“Kamu terlalu banyak memilih Lya. Mau yang ginilah, mau
yang gitulah. Kalau gitu mulu kamu bakal susah lakunya. Aku yakin itu.”
Yah, itu
bukan ucapan yang pertama kali yang ku dengar. Melainkan ucapan yang kesekian
kalinya. Aku lagi-lagi harus mendengus juga membesarkan perasan. Aku tau ucapan
itu bukanlah untuk menyakitiku melainkan untuk menegur agar aku sadar bagaimana
harus meluruskan harapanku. Yah, meskipun kata-kata mereka sungguh kadang
diluar perkiraan.
“Kamu tau
gak, kadang apa yang diinginkan itu malah jauh loh. Berputar balik sembilan
puluh derajat.”
Kali ini
aku masih harus melakukan hal yang sama. Menutup telinga, menutup perasaan dengan
melapangkan dada lagi. Kenapa bukannya mendukungku dengan ucapan jauh lebih
menarik. Mendorong harapanku dengan senyuman yang lebih indah ketimbang harus
merogohkan perkataan yang pasti sangat dan tentu terasa sakit.
Ada banyak
hal mengapa aku harus memilih untuk menentukan pasangan mulai saat ini. Bukan untuk
main-main. Bukan juga untuk berbagi kebahagian sebentar saja. Bukan juga tempat
hanya meminta jajan; duit atau membelikan perlengkapan lainnya disaat dompet
sama sekali tidak ada isi. Bukan itu yang harus aku fikirkan. Bukan juga karna
aku tidak laku—hem, aku rasa aku tidak terlalu jelek (sambil memperhatikan kaca
dengan sebelah mata karna takut meilhat jerawat yang baru tumbuh tadi pagi di
pipi kiri). Yah bukan juga hanya tempat melapiaskan amarah, kesal, sedih ketika
sedang dilanda masalah. Bukan, sungguh bukan itu saja.
Aku memiliki
alasan lain. Alasan yang memperkuat diriku untuk tetap memiliki sesuatu yang
harus ku pertahankan sampai hari ini. Setidaknya siapapun diantara mereka baik
itu sahabat saudara ataupun keluarga lainnya bisa mengerti keinginanku yang
kuat. Ku akui aku memang bukanlah pemilik harta warisan yang berlimpah ruah
kesana kemari. Bukan keturunan pejabat yang seenaknya meminta untuk dibelikan
mobil mewah. Yang mempunyai hitungan rupiah di ATM. Bukan, aku bukan keturan
yang tergolong bisa mengangkat derajakku di mata para teman kuliah juga teman
kerjaku.
Aku hanya
wanita biasa. Dari keturunan yang biasa-biasa saja. Dan alhamdulilah dengan
kemapuan yang Allah berikan kepadaku, aku bisa menyelesaikan MTs juga SMA ku tanpa
mengeluarkan rupiah dari orang tuaku; dalam arti jajan, buku juga baju belum
termasuk hitungan gratis. Alhamdulillah aku
termasuk juara kelas setiap semesternya. Setelah menyelesaikan sekolah kemudian
aku melanjutkan kuliahku ke daerah yang menurutkku juga mungkin penilain orang
lain begitu kejam, Jakarta namanya. Aku bisa meraih beasiswa dan melanjutkan
studiku disana. Dan lagi-lagi aku bersyukur ketika sebuah cv entah keberapa
kalinya aku diterima untuk bekerja dengan membiayai kebutuhan sehari-hari. Ini adalah
anugrah terindah dalam hidupku.
Kerja pagi,
kuliah malam. Sebuah pertarungan yang harus dijalani dengan berbekalkan ikhlas.
Dan dengan
seiring bertambahnya usiaku yang beranjak masuk 22 tahun. Aku sudah memikirkan
masa depan. Pasti, dan itu harus. Sebuah pilihan yang mengantarkan kita untuk
tetap hidup dalam lingkungan rohaniah setiap harinya. Aku tidak muluk-muluk
untuk memilih. Menurutku penilaianku bukanlah suatu dibatas yang tidak wajar. Aku
hanya ingin mendapakkan sosok yang bisa mencintaiku tidak melebihi cintanya
kepada Robbnya, menyayangiku tidak melebihi sayangnya kepada Robbnya. Sehingga dengannya
bertambah kadar keimananku. Itu saja. Tapi entah mengapa setiapku, hemmm...
lebih tepatnya ku ceitakan sosok pria idamanku ketika yang lainnya bertanya itu
terlalu berlebihan. Lah, apa yang berlebihan?
Tidak terlalu
sulit bukan, tidak juga berlebihan.
Kita hanya
butuh saling mendo’akan dan tetap beusaha. Itu saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar