleh ngomong gitu, seharusnya lu bersukur udah ada seorang kakak yang sayang sama lu, iya kan?”
Aku tersenyum. “Iya “ jawabku berusaha senyum.
“Kakak... kakak suka sama aku?” kembali tanya itu terkenang difikiranku.

***
“Besok kak Andri nikah”
Seperti sebuah petir di siang bolong aku mendengar kabar yang mengejutkan itu. Aku merasa tidak bisa mendengar apap-apa lagi selain hanya kata nikah dan nama kak Andri. Mataku menatap fokus kearah Rara.
“Nikah?” ungkapku pelan namun sangat sakit.
“He’eh” Rara mengusap bahuku. Matanya meyakinkan tanyaku.
Aku pura-pura masuk kekamar mandi. “Gue mau nyuci muka dulu” tandaskku perih. Langkahku lunglai, kepalaku terasa amat sangat berat. Ada apa ini? Mengapa sesakit ini? Toh aku dan kak Andri tidak ada hubungan apa-apa tapi kenapa rasanya sakit. Ku tekan dadaku agar perih ini hilang. Percuma saja, malah akan semakin sakit. Air mataku tidak bisa diajak kompromi, begitu saja mengalir dan terus mengalir. Ku putar kran agar tangisku tidak terdengar oleh Rara. Aku tak tau apa yang harus ku lakukan saat ini. Bingung.
“Lu ngapain Mes?” Rara mengendor-gedor kamar mandi beberapa kali.
Segera ku hapus air mataku dan mencuci muka. “Gue lagi nyuci muka”
“Lama banget, jangan bilang kalau lu nangis” teriak Rara.
“Gue enggak nangis kok” elakku. Segera ku buka pintu kamar mandi. Tak ku pedulikan tatapan aneh Rara.
Rara menarik tanganku, “tuh kan, lu nangis”
Kali ini aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, air mataku begitu saja mengalir. “Gue enggak bisa Ra, gue udah nyoba sabar tapi sama sekali enggak berhasil. Rasanya sakit banget disini” ku usap-usap dadaku yang perih
“Lu harus kuat, harus tabah” Rara ikut menangis

***
Dan kali ini tiada lagi hari yang sama
Saat matahari terbit
Semua kosong bahkan terasa hampa
Hilang sudah

Senyum itu punah menjadi tangis
Biarlah,
Kelak laksana malam kan ditemani sang purnama
Bahkan bintang juga kan bersinar

Ku save puisi terakhirku. Malam ini aku memandang langit diluar jendela. Balkon kamarku terasa sepi, ku tatap HP ku tak ada lagi nada sms yang biasanya mengganggu sunyiku. Mungkin saja seseorang itu bukanlah matahari yang benderang untukku, bukan juga purnama barangkali suatu hari nanti bintang-bintang kecil disana berkumpul menjadi satu cahaya yang indah. Lalu menghampiriku dengan sinarnya yang tulus.
Ku tatap kembali layar notebook ku, kenangan itu takkan pernah hilang. Dua sisi yang berbeda namun datang dengan niat yang tulus. Kemudian pergi selamanya. Selamat tinggal kenangan bisikku sendu.


:) sebuah nostalgia lama :)
:) trimakasih telah mengajarkanku apa itu arti kasih sayang yang sesungguhnya :)

Senin, 04 Maret 2013

DAN JIKA

Dan kita telah memulai waktu pagi dalam senyum yang berbeda
Menyambut mentari bagaikan sepasang sejoli
Aku Julietnya
Kau Romeonya

Dan kita telah menata rindu dalam ruang bahagia
Bagaikan sepasang merpati hinggap didahan kenari
Aku putih
Kau hijau

Sempurna begitu rasanya

Jumat, 15 Februari 2013

DALAM DIAM, AKU MENCINTAIMU


Dia oh dia,
Dia tidaklah rupawan seperti yang diharapkan sejuta perempuan.
Dia juga tidaklah tampan seperti yang diimpikan seribu perempuan.
Dia biasa-biasa saja. Malah lebih biasa ku rasakan.
Tapi dia sosok yang berbeda diantara berjuta pria yang didambakan semua prempuan.

***
Seperti biasa, aku mulai melakukan aktifitas kecilku. Seusai subuh aku membersihkan kosan lebih dulu, menyapu kamar, mencuci baju, piring hingga menyetrika baju. Selesai sudah, aku kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuh.

" Ya Tuhan..." aku  mendengus sambil melototi jam dipergelangan tanganku. Tujuh menit lagi waktu yang tersisa untukku. Aku buru-buru menghetikan angkutan umum. Hari semakin panas, jalanan macet. Mau tidak mau aku pasti telat masuk kerja. Dan lagi-lagi aku harus mempersiapkan diri untuk mendapat hukuman dari atasan, omelan ples membersihkan semua kamar mandi. Sungguh sulit dibayangkan.

"Ren, tolong izinin aku yah. Aku telat masuk, jalanan macet banget" pintaku pada Reni diseberang telepon.
"Iya, entar aku izinin"
"Makasih yah"
"Oke, sama-sama"
Ku sudahi panggilan. Ada kesedihan yang kurasakan, padahal tadi pagi aku berusaha untuk tidak tidur sehabis salat subuh. Tapi hasilnya tetap sama saja, aku masih terlambat masuk kantor. Ku perhatikan jalanan, macet dimana-mana. Bagaimana ini? Hampir jam delapan. Aku berusaha untuk tidak melirik jam ditanganku. Biarkan saja waktu berlalu toh apa yang harus disesali lagi.

"Baru nyampe?"
Sontak aku terkejut. Bukan karna keterlambatanku, bukan juga karna hukuman ataupun omelan. Hanya saja suara aneh yang sama sekali belum pernah ku dengar tiba-tiba saja mengejutkanku. Aku berbalik arah, menutup pintu kantor. "Iyah pak, tadi macet" sedihku. Sudah hampir jam 09.00 sedang aku baru saja tiba. Hampir dua tahun lebih aku bekerja di kantor ini tapi baru kali ini aku mendengar suara itu.
"Ya sudah, lain kali kebiasaan seperti ini jangan diulang lagi" mata sendu itu tersenyum.
Subhannallah ku palingkan seketika itu pandanganku. Begitu teduh pancaran sinar wajahnya, begitu halus bicaranya.
"Maaf, saya duluan yah, mau solat jum'at"
Dan abu-abu itu kian berubah menjadi hijau warnanya.

***
"Besok jangan telat lagi Tin, untungnya pak Ajat enggak masuk. Aku enggak bakal bisa bayangin lagi kalau pak Ajat ada, kamu pasti diomelin trus disuruh bersihin kamar mandi" Reni menasehatiku. Mukanya semakin mungil dengan jilbab ungu yang dipakainya. Ia menatapku iba.
"Aku udah berusaha buat enggak telat Ren, tapi hasilnya yah begini mulu" ku seruput teh dingin ditanganku. Ku sandarkan punggungku yang terasa gilu.
"Jangan bilang kalau habis subuh kamu tidur lagi"
Mataku menyipit "enak ajah, aku punya kegiatan kok" elakku
"Bagus kalau gitu" Reni melahap makan siangnya. "Aku lapar banget Tin, tadi pagi belum sempet sarapan"
"Jangankan sarapan Ren, nyampe kantor enggak telat ajah alhamdulillah"

Seperti biasa, jam istirahat siang aku dan Reni slalu menghabiskan waktu dikantin. Bercerita, mencari solusi juga saling bertukar fikiran. Reni memang sosok sahabat yang penyabar dan slalu ceria. Hidup itu harus dibawa enjoy Tin, kalau serius mulu entar bakal jadi gila itu katanya padaku. Tapi namanya juga manusia karakteristiknya berbeda. Aku bukan sosok wanita tegar dan penyabar sepertinya.

Aku memutar pandanganku keseluruh kantin, hampir semua karyawan berkumpul disana untuk makan siang. Suasana yang slalu ku rindu, dimana semua orang sibuk melakukan apa saja, terbebas dari guratan pekerjaan dikantor yang memusingkan fikiran. Ada yang tertawa, ada yang sibuk dengan HP ataupun laptopnya masing-masing ada juga yang sedang menyendiri barangkali mencari ide dan gagasan untuk perkembangan yang lebih baik lagi. Mataku tiba-tiba saja menangkap sosok yang baru saja memasuki kantin, jujur saja baru kali ini aku melihatnya disini. Atau mungkin karna dulu mataku tidak sejeli hari ini. Sama sekali tidak begitu.

"Tin, pak Anwar" Reni mencolek lenganku.
"Iyah, aku juga lihat kok. Subhannallah yah Ren" tanpa ku sadari aku berdecak kagum.
Reni menatapku.
"Coba deh kamu fikirin, wanita mana yang tidak terpikat pada sosok sepertinya. Soleh, baik, berwibawa, dermawan, mudah senyum" aku memuji sosok itu.
"Iyah si tapi orangnya pendiam banget" ujar Rena."Aku jadi sungkan"
Ada benarnya juga dengan kata Rena "mungkin karna kita belum mengenal sosoknya" ujarku, menegaskan lebih pada diri sendiri.
"Iya mungkin"

Sekilas ku pandangi sosok disana, dia menyendiri dan hanya menikmati secangkir kopi dimejanya. Tangannya sibuk menulis sesuatu dilembaran hariannya. Tuhan, jangan palingkan hatiku agar tidak pernah menjadi debu. Dalam diam aku hanya berharap.


***
Pagi sekali aku sudah berada dikantor. Hari ini dan sampai esok aku tidak akan mengulang kesalahnaku lagi. Telat datang ke kantor. Dan akhirnya tugas menumpuk di meja kerjaku. Baru saja aku ingin merapikan meja kejaku, sebuah buku catatan kecil yang bukan milikku tergeletak disana. Aku berusaha melirik semua isi kantor tapi tidak seorangpun yang ku temukan terkecuali pak Amin, OB kantor. Tentu saja buku catatan itu bukan miliknya.

"Pak Amin, bapak tau ini milik siapa?" aku memperlihatkan buku ditanganku.
Pak Amin menggeleng "saya tidak tau mbak"
"Tadi pagi atau semalam bapak ada lihat orang enggak di meja kerja saya?"
Lagi-lagi pak Amin menggeleng.
"Ya udah pak, makasih" aku menghampiri meja kerjaku. Aku begitu penasaran dengan isi buku catatan ditanganku. Ku coba membuka lembaran pertama, tanpa identitas. Lalu aku mulai membuka lembaran seterusnya. Sebuah puisi menarikku. Lembaran demi lembaran hanya bertuliskan puisi. Aku bingung dengan buku ditanganku. Tanpa sadar sebuah puisi menyeret rasa penasaranku.

Hijau
Menarik pesonamu tanpa banyak kata padaku
hijau
Menarik pancaran aura indahmu disetiap gerikmu

Kau indah
Tanpa cela
Kau indah
Meski tak banyak kata

Dia
Gadis manis berkerudung hijau

Puisi kedua yang membuatku semakin penasaran

Kemaren ku lihat dia
Di kantin biasa yang dia suka
Duduk dan berbagi cerita
Tersenyum membahana

Dia masih saja sama
Kerudung hijau yang memikat rasa

Entah mengapa
Dua tahun sudah lamanya
Kali ini Tuhan tak mungkin salah
Kalau ia adalah pesonaku yang terindah


Ku buka lembaran terakhir catatan kecil itu, mencari nama pemilik yang sebenarnya. Debaran jantungku bergetar hebat begitu melihat nama itu, AW. Rasanya tak mungkin, aku tak mungkin salah baca. Atau barang kali ada seseorang yang ingin mengerjai ku. Tapi kenapa harus aku? Dan puisi itu, kata-katanya? Gadis berkrudung hijau. Bukankah itu aku? Aku yang slalu suka memakai kerudung hijau.


Karyawan kantor mulai semakin banyak. Reni juga hadir disana bersama yang lainnya. Aku mencari inisial AW yang ada di buku catatan tadi. Barangkali ada yang merasa kehilangan kemudin memberi pengumuman pada kami. Dan aku siap memberikannya walau resiko apapun. Sudah lama aku berdiri tapi tak seorangpun yang merasa kehilangan. Aku semakin linglung dan bingung. Pak Anwar tiba-tiba saja menghampiri meja kerjaku. Aku gugup, aliran darahku mencuat, jantungku tidak menentu.

Pk Anwar tersenyum padaku, dengan gugup aku membalas senyumnya.
"Ada yang bisa saya bantu pak" tanyaku menahan gugup
"Ada" sungguh singkat jawabanya
"Semua karyawan saya mohon untuk berdiri" pak Anwar memberi aba-aba pada yang lain.
Ada apa ini? Apa yang terjadi? Apa yang salah dariku?. Ku lihat semua karyawan berdiri dan menatap ke arahku dan pak Anwar. "Ada acara apa ya pak" tanyaku heran
"Hari ini, didepan kalian semua tampa banyak kata saya hanya..." pak Anwar menatapku "Tina, maaf kalau saya mengejutkamu dan membuatmu penasaran tapi yang jelas niat baik bukanlah salah. Untuk hari ini saya ingin meminangmu agar menjadi halal dunia akhirat untukku"
Saat itu aku terpana. Tidak tau harus berkata apa. Tuhan dalam diam aku memuji keagunganmu.

Sebuah cincin melingkar di jemari manisku. Semua orang bertepuk tangan dan saling mengucapkan selamat. Aku tersenyum menatap sosok disampingku. Dialah pangeran impian itu.
Alhamdulilalh ya Allah, syukurku dalam diam.







 






























Sabtu, 01 Desember 2012

KAU DAN AKU,TAKKAN MUNGKIN

   "Dia sahabatku May, dan aku tidak mungkin bisa menerimanya?" sahutku pada Maya yang berdiri didepan pintu kelas.
   "Hei, apa salahnya? dia menyukaimu, mencintaimu Sya?" ungkap Maya memperjelas kata-katanya. Maya menghampiriku dengan wajah seriusnya. Sorot matanya tajam menatapku.
   Aku menyingkirkan buku yang sedari tadi ditanganku, lalu membalas tatapannya. "Tapi May, aku hanya menganggapnya sahabat, dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun." Tegasku. Sungguh, aku tidak berniat untuk mengubah keputusan bulatku, bahkan sampai kapanpun. Dan terlebih lagi dia dan aku...! ku ubris ingatanku.
   "Oke, tapi kuharap keputusanmu bisa berubah, itu pesanku." Maya meninggalkanku sendiri.
   Aku mematung sendirian didalam kelas. Otakku mencerna kata-kata Maya tadi. Bagaimana mungkin aku bisa menerima seorang sahabat menjadi kekasih? bukankah itu hal yang seharusnya aku hindari. Lalu tadi, Maya tiba-tiba datang menghampiriku dan menanyaiku. Bukankah itu aneh. Sedikitpun aku tidak pernah berfikir hal itu akan terjadi, sahabat jadi pacar. Ah, aku tidak mau dan sama sekali tidak menginginkannya.
   "Tasya?" pangilan itu membuyarkan fikiranku. Sosok Alfin berdiri dihadapanku. Entah sejak kapan dia berdiri disana. "Ada yang sedang kamu fikirkan?"
   Aku memperhatikannya untuk beberapa menit, "ada" jawabku hampir tidak terdengar.
   "Apa?" ulang Alfin.
   "Oh, enggak ada Fin," jawabku bohong. "Kamu ngapain kesini?, kok blom pulang?" tanyaku berpura-pura. Ah, bukahkah aku sudah tau jelas jawabannya.
   "Lah, emang kenapa? Biasanya kita juga bareng kok. Atau ada yang mau jemput kamu?" binar mata Alfin menggodaku.
   Aku tau Alfin pura-pura menggodaku. "Siapa yang mau jemput Fin, biasanya juga kamu yang slalu datang menawarkan kebaikan untukku" kali ini aku serius dengan ucapanku. "Atau mungkin kamu...?"
   "Tidak ada Sya," jawabnya sebelum menyelesaikan kata-kataku. "Kalaupun ada itu pasti kamu" ada nada mendalam dari ucapan Alfin.
   Aku mencari rangkaian butir-butir sorot matanya, memasuki wilayah yang paling dalam. Disana, kerlap-kerlip rona kejujuran itu telah bersemayam lama namun aku baru bisa menemukannya hari ini semenjak tadi, setelah Maya datang kepadaku. "Alfin menyukaimu Sya, dia benar-benar menyukaimu" 
  "Masih mau pulang atau tetap mau tinggal didalam kelas" Alfin mengubrisku, ia menarik lengan bajuku.
  "Oke, kita pulang sekarang". Aku mengikuti langkah Alfin dengan beribu pertanyaan.

***

   "Alfin," panggilku.
   Orang-orang didalam kelasnya menatapku aneh. Aku tidak peduli, tujuanku hanya Alfin. Keputusanku telah bulat, aku sudah memikirkannya semalaman. Hari ini aku akan menanyakan Alfin, tentang perasaannya padaku. Aku tidak ingin terlalu lama dengan praduga atau apalah namanya.
  Alfin menghampiriku yang mematung didepan kelasnya, mungkin dia heran kenapa kali ini aku yang mendatanginya. "Kamu kenapa Sya, tidak biasanya seperti ini?"
  Aku tidak menghiraukan pertanyaannya yang terlalu berbasa-basi. "Aku lebih suka kepastian Fin"
  "Kepastian? apa maksudmu.? Aku sama sekali tidak mengerti"
  "Aku akan mengajarimu untuk mengerti." Aku langsung menarik tangan Alfin, menjauhi teman-teman sekelasnya. Ku bawa ia kebelakang sekolah, menghindari keramaian. Aku melepaskan tangan Alfin.
  "Apa yang terjadi Sya, kenapa kamu membawaku kesini?"
  Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku malah membelakanginya.
  "Sya? ada apa sebenarnya?" Alfin berusaha meraih tanganku.
  Aku menjauhi tangannya yang ingin meraihku "tidak usah berpura-pura karna aku  sudah tau apa yang sebenarnya. Cukup hanya jujur Fin." Aku tidak berani menatap kedua mata teduhnya.
   Aku bisa merasakan saat ini hanya fikirannya yang berani berucap.
   "Kenapa?"
   Alfin mulai membisu.
   "Apa kau menyukaiku?" aku memberanikan diri memandanginya. Ia tertunduk, hanya itu yang bisa ku dapati. "Kenapa Fin? apa kau bisu?"
   Alfin sama sekali tidak bergumam, hanya desahan napasnya yang teratur yang bisa kudengar.
   "Ayo jawab, apa kau benar-benar menyukaiku?" aku menggoncang-ngoncang tubuh Alfin. Mataku mulai memerah.
   "Ya, aku benar-benar menyukaimu"
   Air mataku tumpah, seketika itu aku mendorong tubuh Alfin. "Tuhan..." desahku pelan. Tubuhku lemas. Aku tidak mempercayai semuanya, tentang apa yang akan terjadi. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi.? Apa yang dikatakan Maya benar-benar kenyataan.
   "Kenapa? apa aku salah menyukaimu?" Alfin tidak menghiraukan air mataku. Ia justru mendekatiku.
   "Kau sama sekali tidak boleh melakukannya Fin, apa kau sadar?" teriakku keras.
   "Husss.... jangan kencang-kencang. Aku tidak tuli, aku masih bisa mendengar" Alfin semakin mendekatiku.
   Aku malah ketakutan dengan tingkah Alfin kali ini. Dia sama sekali berbeda dimataku. Kemana Alfin yang tadi? Saat ini dia benar-benar menakutkan.
   "Jangan takut Sya, aku masih Alfin, Alfin yang kamu kenal. Lihat... lihat aku baik-baik"
   "Kau bukan Alfin yang aku kenal!" ucapku kasar. Aku mendorong tubuhnya kasar hingga ia terjerembab. "Maafkan aku Fin, aku tidak menyukaimu, tidak juga mencintaimu. Lebih baik kau kubur saja harapanmu" tungkasku. Aku meninggalkannya sendiri. Aku menjauihinya, meninggalkannya sendirian.
   "Tapi aku menyukaimu Sya, aku mencintaimu" teriak Alfin keras.
   Aku berlari sebelum mendengar pernyataannya. "Tidak, kau tidak boleh melakukannya." Aku menghapus air mataku yang tumpah sedari tadi. "Aku tidak menyukaimu Fin, sama sekali tidak menyukaimu. Apa kau sadar kau siapa? apa kau tidak ingat dengan ikatan kita.? Kau dan aku... kita sepupu."
Add caption
   Aku terjatuh diatas lantai. Dadaku terasa sesak.