Senin, 07 April 2014

NAH, YAH BEGITU



           

            “Kamu terlalu banyak memilih Lya. Mau yang ginilah, mau yang gitulah. Kalau gitu mulu kamu bakal susah lakunya. Aku yakin itu.”
            Yah, itu bukan ucapan yang pertama kali yang ku dengar. Melainkan ucapan yang kesekian kalinya. Aku lagi-lagi harus mendengus juga membesarkan perasan. Aku tau ucapan itu bukanlah untuk menyakitiku melainkan untuk menegur agar aku sadar bagaimana harus meluruskan harapanku. Yah, meskipun kata-kata mereka sungguh kadang diluar perkiraan.
            “Kamu tau gak, kadang apa yang diinginkan itu malah jauh loh. Berputar balik sembilan puluh derajat.”
            Kali ini aku masih harus melakukan hal yang sama. Menutup telinga, menutup perasaan dengan melapangkan dada lagi. Kenapa bukannya mendukungku dengan ucapan jauh lebih menarik. Mendorong harapanku dengan senyuman yang lebih indah ketimbang harus merogohkan perkataan yang pasti sangat dan tentu terasa sakit.
            Ada banyak hal mengapa aku harus memilih untuk menentukan pasangan mulai saat ini. Bukan untuk main-main. Bukan juga untuk berbagi kebahagian sebentar saja. Bukan juga tempat hanya meminta jajan; duit atau membelikan perlengkapan lainnya disaat dompet sama sekali tidak ada isi. Bukan itu yang harus aku fikirkan. Bukan juga karna aku tidak laku—hem, aku rasa aku tidak terlalu jelek (sambil memperhatikan kaca dengan sebelah mata karna takut meilhat jerawat yang baru tumbuh tadi pagi di pipi kiri). Yah bukan juga hanya tempat melapiaskan amarah, kesal, sedih ketika sedang dilanda masalah. Bukan, sungguh bukan itu saja.
            Aku memiliki alasan lain. Alasan yang memperkuat diriku untuk tetap memiliki sesuatu yang harus ku pertahankan sampai hari ini. Setidaknya siapapun diantara mereka baik itu sahabat saudara ataupun keluarga lainnya bisa mengerti keinginanku yang kuat. Ku akui aku memang bukanlah pemilik harta warisan yang berlimpah ruah kesana kemari. Bukan keturunan pejabat yang seenaknya meminta untuk dibelikan mobil mewah. Yang mempunyai hitungan rupiah di ATM. Bukan, aku bukan keturan yang tergolong bisa mengangkat derajakku di mata para teman kuliah juga teman kerjaku.
            Aku hanya wanita biasa. Dari keturunan yang biasa-biasa saja. Dan alhamdulilah dengan kemapuan yang Allah berikan kepadaku, aku bisa menyelesaikan MTs juga SMA ku tanpa mengeluarkan rupiah dari orang tuaku; dalam arti jajan, buku juga baju belum termasuk hitungan gratis. Alhamdulillah aku termasuk juara kelas setiap semesternya. Setelah menyelesaikan sekolah kemudian aku melanjutkan kuliahku ke daerah yang menurutkku juga mungkin penilain orang lain begitu kejam, Jakarta namanya. Aku bisa meraih beasiswa dan melanjutkan studiku disana. Dan lagi-lagi aku bersyukur ketika sebuah cv entah keberapa kalinya aku diterima untuk bekerja dengan membiayai kebutuhan sehari-hari. Ini adalah anugrah terindah dalam hidupku.
            Kerja pagi, kuliah malam. Sebuah pertarungan yang harus dijalani dengan berbekalkan ikhlas.
            Dan dengan seiring bertambahnya usiaku yang beranjak masuk 22 tahun. Aku sudah memikirkan masa depan. Pasti, dan itu harus. Sebuah pilihan yang mengantarkan kita untuk tetap hidup dalam lingkungan rohaniah setiap harinya. Aku tidak muluk-muluk untuk memilih. Menurutku penilaianku bukanlah suatu dibatas yang tidak wajar. Aku hanya ingin mendapakkan sosok yang bisa mencintaiku tidak melebihi cintanya kepada Robbnya, menyayangiku tidak melebihi sayangnya kepada Robbnya. Sehingga dengannya bertambah kadar keimananku. Itu saja. Tapi entah mengapa setiapku, hemmm... lebih tepatnya ku ceitakan sosok pria idamanku ketika yang lainnya bertanya itu terlalu berlebihan. Lah, apa yang berlebihan?
            Tidak terlalu sulit bukan, tidak juga berlebihan.
            Kita hanya butuh saling mendo’akan dan tetap beusaha. Itu saja. 


Tidak ada komentar: