Selasa, 04 November 2014

Kutinggalkan dia karna Dia



Laki-laki itu datang layaknya semilir angin yang berhembus lalu menghangatkan jiwaku yang kelu. Laki-laki itu datang layaknya pelangi yang mewarnai hidupku yang abu. Laki-laki itu datang layaknya pecandu yang membuatku semakin rindu. Laki-laki yang istimewa bahkan lebih dari segalanya. Laki-laki yang slalu memberikanku senyum saat terluka. Laki-laki yang membuatku tertawa ketika sedang gundah. Laki-laki  istimewa yang membuatku semakin bangga mengenalnya. Laki-laki yang tampil apa adanya yang slalu ada kapanpun dan dimanapun aku berada. Laki-laki yang tabah dan penuh semangat. Laki-laki dengan kesederhanaannya. Laki-laki yang mencintaiku apa adanya. Namun, laki-laki istimewa itu semakin lama semakin tidak terlihat istimewa. Laki-laki itu semakin terlihat biasa saja. Kau tau mengapa? Karna aku menemukan pencuri hatiku yang sesungguhnya. Bukan laki-laki itu melainkan Dia. Dia yang telah mencurinya hingga aku memutuskan untuk meninggalkan cintainya dengan segenap kemampuanku.
*
            Masih ku ingat awal perkenalam kita dulu. Dengan kedua bola matamu yang sipit serta tawamu yang terdengar melengking aku sempat berfikir bahwa kamu adalah laki-laki yang berbeda.  Yah, berbeda dalam segala hal. Dan malam itu, dengan berbagai rayuan kau mengajakku menikmati bintang di taman. Akupun mengikuti pintamu.  
“Uhibbuki...” ujarmu padaku malam itu. Setangkai mawar merah kau ulurkan tepat berada dihadapanku.
Antara yakin dan ragu dengan pendengaranku, kuperhatikan wajahmu yang malu-malu. Rona merah di pipimu membuatmu terlihat lucu.
“Kamu tidak suka mawar?” tanyamu membuyarkan lamunanku.
Ku perhatikan wajahmu dengan teramat sangat. “Aku mau mendengar ucapanmu sekali lagi,” pintaku tanpa memperdulikan padanganmu. Ku lihat kau menunduk. “Aku mau mendengar sekali lagi,” ulangku.
“U... U... uhibbuki,” dengan terbata kau mengeja perkataanmu. Ah, begitu lugunya dirimu malam itu.
“Sejak kapan kamu menyukaiku?” tanyaku. Sebagai wanita tentu saja aku penasaran mengapa dia mencintaiku, kenapa dia memilihku.
“Aku tidak memiliki alasan yang tepat untuk menjawabnya. Yang ku tau, aku menyukaimu dan mencintaimu.” Matamu menerobosku. Mengikat sebuah aksara yang melengkung didalamnya. Lalu, aksara itu berubah menjadi butiran-butiran bewarna jingga yang hanya aku saja bisa memilikinya.
Malam itu, aku menerimamu dengan senyum manis yang terus menghiasi bibirmu.
*
Setahun lamanya aku menjalani hubungan denganmu. Suka dan duka slalu kita hadapi bersama. Kau slalu mengisi ruang hatiku yang kosong. Memberikan semangat ketika aku mulai terjatuh. Mengajakku mengitari samudra luas meski hanya lewat imajinasiku. Kau laki-laki yang slalu ada disampingku kapanpun. Kau hadir dengan segala kesederhanaanmu.
Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Pancaran dari wajahmu membuatmu tidak seperti dulu lagi. Kau asing bahkan terasa sangat asing. Ada yang berbeda darimu. Ada yang lain darimu. Ada sesuatu yang membuatmu begitu aneh dimataku. Entahlah, aku hanya merasakannya.
“Kamu terlihat aneh belakangan ini. Apa ada yang salah denganku?” tanyamu padaku. Seperti malam biasanya, kau slalu datang ke rumahku untuk mengobrol. Menghabiskan beberapa jam hanya untuk memberikan lelucon.
Aku menggeleng pelan. “Tidak ada yang aneh,” jawabku. Aku berbohong. Kenapa perasaan ini terasa hambar?
“Wajahmu berbeda dari biasanya. Apa kamu sakit?” kau mendekatiku.
“Sebaiknya kamu duduk disana saja,” aku menggeser dudukku.
“Kenapa?” tanyamu heran.
Aku tidak menjawab tanyamu.
“Bailkah,” kau mengalah dan kembali ke tempat dudukmu.
“Ada yang ingin ku katakan padamu,” aku menarik napas pelan. Kualihkan pandanganku pada minuman di hadapanku. Aku terlalu takut dengan matamu yang mencari-cari jejak kebenaran disana. “Aku... aku...” rasanya tidak sanggup lagi untuk melanjutkan ucapanku.
“Katakanlah, apa yang sebenarnya terjadi. Barangkali semua akan menjadi lebih baik kalau kamu jujur,” ujarmu padaku seakan semuanya akan menjadi lebih baik jika aku jujur.
Dosa apa yang kau lakukan hingga aku  menginginkan hal yang tak mungkin kau inginkan? Tapi aku tidak bisa memunafiki hatiku. Setiap kali aku menatapmu lautan api itu terpanjang disana. Seakan menarikku dan melahapku dalam semenit saja. Aku benar-benar takut. Aku ingin berlari dan bersembunyi agar semuanya baik-baik saja seperti sebelumnya. Sebelum aku mengenalmu.
“Apa kamu mencintaiku?” tanyaku. Aku tau itu bukanlah pertanyaan, toh aku sudah sering mendengar kau mengucapkan kata cinta setiap kali kita bertemu.
Kau mengangguk sebelum aku melanjutkan tanyaku. “Aku mencintaimu. Dan, sangat mencintaimu,” kau mengulumkan senyum padaku. Senyum yang tak pernah hilang dari bibirmu.
“Bagaimana jika seandainya ku katakan aku tidak pernah mencintaimu.” Yah, sebaiknya aku harus jujur saat ini. Tidak perlu ada yang di sembunyikan lagi.Aku tau kau pasti sangat terkejut dengan jawabanku.
“Maksudmu?” heranmu.
Aku mendengus kemudian menutup kedua mataku. “Aku tidak mencintaimu,” akhirnya kata-kata itu terucap juga. “Aku tidak pernah mencintaimu,” ku alihkan pandanganku ke luar jendela. Gemerisik angin disana seakan mengerti perasaanku saat ini. Aku... aku telah berbohong. Dan biarkan kebohongan ini menjadi jalan yang terbaik.
“Jadi?” kau menatapku.
Aku mengepal tanganku. Detak jantungku semakin tak menentu. “Aku ingin mengakhiri hubungan ini, Wan. Aku ingin sendiri seperti dulu.”
“Mengakhiri? Maksudmu?” kau masih belum percaya.
“Kita putus, Wan.” Ku beranikan menatap matamu.
“Tapi kenapa? apa slama ini aku memiliki salah, Lia? Kenapa denganmu? Apa yang terjadi?” kau mendekatiku. Mencoba menepis apa yang telah terjadi.
“Tolong, jangan mendekat, Wan.” Aku menjauh.
“Oke,” Ku lihat kau menuruti apa yang baru saja ku katakan.
“Aku tidak ingin semakin terpuruk pada perasaanku, Wan. Kau tau? Semakin aku mencintaimu perasaanku semakin hampa. Aku tidak bisa menemukan siapa aku. Dan, terlebih lagi aku semakin lupa pada Tuhan-ku,” pandanganku menerawang pada daun yang di tiup angin di luar sana. Hujan mulai jatuh membasahi bumi. Layaknya membasahi jiwaku yang semakin tandus.
“Sungguh, Lia. Aku benar-benar mencintaimu. Bahkan sedikitpun perasaan ini tidak pernah berubah, tapi kenapa denganmu? Apa cintaku salah?”
“Tidak,” tepisku. “Aku sudah mengatakan alasannya tadi, Wan. Aku... aku semakin lupa pada diriku dan juga Tuhan-ku jika harus terus bersamamu.” Ku harap kau mengerti dengan semua penjelasanku.
“Tapi..?”
Ku alihkan pandanganku darimu. Robbi... adakah jalan lain yang bisa ku tempuh untuk menjauhkan laranganmu? Aku tidak ingin semakin mendekat lagi pada keterpurukanku. Aku tidak ingin kembali pada diriku yang terperangkap pada cinta semu. Pada diriku yang tidak pernah ku tau siapa aku. Dan terlebih lagi jika terus bersamanya aku semakin lupa siapa aku. Masih ku ingat saat bersamanya, aku tidak malu jika dia menggenggam jemariku di keramaian. Aku tidak malu ketika tangannya merangkul pinggangku. Aku terlalu khawatir kehilangannya saat tidak bersamaku. Ketika tidak mendengar kabarnya aku merasa cemburu. Aku ingin slalu bersamanya. Hingga suatu hari, Andi—sahabatku di SMA dulu meneleponku. Dia memberiku berbagai nasehat yang membuat hatiku terketuk.
“Lalu apa pendapatmu, An?” tanyaku pada Andi setelah menceritakan semuanya. Dia memang sahabat yang slalu mendengar ceritaku. “Apa aku harus putus?”
“Keputusanmu ada di tanganmu, Lia. Aku hanya mengingatkan pelajaran di sekolah dulu. Waktu kita masih di Pondok. Kamu pasti masih ingat dengan nasihat ustad Usman. Jangan pacaran, sebab pacaran itu mendekatkanmu pada zina. Dan zina itu banyak mudorotnya,” ujarmu mengingatkanku pada kenangan dua tahun lalu. Saat itu aku adalah sosok santri teladan yang tidak pernah melanggar aturan. Tapi kini aku bukanlah santri itu, aku telah menjadi orang lain. “Ya sudalah, aku tidak ingin berbicara terlalu panjang takutnya kamu malah bosan.” Andi seperti seorang ustad baru yang slalu membuatku tersentuh.
“Trimakasih, An. Kamu slalu memberi celah baik ketika aku sedang kebingungan.”
            “Sama-sama, Lia. Dan kuharap kamu mengerti maksudku,” Andi kemudian memutuskan teleponnya.
            “Ada apa denganmu, Lia?” suara itu mengagetkanku. Ku lihat sosok itu masih berada disana, tepat dihadapanku.
            “Mafkan aku, Wan. Aku tidak bermaksud menyakitimu,” terangku menunduk.
            “Kamu sama sekali tidak menyakitiku, Lia. Tapi jujur, aku masih tidak percaya dengan apa yang kamu katakan. Hubungan yang telah kita bina setahun ini gugur sudah.  Aku bahkan sudah merencanakan sesuatu yang indah denganmu kedepannya nanti. Semua percuma, Lia. Percuma karna kamu telah memutuskan harapanku,” kau menatapku sengit. Sengumpal kemarahan terpancar dari matamu yang memerah.
            “Tapi...” aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.
            “Baiklah,” ujarmu akhirnya. Kau berusaha seolah semua biasa saja.
            “Aku tau kamu pasti marah padaku, Wan,” jelasku.
            “Aku tidak marah padamu, Lia. Aku hanya kecewa padamu. Tapi bagaimanapun aku tidak bisa menuntutmu untuk terus mencintaiku. Aku akan mencoba menerima keputusanmu. Dan... trimakasih untuk kebersamaan selama ini. Maafkan aku karna telah menggangu waktumu. “
Ku  lihat kau beranjak dari tempat dudukmu kemudian meninggalkanku. Dengan langkahmu yang tertatih aku bisa  merasakan bagaimana terpukulnya dirimu. Kau meninggalkanku tanpa senyum layaknya dulu yang slalu kau berikan padaku. Kau pergi dan mungkin takkan pernah menghampiriku lagi.
“Maafkan aku,” tubuhku terjatuh di atas kursi.
*
Setahun kemudian..
Aku masih disini. Di tempat yang sering kita kunjungi, namun kini aku sendiri. Tiada lagi ada kamu disisi yang menemani. Candamu tidak terdengar lagi, tawamu hilang menjadi sepi. Semua terasa hampa bahkan sangat hampa sekali. Semenjak malam itu, aku tidak pernah mendengar kabar darimu lagi. Tidak ada sms atau tlepon yang berdering setiap harinya. Tidak ada lagi kamu yang datang menghamipirku setiap harinya. Tidak ada lagi kamu yang slalu memberiku mawar serta seuntai bahasa penyejuk jiwa. Tidak... kamu benar-benar tidak ada lagi.
Bukan ku menyesal kehilanganmu. Bukan juga ku bersedih tanpa kamu. Namun terkadang aku berfikir, masihkah kau ingin mengenali sosok sepertiku? Sosok sahabat tentunya. Aku tidak ingin ada dendam di antara kita. Aku juga tidak ingin ada amarah di antara kita. Aku hanya ingin semuanya baik-baik saja. Sama seperti sedia kala.
Kau tau? Malam ini aku melihat bulan purnama melalui tempat ini. Purnama ynag mengingatkanku pada perkenalan pertama kita. Saat itu kau mendatangiku dengan setangkai mawar di tanganmu lalu kau ucapkan cinta padaku. Kenangan yang membuatku tertawa jika mengingatnya. Tapi ya sudahlah, aku sudah ingin mendekatkan diriku pada Pencipta-Ku sekarang. Jika terus mengenangmu aku takut hatiku kembali di gerogoti nafsu yang membelenggu. Aku takut jiwaku kembali jatuh pada tempat yang salah. Maka dari itu lebih baik kudiamkan saja. Bukankah jika menyukai seseorang jika memendamnya adalah jihad? Dan andai saja kau masih menyukaiku maka pendamlah perasaanmu. Aku yakin itu lebih baik.
Pandanganku beralih pada sebuah buku dan handphone di sampingku. Aku meraih handphon tersebut dan mencari nama seseorang disana.
“Assalamu’alaikum...” ujarku setelah mendengar seseorang menjawab panggilanku.
“Wa’alaikumussalam,” suara itu menjawab.
Aku menarik napas sebentat. Suara itu masih sama seperti dulu. “Apa kabar, Wan?” tanyaku.
“Alhamdulillah baik. Bukankah ini, Lia?” kau seperti tidak yakin kalau aku sedang menghubungimu.
Ku dengar suara itu lebih teduh dari sebelumnya. Laki-laki itu pasti jauh berbeda sekarang. “Alhamdulillah, semuanya baik,” jawabku. Ku perbaiki posisi dudukku. “Apa aku mengganggumu?” tidak enak rasanya menelpon malam begini. Dan sungguh, ini hal yang belum pernah ku lakukan setelah kami berpisah.
“Tidak, sama sekali tidak.” Kau diam sebentar lalu melanjutkan kata-katamu, “sudah lama tidak mendengar suaramu, Lia. Dan ternyata masih sama. Ah, tidak, aku salah. Kamu semakin dewasa,” tuturmu.
Oh ya? Benarkah?
“Itu do’a yang bagus dan akan ku aminkan,” jawabku. Ku dengar kau tertawa di seberang sana. “Apa kegiatanmu sekarang, Wan?” tanyaku penasaran.
“Aku masih dengan aktifitasku, Lia. Mengajar mengaji untuk anak didikku setiap malamnya dan rutinitas kuliah setiap paginya. Alhamdulillah semuanya menyenangkan bahkan sangat menyenangkan dengan melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat lagi. O ya, do’akan aku bulan depan aku akan wisuda.”
Tentu saja, jika di bandingkan dengan menghabiskan waktu bersamaku dulu kegiatan saat ini jauh lebih baik dan aku tau itu. “Semoga segala sesuatunya di lancarkan,” do’aku untukmu.
Beberapa menit kau dan aku diam.
“Oh ya, bagaimana dengan kegiatanmu, Lia?” tanyamu mencairkan suasana.
“Alhamdulillah, aku masih kerja di tempat dulu dan kuliahku juga baik-baik saja,” jawabku. Tentunya semua terasa begitu indah. “Apa kamu masih marah padaku, Wan?” dengan hati-hati aku menanyakannya. Sebenarnya aku tidak ingin mengungkit kejadian dulu tapi bagaimanapun aku ingin tau apakah kau masih marah padaku.
“Aku tidak pernah marah padamu, Lia. Bahkan aku sangat bertrimakasih. Karnamu aku bisa belajar lagi. Aku akui, awalnya aku memang marah dan kecewa tapi sekarang tidak. Semuanya malah biasa-biasa saja.”
Aku mendengus napas. Sesuatu yang membuat dadaku sesak telah menghilang. Aku yakin, semuanya akan menjadi normal kembali. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Wan. Kamu tau? Allah menyayangi hambanya sehingga dia mempertemukan kita dengan jalan yang tidak di sangka-sangka. Dan perpisahan dulu anggaplah itu sebuah awal hidayah untuk memperbaiki diri kita masing.-masing. Dan, aku bahagia mengenal sosok sahabat sepertimu. Trimakasih karna telah mengenalku dan memaafkan perbuatanku sebelumnya.”
“Sama-sama, Lia. Kita bisa saling belajar, bukan?” ujarmu.
Aku tersenyum. Ku raih buku di sampingku kemudian menulis sesuatu disana.

Dear God,
Tanpa-Mu betapa angkuhnya jiwaku yang rapuh
Tanpa-Mu kerasnya hatiku yang beku
Dan karna-MU sepiku menjadi rindu            
           


            
*Harusnya sudah di kirim tapi ya belum riski. So keep smile forever.

*True Story*

Senin, 03 November 2014

Diary Pink



Aku menarik sebuah buku bewarna pink didalam tumpukan buku. Diary pink itu masih ada disana. Diary pink pemberian seorang sahabat sewaktu ulang tahunku dulu. Diary yang mengingatkanku pada kisah silam. Diary itu sudah menemani sepiku setiap harinya.
            “Kamu pasti menyukainya, Ra.” Tara mengulurkan sebuah buku bewarna pink padaku di waktu ulang tahunku yang ke-18. Itu pasti diary.
            Aku meraih diary itu dari tangan Tara. “Darimana kamu tau kalau aku menginginkan diary ini?” heranku.
            “Fikri yang menceritakannya padaku,” Tara berbisik pelan di telingaku.


            Fikri, laki-laki yang ku taksir semenjak kelas satu SMA sampai saat ini tau warna kesukaanku? Juga diary yang sekarang berada ditanganku. Aku menyukai Fikri dengan semua kesederhanaan serta senyum manis di bibirnya.  
            “Tapi aku sama sekali tidak pernah memberitahunya kalau aku menyukai diary ini?” lanjutku masih heran.
            “Itu karna dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu,” Tara—sahabatku yang menjadi tempat curhatku slama ini menyunggingkan senyuman.  
            Benarkah? Aku tidak bisa menahan rasa bahagiaku. Ku lihat Fikri yang duduk di sebelah pojok ruangan. Mataku sesekali mencuri pandang kearahnya. Fikri menatapku, mungkin sadar apa yang sedang kulakukan. Ah, aku seperti kucing yang tertangkap basah sedang mencuri seekor ikan di atas meja makan. Karna malu aku memalingkan wajahku ke kue tart di atas meja.

            “Selamat ulang tahun, Ra” Fikri sudah berdiri di hadapanku.  Laki-laki yang dengan senyum sumringahnya mengulurkan tangan padaku. Aku menyambut tangnya kaku. Ada getaran yang berkecambuk di dadaku. Sejenak ku beranikan menatapnya. Dia... aku bisa menangkap dari matanya dia juga menyukaiku. 


Jumat, 31 Oktober 2014

Untuk-MU Tuhan



Ini bukan surat biasa Tuhan. Surat yang seperti orang lain tulisakan dalam diary hitamnya. Surat berceritakan kisah panjang dengan kesepiannya. Surat yang membuatnya merasa lebih tenang dan lebih baik dari sebelumnya. Bukan Tuhan, sungguh bukan.

Ini hanya sebuah kaliamat sederhana yang ku tulis beberapa detik tadi. Kalimat sederhana yang ingin ku curahkan melalui imajinasiku. Kalimat yang mungkin membuatku menjadi istimewa. Yah, begitulah setidaknya.

Kembali lagi ku katakan Tuhan. Oktober akan berlalu bersama hujan serta kenangan di dalamnya. Oktober yang kata mereka mungkin istimewa sebab tak ada hujan di bulan ini. Oktober yang penuh dengan kecerahan, katanya.

Untukmu Tuhan. Sederet kalimat indah ini kusisipkan bersama di dalamnya. Agar kelak jika nanti aku menemui bisa kurasakan indahnya dunia kecilku. Dunia yang merebut segala kekuasaannya tanpa batas sedikitpun.

"Jika suatu saat nanti ENGKAU izinkan aku meraih sebuah wadah berisikan sebening cahaya di dalamnya. Maka jangan pernah lupakan aku dengan siapa aku yang sebenarnya."

Dan sebuah kalimat indah melantukanku untuk apa aku. "Maka nikmat Robb-MU yang manakah yang telah engkau dustakan?"

Igfirli 







Jakarta, 31 Okt'14

Selasa, 28 Oktober 2014

'Cinta Sendirian'


This is a song

Inikah namanya cinta sendirian yang ku rasakan
Tiada keberanian menyatakan aku cinta
Hatiku yang malang
Teruslah bertahan jangan kau hilang
Buktikan cintamu teramat dalam
Meski harus cinta sendirian

***

Ini lagu kok galau banget yak? Apa kali gue yang galau. Tapi, ah gak juga si. Santai aja kali bro,. Hidup harus di bawa enjoi aja... santai... santai kaya di pantai :D
Ah, masa bodo lah sama lagunya yang jelas liriknya itu yang unik. Bukan unik si menurut gue mah biasa aja, hoho.. D
Oke lanjut aja, biarkan saja lagunya menarik telinga sesuka hati :D


Let's listen this song ;)


'Cinta Sendirian'
Syahrini dan Rully




Tahukah kamu aku mengagumimu
Dengan sepenuh hati
Hati yang tak bernyali


Inikah namanya cinta sendirian yang ku rasakan
Tiada keberanian menyatakan aku cinta
Hatiku yang malang
Teruslah bertahan jangan kau hilang
Buktikan cintamu teramat dalam
Meski harus cinta sendirian

Tiada pernah ku ingin dikeadaan ini
Melihatmu di pelukan hati yang lain
Namun apa daya bibirku tak bisa
Suarakan hati ini


Inikah namanya cinta sendirian yang ku rasakan
Tiada keberanian menyatakan aku cinta
Hatiku yang malang
Teruslah bertahan jangan kau hilang
Buktikan cintamu teramat dalam
Meski harus
Meski harus cinta sendirian


***

Baiklah...
Salam buat teman-teman ataupun sobat yang sedang di landa galau dengan lagu melow sobat :)




Jakarta, 27 Okt'14

Senin, 27 Oktober 2014

UNGU




Ungu itu indah
Ungu itu mempesona
Ungu itu menarik

Ungu itu...

Ungu itu memikat
Ungu itu mewarnai
Ungu itu memahami

Ungu itu...



Ungu itu jalinan kasih
Ungu itu jalinan rindu
Ungu itu jalinan sayang

Ungu itu...

Ungu itu ya ungu
Ungu itu ya warnanya ungu
Ungu itu ya ungunya ungu


Ungu itu...

Ungu itu unguku
Ungu itu kesukaanku
Ungu itu favoritku


Ungu itu...

Ungu itu ya aku


Jakarta, 27 Okt'14

Masa'?



Hallo kamu
Kamu yang slalu membisikkan rindu
Kamu yang slalu mengatakan rindu

Hallo kamu
Kamu yang hari-harinya biru
kamu yang setiap akhirnya biru

Hallo kamu
Kamu yang meraih abu-abu
Mengubahnya menjadi fatamorgana yang tak lagi kelabu

Hallo kamu
Kamu bilang i miss u
Masa'?
Yang benar saja

Kita jarang bertemu
Melihatku saja baru sebulan yang lalu
Kamu rindu?
Masa'?



Hallo kamu
Benar gak si?
Setiap malam kau memimpikanku
Wajahku menggelayut di fikiranmu

Masa'?

Jangan bohong
Nanti kau tak bisa lolos dari terowong
Makanya jangan bohong

Hallo kamu
Kamu lagi-lagi bilang i miss u
Artinya aku rindu kamu

Masa'?



Jakarta, 27 Okt'14






Jumat, 24 Oktober 2014

Ya, ini warnaku



Ya,
Sebuah aksara yang melengkung kemarin semakin terlihat
Menarik, mengombak 
Lalu ia mengepul menjadi satu

Ya,
Sebuah bait puitis kemaren masih sama
Alunannya juga masih merdu
Menjadikan tidurku semakin lelap dalam bisu

Ya,
Warna pelangi itu juga sama; mejikuhibiniyu
Menari di ambang pintu rindu
Lalu melukiskan senyum yang sulit ku tuju

Ya,
Seperti sebingkai momen waktu sebulan yang lalu
Dengan rona jingga 
Memeluk sukma yang kian membeku

Ia kembali layaknya surga yang entah dimana letaknya
Membawaku melaju ke dasar taman bunga
Ini warnaku jua warnamu
Aku kamu menjadi kita
Dan aku suka itu

Ya,
Layaknya benang layang-layang yang terbang ke angkasa
Melaju seiring arah angin
Hingga ia hinggap di dasar jantung

Dialah itu; biru muda nan merindu











Rabu, 08 Oktober 2014

Si Tuli Yang Bisu Dan Buta



Bisu
Mulut tertutup
Tak berbicara
Tak mengungkit 
Tak mengapa

Tuli
Telinga tersumpal
Tak mendengar
Tak mau apa-apa
Tak mengapa

Buta
Tak melihat
Tak memandang
Tak mau tau
Tak mengapa

Bisu
Tuli
Buta
Bisu
Buta
Tuli

Semua mengalir menjadi satu
Berjalan mengarah jadi satu
Mengeja dalam beku
Dua, satu, 
Dua lagi
Satu lagi

Menggigil
Aaaarrrggghhh...
Teriak 
Takut

Bisu 
Tuli 
Buta
Perih nan memerih

Dialah si tuli yang bisu dan buta





PENANTIAN


  
Mataku belum beralih dari danau di hadapanku. Suara gemirisik ombak kecil disana membuatku semakin tidak ingin berpaling sedikitpun. Ku lihat beberapa anak kecil memainkan air sambil tertawa riang. Mereka seperti tidak ada beban. Ah, aku ingin sekali merasakan hal yang sama. Membuang semua beban dalam fikiranku yang telah lama ku pendam. Merasakan kebahagian layaknya anak kecil disana. Tapi sepertinya tidak mungkin. Ini sulit terjadi.
            “Aku masih mencintaimu,” ujarku. Aku tidak berani memandang laki-laki disampingku. Aku takut melihatnya bahkan terlalu takut mendengar jawaban darinya.
            Laki-laki disampingku menarik napas. Mungkin dia memikirkan sesuatu.
            “Aku tau apa yang kamu fikirkan tentangku, Sam,” lanjutku. Kali ini ku perhatikan sosok Sam dengan segenap keberanianku. Tiga tahun tidak bertemu dengannya tapi tidak ada sedikitpun yang berubah. Matanya, hidungnya, bibirnya dan senyumnya masih tetap sama. Ah, aku semakin tidak bisa melupakannya.
            “Aku tau apa yang kamu rasakan, Sep,” ujarnya. Ia memandangku kemudian tersenyum. “Tapi aku tidak pantas untukmu.”
            Tidak pantas untukku?
            Kata-kata itu kembali memenuhi otakku. Ucapannya kembali mengorek luka lama. Tidakkah dia tau bagaimana sakitnya hatiku saat dia memutuskanku? Meninggalkanku tanpa alasan pasti.
            “Dulu, kamu juga pernah mengatakan hal yang sama, Sam. Tidakkah kamu tau bagaimana sakitnya hatiku.? Aku sudah memendamnya selama tiga tahun lamanya. Rasanya sakit sekali,” ku jauhkan wajahku darinya. Air mataku mulai jatuh, aku menangis.
              “Aku minta maaf, Sep. Maafkan atas kesalahanku.” Ia mencoba meraih tanganku.
            “Sudahlah, aku tidak akan memaksamu. Jika kau tidak mencintaiku ya harus bagaimana? Aku tidak mungkin memaksamu.” Ku jauhkan tanganku darinya. Aku tidak ingin luka itu semakin dalam.
            “Maafkan aku, Sep,” ia menarik wajahku mendekatinya.
            Awalnya aku menolak tapi lama-lama kelamaan aku membiarkannya.
            “Sebenarnya apa yang membuatmu mencintaiku? Lihatlah, masih banyak laki-laki disana yang mencintaimu melebihi cintamu padaku,” Sam mencari-cari jawaban disela-sela mataku. Tentu, aku juga tau itu.
            “Aku tidak memiliki alasan untuk mencintaimu, Sam. Yang aku tau aku hanya mencintaimu seorang bahkan sampai saat ini,” jawabku. Ku tarik wajahku darinya. Aku tidak ingin semakin tenggelam ke dalam mata itu. Rasanya sakit sekali.
            “Aku... “ Sam mengalihkan pandangannya ke danau di sana. Ia menutup matanya berlahan. Ada yang ingin di ucapkannya.
            “Papa...” ku lihat seorang anak kecil berumur dua tahun berdiri di hadapan kami. “Nana, mau makan pa,” pintanya. Rambutnya yang diikat ekor kuda bergoyang kekanan-kekiri.
            “Tunggu sebentar ya, sayang,” tiba-tiba seorang wanita yang tidak jauh umurnya denganku menarik lengan kecil itu.
            Aku menelan ludah. Rasanya getir sekali. Ku perhatikan mereka satu persatu. Ada apa ini?
            “Kita kapan pulang, mas?” wanita itu menatap kearah kami.
            Mas?  
            Degup jantungku semakin tidak karuan. Mungkinkah?
            “Tunggu sebentar ya,” jawabnya. Sam menatapku lalu tersenyum. “Kenalkan Sep, ini Naila, istri aku. Dan... ini Nana, malaikat kecil kami,” Sam menarik Nana kepelukannya.
            Ku lihat Naila tersenyum. Senyum itu seolah mengejekku. Aku benar-benar tidak tahan. Aku ingin beranjak pergi dari sini secepatnya.
            “Apa maksudmu?” kepalaku tidak bisa di ajak kompromi lagi. Aku benar-benar pusing, ingin muntah.
            “Maaf Sep, tadi aku lupa bilang sama kamu kalau aku sengaja mengajak kamu ke sini sekalian untuk mengenalkan istri dan anakku.” Sam meraih tangan Naila untuk mendekatinya.
            Aku benci senyum itu. Senyum yang menyakitkan. “Oya?” jawabku. Rasanya aku ingin meninju Sam saat ini juga. “Kamu pasti bahagia, Sam,” ku alihkan pandanganku pada Naila.
            Naila tersenyum.
            “Selamat ya, Sam,” mau tak mau aku mengukir senyum palsu. Ku jauhkan pandanganku ke danau disana. Danau itu seakan mengejekku dengan apa yang sedang ku rasakan. Ah, tidak... biarkan saja dia meremehkanku. Toh, dia juga tidak akan bisa mengubah kecewaku saat ini.
            Setega itukah kau padaku, Sam?
            Dadaku sesak.
           
           


            

Senin, 29 September 2014

Maaf

Sekali lagi kau tanyakan tentang perasaanku. Meminta kebenaran dariku, menjawab dengan jujurku. Namun, akankah kau membenciku dengan apa yang nanti ku berikan padamu? Aku terlalu takut membuatmu rapuh. Terlalu jahat jika ku katakan semuanya padamu. Namun seperti katamu, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Dan, aku merasakan hal yang sama. Aku tidak bisa memaksakan perasaanku padamu.

"Aku ingin mendengar jawabanmu. Sekali lagi aku ingin mendengarnya," ulangmu padaku malam itu.
Aku kembali menarik napas. Mengumpulkan semua kekuatanku. "Aku tidak mencintaimu, maaf." Yah, aku tidak mencintaimu meskipun kau terus memaksaku dengan perasaanmu yang terpendam selama enam tahun dulu.
"Benarkah?" ulangmu, ingin meyakinkan jawabanku.
"Aku mencintai laki-laki lain. Namun aku telah memutuskan untuk tidak menjalin hubungan lebih dekat layaknya pasangan lain. Aku lebih memilih berjalan apa adanya," terangku padanya. Jujur itu lebih baik walaupun menyakitkan.
"Maafkan aku karna telah menggangumu bekalangan ini. Maafkan aku dengan perasaanku yang mengganggumu. Tapi, dengarlah, aku benar-benar tidak bisa melupakanmu." Ia berhenti sejenak. Aku tau seperti apa perasaannya saat ini. "Baiklah, mulai saat ini aku akan mencoba melupakanmu."
Beberapa menit aku diam. Membiarkan fikiranku mencari jawaban yang benar. "Carilah yang lebih baik dibandingku. Yang bisa membahagiakanmu dan kaupun bahagia bersamanya. Dan, maafkan aku telah mengecewakanmu."
"Tidak perlu minta maaf," suara itu makin rendah. "Akulah yang minta maaf. Dan trimakasih atas waktumu."

Aku tau bagaimana rasanya kecewa, tapi setidaknya aku sudah jujur pada diriku sendiri. Bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan.




Senin, 22 September 2014

Selayang Pandang



Akankah kau hilang dari pandangan?
Selayang pandang yang ingin slalu ku kenang
Akankah kau hilang dari ingatan?
Selayang ingatan yang slalu memenuhi kenangan

Akankah kau hilang bersama purnama yang berwarna kelam?

Jangan hilang
Aku takut kau tak datang
Jangan hilang
Aku takut kau nanti tak datang

Akankah kau hilang bersama senja yang mulai menyinsingkan buram?

Jangan pergi
Aku takut kau tak kembali
Jangan pergi
Aku takut kau nanti berpaling

Akankah kau?
Ah, aku tak ingin  berandai-andai saja saat ini
Jangan hilang
Dan jangan pergi

Rabu, 17 September 2014

Merpati Nun Jauh Di Sebrang



Laksana merpati tebang nun jauh disana
Mengelilingi setumpuk awan putih lalu menyelinap di dalamnya
Kepakannya meniupkan seribu para penggermar dalam sekali pandang
Telah puas ia kembali hinggap di dahan

Merpati putih nan mempesona
Menyentuhnya kau butuh usaha
Jangan mendekat
Nanti dia akan menghilang sejurus mata memandang

Merpati putih nan memikat
Jangan dekap jika nyali saja kau tak miliki
Nanti ia terbang
Bila sentuhmu menyeka dirinya

Laksana merpati yang jauh di pandang
Ia terbang mengelilingi awan
Memandang dengan tenang
Lalu hinggap di dahan kenangan


Merpati putih yang jauh di seberang
Jangan terbang jauh dari pandangan
Biar tak sulit ku kenang
Agar tenang ku dalam diam

Oh,
Merpati putihku yang jauh dipandang




Ah, aku tidak kuat



Aku kuat?
Tidak
Aku sabar?
Tidak juga

Aku hanya berusaha kuat
Aku juga berusaha sabar
Menyimpan seribu sakit di sela tawaku
Menahan tangis di sela senyumku

Aku tidak kuat
Jua tidak sabar
Aku hanya berusaha
Setidaknya menyimpan sedih di setiap canda

Aku kuat?
Sungguh tidak
Jangan salut padaku
Nanti kau bisa kecewa karna sifatku

Aku kuat?
Tidak pernah merasa kuat
Jangan bangga padaku
Ku takut kelak kau menghindariku

Aku kuat?
Benarkah?
Ah!
Diamkan saja aku
Nanti kau akan tau kelakuan burukku

Aku tidak pernah merasa kuat
Tentu
Aku jua tidak pernah merasa tabah
Tentu

Aku kuat?
Jangan anggap aku kuat jika pada akhirnya aku tidak sekuat nantinya