Siapa
bilang jarak jauh itu menyiksa rindu yang dalam? Ah, konyol sekali jika memang
demikian. Tidakkah kau tau kawan, rindu adalah gumpalan madu meski kadang
seperti merica, pedas. Namun rindu tetaplah menjadi buah yang bearoma wangi.
Rindu ialah pertemuan dua keping hati yang ingin saling mendekap. Rindu ialah
pertemuan dua kepingan hati yang tak sabar tuk saling bertatap pandang. Rindu
adalah benang-benang yang di rajut dengan teliti dan hati-hati agar bersatu
menjadi sepasang waktu. Rindu ialah rangkaian kalimat yang di ukir menjadi satu
agar tercipta kalimat nan syahdu. Rindu ialah warna-warni jarak jauh.
Siapa
bilang rindu itu menyiksa waktu? Hei, kawan, dengarlah! Rindu bagaian dari
harimu yang setia menemanimu. Rindu itu sahabat setia yang slalu berada di
sisimu. Rindu itu kesabaran yang lebih untukmu. Rindu itu sebuah kotak persegi
yang tertutup rapat yang tak bisa kau tanpakkan wujudnya sebelum waktunya.
Rindu bagai aliran sungai tenang namun diam-diam berombak. Rindu yang slalu
membuatmu terkatup untuk bisu pada sang pilu. Rindu tentang rasa yang lambat
laun menjadi syair-syair pujangga. Rindu penghangat jiwa yang dahaga. Rindu
adalah bagian dari dirimu.
Baiklah,
tak perlu banyak bercerita tentang rindu. Jika pada akhirnya kau akan malu
untuk mengakuinya. Biarkan saja rindumu kau simpan rapat dalam bungkusan jemari
yang tak bisa di sentuh oleh siapapun kecuali hanya kau dan si pemilik rindu.
Untuk itu, teruslah berjuang untukmu dan rindumu.
Salam untukmu dariku 'Sang Perindu.'
Jakarta, 20 Des,14

Tidak ada komentar:
Posting Komentar