Selasa, 18 November 2014

Aaarrrggghhhh


            
Penat ini sungguh menyiksa bathinku. Merenggut semua kebahagiaan yang tersisa di sela tawaku. Membunuh semua sisa senyum yang slalu kusisihkan dalam diamku. Ya, semua terasa hambar dan begitu hampa memenuhi rongga jiwaku. Tuhan, mengapa rasanya detak jantung ini semakin lama semakin menepis saja. Apa mungkin aku terlalu memikirkan sesuatu yang membuatku sesak? Sesak yang kini memenuhi otakku. Mengalir dalam setiap sel –sel syarafku. Mati mungkin bisa membuat semuanya lebih baik. Apakah benar dengan mati? Jika iya, apa aku haus mati?
            “Kau lelah Lya?” Entah dari mana asal suara yang tiba-tiba menghentakkan lamunanku.
Ya, aku melamun lagi sore ini. Kebiasaan terindah yang mungkin bisa membantu sisa ingatanku untuk menjadi lebih tegar dan kuat. Kuperhatikan sekeliling ruangan. Tidak ada seorangpun disini kecuali aku sendiri. Lalu, siapa yang mengejutkanku? Kuperhatikan lagi sekelilingku. Namun hasilnya tetap sama. Nihil. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja, mungkin juga karna terbawa suasana. Lebih baik tidak usah kuhiraukan panggilan tadi.

*
Dan tiga bulan kemudian...
Seperti sebuah bayangan nyata meraih kesadaranku. Dia menarikku masuk ke dalam dunia nyata miliknya. Katanya, kau bisa berbagi keluh kesahmu bersamaku. Tentang apa saja kau bisa ceritakan padaku, begitu katanya. Tapi, apakah semudah itu mengatakan semuanya padamu? Apakah semudah itu mengutarakan semua beban di hatiku ini padamu? Apakah semuanya akan lebih baik lagi jika kukatakan padamu? Aku ragu. Ah, sebenarnya tidak ragu padamu hanya saja aku lebih suka memendam semua di hatiku. Semuanya akan terasa baik-baik saja jika hanya aku saja yang tau. Aku akan baik bila terus begini.
“Katakanlah Lya,” ujarmu malam itu.
Aku menangis untuk ketiga kalinya. Kenapa harus menangis lagi? Kenapa airmata ini mudah sekali jatuh? Aku benci menangis. Aku benci airmata. Namun yang paling kubenci aku tidak bisa menahan bendungan airmataku sendiri. Air mata yang bisa mewakili semua penat yang tersisa. Semua perih yang menikam jiwa. Semua luka yang menyayat sukma. Rasanya sesak sekali setiap fikiran buntu ini menggelayut di fikiranku. Sesak yang membuatku sulit bernafas.
“Aku baik-baik saja. Percayalah!” kuselipkan tawa di ujung ucapanku.
“Kau yakin?” ujarmu tidak percaya. Tentu saja kau tidak akan percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan. Tidak mungkin dalam sedetik saja keadaan menjadi lebih baik. Tapi percayalah, mendengar suaramu sudah menjadikan keadaan lebih tenang.
“Ya, aku baik-baik saja,” jawabku menghapus sisa airmataku tadi. Tak kubiarkan air mataku jatuh lagi.

*
   Seperti puluhan ribu putaran berkeliling di kepalaku. Pusing dan mual kini bercampur aduk di tubuhku. Sakit sekali rasanya jika harus begini lagi. Setiap ada masalah tubuhku slalu jadi tempat pelampiasan. Aku lelah, pusing dan ingin pinsan. Aku tak kuat lagi. Benar-benar menyiksa sekali.
Sekali, dua kali dan tiga kali aku bergumam sendiri. Aku harus bisa, aku harus kuat. Namun tetap saja aku tak kuat. Aku berlari ke dalam kamar mandi kemudian memuntahkan semua yang membuat perutku mengerang. Cairan kuning mengalir dari mulutku. Aku muntah lagi dan lagi. Jelang kemudian aku tenang. Perutku yang tadi terasa ngilu lambat laun menjadi biasa saja.
Kuhempaskan tubuhku di atas kursi. Pandanganku nanar pada komputer yang berada tepat dihadapanku. Cahayanya membuat mataku menyipit. Ah, aku tidak fokus kerja. Aku ingin pulang dan istirahat sejenak. Membuang unek-unek yang menggelayut di kepalaku.
“ Mas, aku pulang duluan ya mas,” ujarku dengan menekan-nekan kepalaku yang semakin pusing.

*
“Sebaiknya kamu periksa saja, Lya.”
Sosok dihadapanku mengulurkan secangkir teh hangat. “Periksa? Ngapain? Wong aku baik-baik aja kok,” jawabku. Kuseruput teh hangat ditanganku.
“Apa kamu gak takut jika sesuatu terjadi di kepalamu?”
Kupandangi sosok itu tajam. Dia benar-benar membuatku takut. “Aku baik kok,” ketusku.
“Kalau kamu baik terus ngapain mengeluh mulu kalau kamu sakit. Kepala sakit, rambut rontok, perut mual. Apa itu bukan penyakit?” Dia menatapku. Matanya tajam sekali.
“Kamu jangan menakutiku. Aku gak suka,” aku semakin kesal dibuatnya.
“Aku tidak bermaksud menakutimu, Lya. Tapi dengarlah, jika kamu memang sahabatku sebaiknya kamu ikuti saja saranku.”
“Itu bukan saran, Ema. Melainkan jebakan yang membuatku semakin takut.” Kutinggalkan dia sendiri dengan teh yang tadi diulurkannya padaku. Aku sudah malas mendengar ucapannya untuk kesekian kalinya.

*
Dan kepalaku berdenyut lagi...
Aku benci dengan hal ini. Aku benci jika ini harus terjadi lagi. Apa aku harus mengikuti saran Ema saja? Memeriksa kepalaku yang tiap kali berdenyut. Tapi, ah, untuk apa? Toh para dokter hanya bisa mendiagnosa saja. Yang katanya inilah-itulah. Membuatku semakin tegang saja jika mendengarnya. Lebih baik kubiarkan saja jika terus begini. Nanti saja, jika mungkin aku sudah memiliki keberanian maka akan kulaksanakan saran dari Ema. Ya, walaupun aku takut.

Sepertinya aku harus tetap mempertahankan keegoanku dengan memendam segala apapun yang terjadi di diriku. Mungkin itu yang lebih baik.

Ah... aku tidak ingin terlalu pusing dengan semuanya.

Jakarta, 14 Nov'14

Tidak ada komentar: