Dan kita telah memulai waktu pagi dalam senyum yang berbeda
Menyambut mentari bagaikan sepasang sejoli
Aku Julietnya
Kau Romeonya
Dan kita telah menata rindu dalam ruang bahagia
Bagaikan sepasang merpati hinggap didahan kenari
Aku putih
Kau hijau
Sempurna begitu rasanya
Jika puisi adalah rindu, maka aku adalah rindu. Jika puisi adalah cinta, maka aku adalah penikmat cinta. Jika puisi adalah racun, maka aku adalah penawar racun. Sederhana saja, sebab aku adalah puisi.
Senin, 04 Maret 2013
Jumat, 15 Februari 2013
DALAM DIAM, AKU MENCINTAIMU
Dia oh dia,
Dia tidaklah rupawan seperti yang diharapkan sejuta perempuan.
Dia juga tidaklah tampan seperti yang diimpikan seribu perempuan.
Dia biasa-biasa saja. Malah lebih biasa ku rasakan.
Tapi dia sosok yang berbeda diantara berjuta pria yang didambakan semua prempuan.
***
Seperti biasa, aku mulai melakukan aktifitas kecilku. Seusai subuh aku membersihkan kosan lebih dulu, menyapu kamar, mencuci baju, piring hingga menyetrika baju. Selesai sudah, aku kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuh.
" Ya Tuhan..." aku mendengus sambil melototi jam dipergelangan tanganku. Tujuh menit lagi waktu yang tersisa untukku. Aku buru-buru menghetikan angkutan umum. Hari semakin panas, jalanan macet. Mau tidak mau aku pasti telat masuk kerja. Dan lagi-lagi aku harus mempersiapkan diri untuk mendapat hukuman dari atasan, omelan ples membersihkan semua kamar mandi. Sungguh sulit dibayangkan.
"Ren, tolong izinin aku yah. Aku telat masuk, jalanan macet banget" pintaku pada Reni diseberang telepon.
"Iya, entar aku izinin"
"Makasih yah"
"Oke, sama-sama"
Ku sudahi panggilan. Ada kesedihan yang kurasakan, padahal tadi pagi aku berusaha untuk tidak tidur sehabis salat subuh. Tapi hasilnya tetap sama saja, aku masih terlambat masuk kantor. Ku perhatikan jalanan, macet dimana-mana. Bagaimana ini? Hampir jam delapan. Aku berusaha untuk tidak melirik jam ditanganku. Biarkan saja waktu berlalu toh apa yang harus disesali lagi.
"Baru nyampe?"
Sontak aku terkejut. Bukan karna keterlambatanku, bukan juga karna hukuman ataupun omelan. Hanya saja suara aneh yang sama sekali belum pernah ku dengar tiba-tiba saja mengejutkanku. Aku berbalik arah, menutup pintu kantor. "Iyah pak, tadi macet" sedihku. Sudah hampir jam 09.00 sedang aku baru saja tiba. Hampir dua tahun lebih aku bekerja di kantor ini tapi baru kali ini aku mendengar suara itu.
"Ya sudah, lain kali kebiasaan seperti ini jangan diulang lagi" mata sendu itu tersenyum.
Subhannallah ku palingkan seketika itu pandanganku. Begitu teduh pancaran sinar wajahnya, begitu halus bicaranya.
"Maaf, saya duluan yah, mau solat jum'at"
Dan abu-abu itu kian berubah menjadi hijau warnanya.
***
"Besok jangan telat lagi Tin, untungnya pak Ajat enggak masuk. Aku enggak bakal bisa bayangin lagi kalau pak Ajat ada, kamu pasti diomelin trus disuruh bersihin kamar mandi" Reni menasehatiku. Mukanya semakin mungil dengan jilbab ungu yang dipakainya. Ia menatapku iba.
"Aku udah berusaha buat enggak telat Ren, tapi hasilnya yah begini mulu" ku seruput teh dingin ditanganku. Ku sandarkan punggungku yang terasa gilu.
"Jangan bilang kalau habis subuh kamu tidur lagi"
Mataku menyipit "enak ajah, aku punya kegiatan kok" elakku
"Bagus kalau gitu" Reni melahap makan siangnya. "Aku lapar banget Tin, tadi pagi belum sempet sarapan"
"Jangankan sarapan Ren, nyampe kantor enggak telat ajah alhamdulillah"
Seperti biasa, jam istirahat siang aku dan Reni slalu menghabiskan waktu dikantin. Bercerita, mencari solusi juga saling bertukar fikiran. Reni memang sosok sahabat yang penyabar dan slalu ceria. Hidup itu harus dibawa enjoy Tin, kalau serius mulu entar bakal jadi gila itu katanya padaku. Tapi namanya juga manusia karakteristiknya berbeda. Aku bukan sosok wanita tegar dan penyabar sepertinya.
Aku memutar pandanganku keseluruh kantin, hampir semua karyawan berkumpul disana untuk makan siang. Suasana yang slalu ku rindu, dimana semua orang sibuk melakukan apa saja, terbebas dari guratan pekerjaan dikantor yang memusingkan fikiran. Ada yang tertawa, ada yang sibuk dengan HP ataupun laptopnya masing-masing ada juga yang sedang menyendiri barangkali mencari ide dan gagasan untuk perkembangan yang lebih baik lagi. Mataku tiba-tiba saja menangkap sosok yang baru saja memasuki kantin, jujur saja baru kali ini aku melihatnya disini. Atau mungkin karna dulu mataku tidak sejeli hari ini. Sama sekali tidak begitu.
"Tin, pak Anwar" Reni mencolek lenganku.
"Iyah, aku juga lihat kok. Subhannallah yah Ren" tanpa ku sadari aku berdecak kagum.
Reni menatapku.
"Coba deh kamu fikirin, wanita mana yang tidak terpikat pada sosok sepertinya. Soleh, baik, berwibawa, dermawan, mudah senyum" aku memuji sosok itu.
"Iyah si tapi orangnya pendiam banget" ujar Rena."Aku jadi sungkan"
Ada benarnya juga dengan kata Rena "mungkin karna kita belum mengenal sosoknya" ujarku, menegaskan lebih pada diri sendiri.
"Iya mungkin"
Sekilas ku pandangi sosok disana, dia menyendiri dan hanya menikmati secangkir kopi dimejanya. Tangannya sibuk menulis sesuatu dilembaran hariannya. Tuhan, jangan palingkan hatiku agar tidak pernah menjadi debu. Dalam diam aku hanya berharap.
***
Pagi sekali aku sudah berada dikantor. Hari ini dan sampai esok aku tidak akan mengulang kesalahnaku lagi. Telat datang ke kantor. Dan akhirnya tugas menumpuk di meja kerjaku. Baru saja aku ingin merapikan meja kejaku, sebuah buku catatan kecil yang bukan milikku tergeletak disana. Aku berusaha melirik semua isi kantor tapi tidak seorangpun yang ku temukan terkecuali pak Amin, OB kantor. Tentu saja buku catatan itu bukan miliknya.
"Pak Amin, bapak tau ini milik siapa?" aku memperlihatkan buku ditanganku.
Pak Amin menggeleng "saya tidak tau mbak"
"Tadi pagi atau semalam bapak ada lihat orang enggak di meja kerja saya?"
Lagi-lagi pak Amin menggeleng.
"Ya udah pak, makasih" aku menghampiri meja kerjaku. Aku begitu penasaran dengan isi buku catatan ditanganku. Ku coba membuka lembaran pertama, tanpa identitas. Lalu aku mulai membuka lembaran seterusnya. Sebuah puisi menarikku. Lembaran demi lembaran hanya bertuliskan puisi. Aku bingung dengan buku ditanganku. Tanpa sadar sebuah puisi menyeret rasa penasaranku.
Hijau
Menarik pesonamu tanpa banyak kata padaku
hijau
Menarik pancaran aura indahmu disetiap gerikmu
Kau indah
Tanpa cela
Kau indah
Meski tak banyak kata
Dia
Gadis manis berkerudung hijau
Puisi kedua yang membuatku semakin penasaran
Kemaren ku lihat dia
Di kantin biasa yang dia suka
Duduk dan berbagi cerita
Tersenyum membahana
Dia masih saja sama
Kerudung hijau yang memikat rasa
Entah mengapa
Dua tahun sudah lamanya
Kali ini Tuhan tak mungkin salah
Kalau ia adalah pesonaku yang terindah
Ku buka lembaran terakhir catatan kecil itu, mencari nama pemilik yang sebenarnya. Debaran jantungku bergetar hebat begitu melihat nama itu, AW. Rasanya tak mungkin, aku tak mungkin salah baca. Atau barang kali ada seseorang yang ingin mengerjai ku. Tapi kenapa harus aku? Dan puisi itu, kata-katanya? Gadis berkrudung hijau. Bukankah itu aku? Aku yang slalu suka memakai kerudung hijau.
Karyawan kantor mulai semakin banyak. Reni juga hadir disana bersama yang lainnya. Aku mencari inisial AW yang ada di buku catatan tadi. Barangkali ada yang merasa kehilangan kemudin memberi pengumuman pada kami. Dan aku siap memberikannya walau resiko apapun. Sudah lama aku berdiri tapi tak seorangpun yang merasa kehilangan. Aku semakin linglung dan bingung. Pak Anwar tiba-tiba saja menghampiri meja kerjaku. Aku gugup, aliran darahku mencuat, jantungku tidak menentu.
Pk Anwar tersenyum padaku, dengan gugup aku membalas senyumnya.
"Ada yang bisa saya bantu pak" tanyaku menahan gugup
"Ada" sungguh singkat jawabanya
"Semua karyawan saya mohon untuk berdiri" pak Anwar memberi aba-aba pada yang lain.
Ada apa ini? Apa yang terjadi? Apa yang salah dariku?. Ku lihat semua karyawan berdiri dan menatap ke arahku dan pak Anwar. "Ada acara apa ya pak" tanyaku heran
"Hari ini, didepan kalian semua tampa banyak kata saya hanya..." pak Anwar menatapku "Tina, maaf kalau saya mengejutkamu dan membuatmu penasaran tapi yang jelas niat baik bukanlah salah. Untuk hari ini saya ingin meminangmu agar menjadi halal dunia akhirat untukku"
Saat itu aku terpana. Tidak tau harus berkata apa. Tuhan dalam diam aku memuji keagunganmu.
Alhamdulilalh ya Allah, syukurku dalam diam.
Sabtu, 01 Desember 2012
KAU DAN AKU,TAKKAN MUNGKIN
"Dia sahabatku May, dan aku tidak mungkin bisa menerimanya?" sahutku pada Maya yang berdiri didepan pintu kelas.
"Hei, apa salahnya? dia menyukaimu, mencintaimu Sya?" ungkap Maya memperjelas kata-katanya. Maya menghampiriku dengan wajah seriusnya. Sorot matanya tajam menatapku.
Aku menyingkirkan buku yang sedari tadi ditanganku, lalu membalas tatapannya. "Tapi May, aku hanya menganggapnya sahabat, dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun." Tegasku. Sungguh, aku tidak berniat untuk mengubah keputusan bulatku, bahkan sampai kapanpun. Dan terlebih lagi dia dan aku...! ku ubris ingatanku.
"Oke, tapi kuharap keputusanmu bisa berubah, itu pesanku." Maya meninggalkanku sendiri.
Aku mematung sendirian didalam kelas. Otakku mencerna kata-kata Maya tadi. Bagaimana mungkin aku bisa menerima seorang sahabat menjadi kekasih? bukankah itu hal yang seharusnya aku hindari. Lalu tadi, Maya tiba-tiba datang menghampiriku dan menanyaiku. Bukankah itu aneh. Sedikitpun aku tidak pernah berfikir hal itu akan terjadi, sahabat jadi pacar. Ah, aku tidak mau dan sama sekali tidak menginginkannya.
"Tasya?" pangilan itu membuyarkan fikiranku. Sosok Alfin berdiri dihadapanku. Entah sejak kapan dia berdiri disana. "Ada yang sedang kamu fikirkan?"
Aku memperhatikannya untuk beberapa menit, "ada" jawabku hampir tidak terdengar.
"Apa?" ulang Alfin.
"Oh, enggak ada Fin," jawabku bohong. "Kamu ngapain kesini?, kok blom pulang?" tanyaku berpura-pura. Ah, bukahkah aku sudah tau jelas jawabannya.
"Lah, emang kenapa? Biasanya kita juga bareng kok. Atau ada yang mau jemput kamu?" binar mata Alfin menggodaku.
Aku tau Alfin pura-pura menggodaku. "Siapa yang mau jemput Fin, biasanya juga kamu yang slalu datang menawarkan kebaikan untukku" kali ini aku serius dengan ucapanku. "Atau mungkin kamu...?"
"Tidak ada Sya," jawabnya sebelum menyelesaikan kata-kataku. "Kalaupun ada itu pasti kamu" ada nada mendalam dari ucapan Alfin.
Aku mencari rangkaian butir-butir sorot matanya, memasuki wilayah yang paling dalam. Disana, kerlap-kerlip rona kejujuran itu telah bersemayam lama namun aku baru bisa menemukannya hari ini semenjak tadi, setelah Maya datang kepadaku. "Alfin menyukaimu Sya, dia benar-benar menyukaimu"
"Masih mau pulang atau tetap mau tinggal didalam kelas" Alfin mengubrisku, ia menarik lengan bajuku.
"Oke, kita pulang sekarang". Aku mengikuti langkah Alfin dengan beribu pertanyaan.
***
"Alfin," panggilku.
Orang-orang didalam kelasnya menatapku aneh. Aku tidak peduli, tujuanku hanya Alfin. Keputusanku telah bulat, aku sudah memikirkannya semalaman. Hari ini aku akan menanyakan Alfin, tentang perasaannya padaku. Aku tidak ingin terlalu lama dengan praduga atau apalah namanya.
Alfin menghampiriku yang mematung didepan kelasnya, mungkin dia heran kenapa kali ini aku yang mendatanginya. "Kamu kenapa Sya, tidak biasanya seperti ini?"
Aku tidak menghiraukan pertanyaannya yang terlalu berbasa-basi. "Aku lebih suka kepastian Fin"
"Kepastian? apa maksudmu.? Aku sama sekali tidak mengerti"
"Aku akan mengajarimu untuk mengerti." Aku langsung menarik tangan Alfin, menjauhi teman-teman sekelasnya. Ku bawa ia kebelakang sekolah, menghindari keramaian. Aku melepaskan tangan Alfin.
"Apa yang terjadi Sya, kenapa kamu membawaku kesini?"
Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku malah membelakanginya.
"Sya? ada apa sebenarnya?" Alfin berusaha meraih tanganku.
Aku menjauhi tangannya yang ingin meraihku "tidak usah berpura-pura karna aku sudah tau apa yang sebenarnya. Cukup hanya jujur Fin." Aku tidak berani menatap kedua mata teduhnya.
Aku bisa merasakan saat ini hanya fikirannya yang berani berucap.
"Kenapa?"
Alfin mulai membisu.
"Apa kau menyukaiku?" aku memberanikan diri memandanginya. Ia tertunduk, hanya itu yang bisa ku dapati. "Kenapa Fin? apa kau bisu?"
Alfin sama sekali tidak bergumam, hanya desahan napasnya yang teratur yang bisa kudengar.
"Ayo jawab, apa kau benar-benar menyukaiku?" aku menggoncang-ngoncang tubuh Alfin. Mataku mulai memerah.
"Ya, aku benar-benar menyukaimu"
Air mataku tumpah, seketika itu aku mendorong tubuh Alfin. "Tuhan..." desahku pelan. Tubuhku lemas. Aku tidak mempercayai semuanya, tentang apa yang akan terjadi. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi.? Apa yang dikatakan Maya benar-benar kenyataan.
"Kenapa? apa aku salah menyukaimu?" Alfin tidak menghiraukan air mataku. Ia justru mendekatiku.
"Kau sama sekali tidak boleh melakukannya Fin, apa kau sadar?" teriakku keras.
"Husss.... jangan kencang-kencang. Aku tidak tuli, aku masih bisa mendengar" Alfin semakin mendekatiku.
Aku malah ketakutan dengan tingkah Alfin kali ini. Dia sama sekali berbeda dimataku. Kemana Alfin yang tadi? Saat ini dia benar-benar menakutkan.
"Jangan takut Sya, aku masih Alfin, Alfin yang kamu kenal. Lihat... lihat aku baik-baik"
"Kau bukan Alfin yang aku kenal!" ucapku kasar. Aku mendorong tubuhnya kasar hingga ia terjerembab. "Maafkan aku Fin, aku tidak menyukaimu, tidak juga mencintaimu. Lebih baik kau kubur saja harapanmu" tungkasku. Aku meninggalkannya sendiri. Aku menjauihinya, meninggalkannya sendirian.
"Tapi aku menyukaimu Sya, aku mencintaimu" teriak Alfin keras.
Aku berlari sebelum mendengar pernyataannya. "Tidak, kau tidak boleh melakukannya." Aku menghapus air mataku yang tumpah sedari tadi. "Aku tidak menyukaimu Fin, sama sekali tidak menyukaimu. Apa kau sadar kau siapa? apa kau tidak ingat dengan ikatan kita.? Kau dan aku... kita sepupu."
Aku terjatuh diatas lantai. Dadaku terasa sesak.
"Hei, apa salahnya? dia menyukaimu, mencintaimu Sya?" ungkap Maya memperjelas kata-katanya. Maya menghampiriku dengan wajah seriusnya. Sorot matanya tajam menatapku.
Aku menyingkirkan buku yang sedari tadi ditanganku, lalu membalas tatapannya. "Tapi May, aku hanya menganggapnya sahabat, dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun." Tegasku. Sungguh, aku tidak berniat untuk mengubah keputusan bulatku, bahkan sampai kapanpun. Dan terlebih lagi dia dan aku...! ku ubris ingatanku.
"Oke, tapi kuharap keputusanmu bisa berubah, itu pesanku." Maya meninggalkanku sendiri.
Aku mematung sendirian didalam kelas. Otakku mencerna kata-kata Maya tadi. Bagaimana mungkin aku bisa menerima seorang sahabat menjadi kekasih? bukankah itu hal yang seharusnya aku hindari. Lalu tadi, Maya tiba-tiba datang menghampiriku dan menanyaiku. Bukankah itu aneh. Sedikitpun aku tidak pernah berfikir hal itu akan terjadi, sahabat jadi pacar. Ah, aku tidak mau dan sama sekali tidak menginginkannya.
"Tasya?" pangilan itu membuyarkan fikiranku. Sosok Alfin berdiri dihadapanku. Entah sejak kapan dia berdiri disana. "Ada yang sedang kamu fikirkan?"
Aku memperhatikannya untuk beberapa menit, "ada" jawabku hampir tidak terdengar.
"Apa?" ulang Alfin.
"Oh, enggak ada Fin," jawabku bohong. "Kamu ngapain kesini?, kok blom pulang?" tanyaku berpura-pura. Ah, bukahkah aku sudah tau jelas jawabannya.
"Lah, emang kenapa? Biasanya kita juga bareng kok. Atau ada yang mau jemput kamu?" binar mata Alfin menggodaku.
Aku tau Alfin pura-pura menggodaku. "Siapa yang mau jemput Fin, biasanya juga kamu yang slalu datang menawarkan kebaikan untukku" kali ini aku serius dengan ucapanku. "Atau mungkin kamu...?"
"Tidak ada Sya," jawabnya sebelum menyelesaikan kata-kataku. "Kalaupun ada itu pasti kamu" ada nada mendalam dari ucapan Alfin.
Aku mencari rangkaian butir-butir sorot matanya, memasuki wilayah yang paling dalam. Disana, kerlap-kerlip rona kejujuran itu telah bersemayam lama namun aku baru bisa menemukannya hari ini semenjak tadi, setelah Maya datang kepadaku. "Alfin menyukaimu Sya, dia benar-benar menyukaimu"
"Masih mau pulang atau tetap mau tinggal didalam kelas" Alfin mengubrisku, ia menarik lengan bajuku.
"Oke, kita pulang sekarang". Aku mengikuti langkah Alfin dengan beribu pertanyaan.
***
"Alfin," panggilku.
Orang-orang didalam kelasnya menatapku aneh. Aku tidak peduli, tujuanku hanya Alfin. Keputusanku telah bulat, aku sudah memikirkannya semalaman. Hari ini aku akan menanyakan Alfin, tentang perasaannya padaku. Aku tidak ingin terlalu lama dengan praduga atau apalah namanya.
Alfin menghampiriku yang mematung didepan kelasnya, mungkin dia heran kenapa kali ini aku yang mendatanginya. "Kamu kenapa Sya, tidak biasanya seperti ini?"
Aku tidak menghiraukan pertanyaannya yang terlalu berbasa-basi. "Aku lebih suka kepastian Fin"
"Kepastian? apa maksudmu.? Aku sama sekali tidak mengerti"
"Aku akan mengajarimu untuk mengerti." Aku langsung menarik tangan Alfin, menjauhi teman-teman sekelasnya. Ku bawa ia kebelakang sekolah, menghindari keramaian. Aku melepaskan tangan Alfin.
"Apa yang terjadi Sya, kenapa kamu membawaku kesini?"
Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku malah membelakanginya.
"Sya? ada apa sebenarnya?" Alfin berusaha meraih tanganku.
Aku menjauhi tangannya yang ingin meraihku "tidak usah berpura-pura karna aku sudah tau apa yang sebenarnya. Cukup hanya jujur Fin." Aku tidak berani menatap kedua mata teduhnya.
Aku bisa merasakan saat ini hanya fikirannya yang berani berucap.
"Kenapa?"
Alfin mulai membisu.
"Apa kau menyukaiku?" aku memberanikan diri memandanginya. Ia tertunduk, hanya itu yang bisa ku dapati. "Kenapa Fin? apa kau bisu?"
Alfin sama sekali tidak bergumam, hanya desahan napasnya yang teratur yang bisa kudengar.
"Ayo jawab, apa kau benar-benar menyukaiku?" aku menggoncang-ngoncang tubuh Alfin. Mataku mulai memerah.
"Ya, aku benar-benar menyukaimu"
Air mataku tumpah, seketika itu aku mendorong tubuh Alfin. "Tuhan..." desahku pelan. Tubuhku lemas. Aku tidak mempercayai semuanya, tentang apa yang akan terjadi. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi.? Apa yang dikatakan Maya benar-benar kenyataan.
"Kenapa? apa aku salah menyukaimu?" Alfin tidak menghiraukan air mataku. Ia justru mendekatiku.
"Kau sama sekali tidak boleh melakukannya Fin, apa kau sadar?" teriakku keras.
"Husss.... jangan kencang-kencang. Aku tidak tuli, aku masih bisa mendengar" Alfin semakin mendekatiku.
Aku malah ketakutan dengan tingkah Alfin kali ini. Dia sama sekali berbeda dimataku. Kemana Alfin yang tadi? Saat ini dia benar-benar menakutkan.
"Jangan takut Sya, aku masih Alfin, Alfin yang kamu kenal. Lihat... lihat aku baik-baik"
"Kau bukan Alfin yang aku kenal!" ucapku kasar. Aku mendorong tubuhnya kasar hingga ia terjerembab. "Maafkan aku Fin, aku tidak menyukaimu, tidak juga mencintaimu. Lebih baik kau kubur saja harapanmu" tungkasku. Aku meninggalkannya sendiri. Aku menjauihinya, meninggalkannya sendirian.
"Tapi aku menyukaimu Sya, aku mencintaimu" teriak Alfin keras.
Aku berlari sebelum mendengar pernyataannya. "Tidak, kau tidak boleh melakukannya." Aku menghapus air mataku yang tumpah sedari tadi. "Aku tidak menyukaimu Fin, sama sekali tidak menyukaimu. Apa kau sadar kau siapa? apa kau tidak ingat dengan ikatan kita.? Kau dan aku... kita sepupu."
![]() |
| Add caption |
Jumat, 30 November 2012
DAPATKAH AKU
Dapatkah aku menolak,
Saat kau suguhkan secawan madu dihadapanku?
Dan binar matamu memintaku dengan tulus
Ah,
Aku berusaha munafiki rasa dan asa
Tapi hati tidak pernah berdusta
Aku ingin madu dari tulus hatimu
Dapatkah aku menolak,
Saat kau berikan seikat mawar merah untukku?
Meski kutau berduri
Tapi ku tak dapat memungkiri
Aku menginginkannya,
Aku mengharapkannya,
Aku menyukainya,
Ah,
Berapa kali kau tawarkan
Beribu kali aku menginginkan
Meskipun memilukan,
Tapi aku membutuhkan
Saat kau suguhkan secawan madu dihadapanku?
Dan binar matamu memintaku dengan tulus
Ah,
Aku berusaha munafiki rasa dan asa
Tapi hati tidak pernah berdusta
Aku ingin madu dari tulus hatimu
Dapatkah aku menolak,
Saat kau berikan seikat mawar merah untukku?
Meski kutau berduri
Tapi ku tak dapat memungkiri
Aku menginginkannya,
Aku mengharapkannya,
Aku menyukainya,
Ah,
Berapa kali kau tawarkan
Beribu kali aku menginginkan
Meskipun memilukan,
Tapi aku membutuhkan
PELITA API
Mengapa kau pinta hujan tatkala kau tau mentari masih bersinar terang?
Mengapa kau pinta gersang tatkala kau tau masih basah?
Mengapa kau pinta kelam tatkala kau tau masih memutih?
Usai sudah kulukis hati diatas jernih hati
Tapi kau tetap meminta api pelita hati
Sebenarnya apa yang kau mau?
Saat kupetikkan melati
Namun kau pinta mawar berduri
Dan pelangipun enggan kau lihat butiran warnanya
Sudahlah,
Jika kau ingin pergi, menjauhlah
Mungkin kau lebih bahagia, tak pernah teraniaya
Dibanding denganku, kau malah lebih ingin membisu
Mengapa kau pinta gersang tatkala kau tau masih basah?
Mengapa kau pinta kelam tatkala kau tau masih memutih?
Usai sudah kulukis hati diatas jernih hati
Tapi kau tetap meminta api pelita hati
Sebenarnya apa yang kau mau?
Saat kupetikkan melati
Namun kau pinta mawar berduri
Dan pelangipun enggan kau lihat butiran warnanya
Sudahlah,
Jika kau ingin pergi, menjauhlah
Mungkin kau lebih bahagia, tak pernah teraniaya
Dibanding denganku, kau malah lebih ingin membisu
Jumat, 23 November 2012
SELAMAT MALAM SAYANG
Selamat malam sayang,
Dari jauh hanya kata yang bisa kukirim
Beserta do'a disetiap mimpi
Selamat malam sayang
Smoga malam ini indah yang kau miliki
Bersama nyanyian rindu yang kumiliki
Kukirim sebagai pertemanan mimpi
Selamat malam saynag,
Smoga malam ini bahagia yang kau raih
Bersamaku
Meski kita tak bertemu
Selamat malam sayang
Lewat mimpi kutitip senyum baru
Pengantar tidurmu
Selamat malam sayang
Semoga tidurmu nyenyak
Ditemani bintang malam
Berpadu memberi sinar dimimpimu
Selamat malam sayang
Ku mencintaimu disepanjang siang dan malam
Dari jauh hanya kata yang bisa kukirim
Beserta do'a disetiap mimpi
Selamat malam sayang
Smoga malam ini indah yang kau miliki
Bersama nyanyian rindu yang kumiliki
Kukirim sebagai pertemanan mimpi
Selamat malam saynag,
Smoga malam ini bahagia yang kau raih
Bersamaku
Meski kita tak bertemu
Selamat malam sayang
Lewat mimpi kutitip senyum baru
Pengantar tidurmu
Selamat malam sayang
Semoga tidurmu nyenyak
Ditemani bintang malam
Berpadu memberi sinar dimimpimu
Selamat malam sayang
Ku mencintaimu disepanjang siang dan malam
Langganan:
Postingan (Atom)



