Penat ini sungguh menyiksa
bathinku. Merenggut semua kebahagiaan yang tersisa di sela tawaku. Membunuh
semua sisa senyum yang slalu kusisihkan dalam diamku. Ya, semua terasa hambar
dan begitu hampa memenuhi rongga jiwaku. Tuhan, mengapa rasanya detak jantung
ini semakin lama semakin menepis saja. Apa mungkin aku terlalu memikirkan
sesuatu yang membuatku sesak? Sesak yang kini memenuhi otakku. Mengalir dalam
setiap sel –sel syarafku. Mati mungkin bisa membuat semuanya lebih baik. Apakah
benar dengan mati? Jika iya, apa aku haus mati?
“Kau lelah Lya?” Entah dari mana
asal suara yang tiba-tiba menghentakkan lamunanku.
Ya, aku melamun lagi sore ini.
Kebiasaan terindah yang mungkin bisa membantu sisa ingatanku untuk menjadi
lebih tegar dan kuat. Kuperhatikan sekeliling ruangan. Tidak ada seorangpun
disini kecuali aku sendiri. Lalu, siapa yang mengejutkanku? Kuperhatikan lagi
sekelilingku. Namun hasilnya tetap sama. Nihil. Entahlah, mungkin hanya
perasaanku saja, mungkin juga karna terbawa suasana. Lebih baik tidak usah
kuhiraukan panggilan tadi.
*
Dan tiga bulan kemudian...
Seperti sebuah bayangan nyata
meraih kesadaranku. Dia menarikku masuk ke dalam dunia nyata miliknya. Katanya,
kau bisa berbagi keluh kesahmu bersamaku. Tentang apa saja kau bisa ceritakan padaku,
begitu katanya. Tapi, apakah semudah itu mengatakan semuanya padamu? Apakah
semudah itu mengutarakan semua beban di hatiku ini padamu? Apakah semuanya akan
lebih baik lagi jika kukatakan padamu? Aku ragu. Ah, sebenarnya tidak ragu
padamu hanya saja aku lebih suka memendam semua di hatiku. Semuanya akan terasa
baik-baik saja jika hanya aku saja yang tau. Aku akan baik bila terus begini.
“Katakanlah Lya,” ujarmu malam
itu.
Aku menangis untuk ketiga
kalinya. Kenapa harus menangis lagi? Kenapa airmata ini mudah sekali jatuh? Aku
benci menangis. Aku benci airmata. Namun yang paling kubenci aku tidak bisa
menahan bendungan airmataku sendiri. Air mata yang bisa mewakili semua penat
yang tersisa. Semua perih yang menikam jiwa. Semua luka yang menyayat sukma.
Rasanya sesak sekali setiap fikiran buntu ini menggelayut di fikiranku. Sesak
yang membuatku sulit bernafas.
“Aku baik-baik saja. Percayalah!”
kuselipkan tawa di ujung ucapanku.
“Kau yakin?” ujarmu tidak
percaya. Tentu saja kau tidak akan percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan.
Tidak mungkin dalam sedetik saja keadaan menjadi lebih baik. Tapi percayalah,
mendengar suaramu sudah menjadikan keadaan lebih tenang.
“Ya, aku baik-baik saja,” jawabku
menghapus sisa airmataku tadi. Tak kubiarkan air mataku jatuh lagi.
*
Seperti
puluhan ribu putaran berkeliling di kepalaku. Pusing dan mual kini bercampur
aduk di tubuhku. Sakit sekali rasanya jika harus begini lagi. Setiap ada
masalah tubuhku slalu jadi tempat pelampiasan. Aku lelah, pusing dan ingin
pinsan. Aku tak kuat lagi. Benar-benar menyiksa sekali.
Sekali, dua kali dan tiga kali
aku bergumam sendiri. Aku harus bisa, aku harus kuat. Namun tetap saja aku tak
kuat. Aku berlari ke dalam kamar mandi kemudian memuntahkan semua yang membuat
perutku mengerang. Cairan kuning mengalir dari mulutku. Aku muntah lagi dan
lagi. Jelang kemudian aku tenang. Perutku yang tadi terasa ngilu lambat laun
menjadi biasa saja.
Kuhempaskan tubuhku di atas
kursi. Pandanganku nanar pada komputer yang berada tepat dihadapanku. Cahayanya
membuat mataku menyipit. Ah, aku tidak fokus kerja. Aku ingin pulang dan
istirahat sejenak. Membuang unek-unek yang menggelayut di kepalaku.
“ Mas, aku pulang duluan ya mas,”
ujarku dengan menekan-nekan kepalaku yang semakin pusing.
*
“Sebaiknya kamu periksa saja,
Lya.”
Sosok dihadapanku mengulurkan
secangkir teh hangat. “Periksa? Ngapain? Wong aku baik-baik aja kok,” jawabku.
Kuseruput teh hangat ditanganku.
“Apa kamu gak takut jika sesuatu
terjadi di kepalamu?”
Kupandangi sosok itu tajam. Dia
benar-benar membuatku takut. “Aku baik kok,” ketusku.
“Kalau kamu baik terus ngapain
mengeluh mulu kalau kamu sakit. Kepala sakit, rambut rontok, perut mual. Apa
itu bukan penyakit?” Dia menatapku. Matanya tajam sekali.
“Kamu jangan menakutiku. Aku gak suka,”
aku semakin kesal dibuatnya.
“Aku tidak bermaksud menakutimu,
Lya. Tapi dengarlah, jika kamu memang sahabatku sebaiknya kamu ikuti saja
saranku.”
“Itu bukan saran, Ema. Melainkan
jebakan yang membuatku semakin takut.” Kutinggalkan dia sendiri dengan teh yang
tadi diulurkannya padaku. Aku sudah malas mendengar ucapannya untuk kesekian
kalinya.
*
Dan kepalaku berdenyut lagi...
Aku benci dengan hal ini. Aku
benci jika ini harus terjadi lagi. Apa aku harus mengikuti saran Ema saja?
Memeriksa kepalaku yang tiap kali berdenyut. Tapi, ah, untuk apa? Toh para
dokter hanya bisa mendiagnosa saja. Yang katanya inilah-itulah. Membuatku
semakin tegang saja jika mendengarnya. Lebih baik kubiarkan saja jika terus
begini. Nanti saja, jika mungkin aku sudah memiliki keberanian maka akan
kulaksanakan saran dari Ema. Ya, walaupun aku takut.
Sepertinya aku harus tetap
mempertahankan keegoanku dengan memendam segala apapun yang terjadi di diriku.
Mungkin itu yang lebih baik.
Ah... aku tidak ingin terlalu pusing dengan semuanya.
Jakarta, 14 Nov'14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar