Senin, 23 Februari 2015

(BUKAN) RINDU MATI




Rinduku tertahan angin malam
Pada semilir rumput yang bergoyang
Pada bingkis purnama yang menghantarkan mimpi jalang

Rinduku tertahan angin malam
Pada bunyi kerincing gelang bidadari bermata sipit
Pada nyanyian yang di iringi dentingan gitar di separuh pagi

Rinduku tertahan angin malam
Pada kerlipan bintang yang tak ingin berjalan
Pada sunyi kendraan yang lalu lalang
Pada hati yang terpaut mati



Rinduku terpaut sepi
Pada perangkap hati
Pada detak jantung yang tak lagi mengalir deras
Pada sesak napas setiap kali mendengar denyut nadi

Aku tak berani beralih lagi
Pada lain hati
Pada hati yang ingin jatuh hati
Pada sepi yang membawa mati

Rinduku mati
Pada titik yang tak pernah terputus
Pada sebongkah harapan yang menjadi mimpi
Aku mati pada rindu sendiri



Jakarta, 23 Feb’15

Jumat, 20 Februari 2015

A Beautiful Lier




Sebelumnya baik-baik saja bukan? Bahkan kita masih tertawa bersama. Kita masih duduk bersama meski tidak saling berhadapan. Kita masih bercerita dengan lelucon yang sama. Kita masih biasa-biasa saja terhadap waktu. Bahkan aku sendiri ingin memutar posri waktu saat bersama.
Kau tau? Wanita mana yang tidak bahagia ketika sang pujaannya datang secara tiba-tiba dari tempat yang berbeda? Menjumpainya dengan senyuman manja serta kata-kata yang indah. Tentu saja hal itu lebih membahagiakan di banding seribu mawar, atau setangkai bunga adelwis sekalipun. Tidak ada yang melebihi bahagiaku saat itu. Namun kemudian perasaan itu luluh lantak. Menjadi puing-puing yang hancur berantakan. Sisa kepercayaan di balas pengkhianatan. Ah, kejam sekali.
“Hana? Pacar?”
Ah, dunia seperi tumpukan batu yang menghajarku saat itu. Kekuatanku roboh. Bekas-bekas senyum sehari yang lalu hilang. Bagaimana mungkin aku menyakinkan pendengaranku sendiri? Aku tidak tuli kasih, aku tidak tuli. Aku mendengar pembicaraan itu secara berlahan dan sadar. Aku mendengarnya, mencernanya. Sejahat apa aku padamu hingga kau duakan aku? Kau bagi cinta serta perhatianmu pada tiga wanita sekaligus.
Mungkin karna LDR? Oh ya? aku ingin tertawa puas. Membenci dunia burukku sendiri. Mengutuk diriku sendiri. Mengatakan pada dunia bahwa wanita ini telah tertipu untuk ke dua kali. Ya, aku tertipu kasih. Aku kau tipu, aku kau tipu dengan obralan manismu.
“Aku adeknya, kak.”
Adek? Hahaha... aku tertawa lagi. Bagaimana mungkin? Dulu antara kita juga hal yang sama, bukan? Tapi, ya sudahlah, aku tidak ingin membahas sesuatu yang berujung luka lagi. Aku ingin menenangkan hati, aku ingin menjadi biasa lagi. Seperti dulu, seperti sebelum mengenalmu.
 “Aku sayang kamu, percayalah!”
Percayalah? Aku mempercayaimu dengan semua kebohonganmu. Aku mempercayaimu dengan semua yang pernah kau lakukan padaku. Aku mempercayaimu melebihi apapapun itu. Bahkan dengan jarak yang meragukanku aku tetap mempercayaimu dengan semua kebohonganmu. Lalu mengapa kau masih melakukanku dengan hal yang sama? Hal mana lagi yang tidak pernah kukatakan padamu? Hal mana lagi yang membuatmu baik-baik saja? Apa karna aku ini jahat? Atau aku polos? Ya, aku polos dan terlalu kekanak-kanakkan pada perasaanku. Kau tau karna apa? Aku tulus mencintaimu. Aku tidak pernah merasakan hal yang sama layaknya dulu. Tidak kasih, tapi denganmu? Ah, sudahlah!
“Semuanya akan baik-baik. Aku janji.”
Janji? Tidak perlu berjanji dengan sesuatu yang tidak bisa di tepati. Sebab khilaf itu akan terjamah di antara ke kosongan. Maka katakanlah apa yang sebenarnya. Jangan di pendam, ucapkan saja.
Aku memaafkanmu, memaafkan semua yang terjadi di antara kita. Memaafkan kesalahanku karna egoku. Memaafkan semuanya. Untuk itu tersenyumlah, mari kita awali semua dengan sebuah pembelajaran tersendiri. Bagaimana menghargai hati yang lain, menghargai hati sendiri. Karna segala sesuatu tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya slalu berhikmah yang indah. Kuucapkan trimakasih padamu dalam hal apapun itu.
Bolehku katakan padamu sesuatu? Jangan pernah mengulangi hal yang sama untuk kedua kali. Jangan pernah siakan siapa yang tulus padamu, sebab kau akan tau bagaimana kehilangan setelah tiada.
Trimakasih...



Jakarta, 17 Feb’15       

Senin, 16 Februari 2015

Trimakasih



Ah gila!
Hatiku seperti di cabik-cabik, di hunus pisau lalu di garamin dan di taburi jeruk nipis. Menyakitkan sekali...
Kau datang seperti malaikat namun berjiwa iblis. Setelah kau tau aku mulai menghabiskan sisa kepingan keseriusanku lalu berlahan kau jatuhkan jiwaku menjadi batu. Dan bodohnya aku karna kelemahanku. Aku menerima tawaran indahmu, tawaran laksana kilau di perempatan jalan yang sempit kemudian menarikku di hidupmu. Lalu apa yang terjadi? Kau jatuhkan aku.

Aku gila!
Ya gila! Seperti pengemis yang mencari-cari sisa bekas makanan pada seonggok sampah. Setelah kudapatkan malah menajadi racun yang menakutkan. Ya, aku mati, hampir mati dengan segala airmata yang tersisa jua berlebih. Hidupku seperi bayangan dalam dirimu. Menampilkan semua alur yang kau setting sesuai keinginanmu. Kau puas?

Aku memaafkanmu!
Percayalah! Aku memaafkanmu. Memaafkan dengan rasa cinta yang masih bertahan di hatiku. Memaafkan dengan segala rasa cinta yang masih melekat di hatiku. Tentu saja! namun jika kembali dan menjadikan keadaan lebih baik aku tak bisa. Sungguh, aku tak mampu. Seekor keledaipun tak ingin jatuh ke lobang yang sama untuk ke dua kali. Aku rasa kau paham itu.

Aku melepaskanmu hari ini...
Melepaskanmu bukan karna aku tak cinta. Tentu saja aku sangat mencintaimu. Namun aku ingin kau bahagia dengan sosok yang bisa membuatmu bertahan. Bukan denganku, ya tentu saja bukan aku. Karna aku tidak ingin menjadi beban dalam langkah pencarianmu. Maka pergilah! Pergilah dengan wanita yang mencintaimu. Pergilah dengan wanita yang telah meraih lenganmu di sana. Maafkan atas apa yang pernah kuperbuat. Atas sikapku yang keras, atas watakku yang hanya ingin kau menjadi milikku tanpa ada kedua, ketiga atau lainnya. Maafkan aku...

Aku mencintaimu...
Sungguh! Namun biarlah cinta yang kumiliki kurekat erat di hatiku sebagai kenangan sisa air mata semalam. Trimakasih laki-laki dengan tawa yang renyah. Trimakasih untuk hal apapun itu.


Jakarta, 16 Feb’15


Denganmu Di Hujan Januari




Masihkah kau ingat sisa hujan kemaren sayang?
Saat itu kita memijaki aspal yang kokoh
Dan gemercik air menepis gelang kakiku
Jua cipratannya mengenai sisi rok panjangku

Apa kau masih ingat sisa hujan kemaren sayang?
Saat jemarimu meraihku
Lalu menggengamku tanpa ekspresi kaku
Aku tau kau tak ingin melepasku

Hujan Januari yang kita lalui malam itu
Dengan sorotan lampu jalanan
Serta malam yang kian berajak pagi
Merekat pelukan hangat secangkir kopi

Namun kenyataannya, hujan kali ini hanya sebatas bayang semu 


Katamu di hujan itu seolah melepas penat yang tersisa di sesak napasku
Mari, akan kuantarkan kau kepelabuhan
Kuajari bagaimana namanya bergaul dengan hujan
Serta meringkuhnya bersama angan

Aku di sampingmu menyapu kembali gerimis hujan yang kian pekat
Kusampaikan seonggok sapa
Diamlah hujan jangan berhenti basahi jalangnya malam
Agar kutetap merengkuh sosok kekasih yang menghangatkan kekosongan

Dan hujanpun hilang
Seiring panas yang kian datang
Kau rajut kembali genggaman
Bersama menerobos pagi yang kian menyisakan hangat bersama pelukan



Jakarta, 09 Feb’15

Selasa, 10 Februari 2015

Lelakiku





Dan aku bercerita tentang hujan pagi ini
Tentang gerimis yang mengundang
Tentang pelangi yang beranjak hilang
Tentang jejak yang kian pudar

Aku bercerita lagi tentang hujan pagi ini
Tentang romansa yang membangunkan dinding rindu yang terselip
Tentang kamu,
Lelakiku

Lelaki yang melebihi guratan senja
Lelaki yang melebihi cahaya purnama
Lelakiku yang kutemui dengan masa lalu
Lelakiku yang penuh dengan rindu

Aku bercerita lagi tentang hujan pagi ini
Bersama kopi yang setia terhadap pagi
Tentang kamu,
Masih tentang lelakiku

Lelakiku yang teramat kurindu
Lelakiku dengan segenap tawa penghilang pilu
Lelakiku penyejuk kalbu di kala gundah menyapaku
Lelakiku dengan apa adanya kamu

Aku bercerita lagi tentang hujan di pagi ini
Tentang mentari kian menghapus bias hujan yang menepi
Tentang pagi yang sudah usai
Tengtang kamu; lelakiku

Lelakiku,
Aku mendo’akanmu sepanjang harimu  




Jakarta, 13 Jan’15

Rabu, 07 Januari 2015

New Year







Ah, aku ingat. Aku ingat apa saja yang terjadi di antara kita. Aku ingat apa yang slalu kita bicarakan setiap kali matahari yang menyengat itu berganti dengan biasnya sang purnama lalu menjadi teman paling setia di antara kau dan aku. Tentu aku ingat tentang apapun itu. Begitu juga  musim yang kini berganti. Waktu yang sebenarnya ingin kulewati semakin menepi. Katamu, ya, lebih tepatnya ucapanmu slalu menjadi bisik-bisik di telingaku. Entah kau percaya ataukah tidak aku tak peduli. Yang pasti aku tidak pernah berdusta pada diriku sendiri.

Sudah pernah kuceritakan sebelumnya. Bahwa jarak ialah benih dari penantian. Dan aku sabar untuk menanti. Terlalu bodohkan jika kukatakan aku ingin menantimu? Terlalu bodohkan jika kukatakan aku hanya ingin menunggumu di saat yang tepat untukmu dan aku? Aih, ada-ada saja aku. Aku benar-benar telah masuk ke dalam perangkap yang aku sendiri tak ingin ke kembali. Tak mengapa, jika perangkap itu ialah kau.

Hei... Kau tau? Malam itu, malam tepat pergantian tahun baru. Malam yang kata mereka sebuah keindahan dengan petasan serta hamparan kembang api yang menari-menari di langit. Sangat mempesona, sangat menakjubkan, sangat berkesan, sangat menawan. Tapi tidak denganku, sungguh. Jika saja aku bisa memutar balikkan jam yang berdentang di dinding sana, pastilah akan kuulangi waktu semenit yang lalu. Ya, hanya semenit... kau tau kenapa? Saat itu mataku tak beralih dari handphone di tanganku. Aku sama sekali tidak bisa membuka kontras mataku dengan sangat jelas. Bukan karna penglihatanku yang semakin rabun. Tidak! Melainkan suatu harapan di dalamnya. Kau akan memberi tahuku tentang malammu yang entah dimana letaknya. Kau kabarkan bagaimana kau melihat petasan yang sengaja kau gaduhkan dengan tawamu. Hanya itu saja. Namun, lagi-lagi aku menopang sebuah kehampaan berbalut gelisah. Kubuang jauh rasa itu bersama tumpukan kobaran api di hadapanku. Bersama asap yang kian melambung mengalahkan kembang api yang meliuk-liuk lalu pecah di angkasa. Berharap dalam hati kau akan melihatku meski hanya lewat jarak jauh. Ya, itu saja.

Dan waktu kembali berlalu...

Dua hari kemudian. Ah, lagi-lagi terbawa perasaan. Sungguh menyebalkan! Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Sebuah pemikiran yang membuatku linglung. Aih, perasaan ini bermainkan hati yang akhirnya galau sendiri. Apa kau tau? Sebenarnya aku ingin memintamu ke sini, ya, kemari. Sebelum pergantian kalender baru yang nanti akan banyak terpampang dimana-mana. Ingin memintamu datang ke tempatku untuk menyaksikan kobaran petasan api yang bewarna-warni. Bersama riuh dan gaduhnya kota Jakarta yang menyesakkan jiwa. Bersama lampu-lampu di pinggir jalan serta roda-roda kendraan yang lalu lalang. Namun mulutku kaku, aku tak mampu mengatakan padamu untuk datang padaku. Aku terlalu takut melakukannya. Dan pada akhirnya, aku memilihmu untuk melanjutkan pertualanganmu. Pilihan yang sulit memang namun aku harus bersikap tegas. Toh, aku yakin suatu nanti bukan jam ini, detik ini, lebih tepatnya nanti kau hadir di setiap hari. Untuk itu, tetaplah seperti itu, jangan berubah dalam hal apapun.

I miss you all the way J



Jakarta, 08 Jan’15


Sabtu, 27 Desember 2014

Hujan Pagi




Tak ada yang indah di hujan pagi ini
Butirannya tak lagi berdenting
Layaknya jemari lentik memainkan tuts-tuts instruments
Yang ada hanya pecahan beling yang terdengar

Tak ada lagi yang indah di hujan pagi ini
Nuansanya malah makin gersang
Tak ada yang indah layaknya dulu
Ketika kau mainkan gitarmu di sampingku



Tak ada yang indah di hujan pagi ini
Butirannya sudah janggal sekali
Tak lembut dan tak berasa
Ia keras melebihi karang kokoh di pinggir hati

Kemana hujan pagi dulu?
Saat kau sentuh hatiku bersama gemerisiknya
Saat kau sentuh jemariku bersama rinainya
Yang ada kini tinggal semu yang berpura-pura merdu

Ya,
Tak ada lagi hujan rindu
Tak ada lagi hujan pengobat kalbu
Kini hujanku menjadi debu yang terhempas angin pilu



Jakarta, 27 Des'14

Jumat, 19 Desember 2014

Sang Perindu





Siapa bilang jarak jauh itu menyiksa rindu yang dalam? Ah, konyol sekali jika memang demikian. Tidakkah kau tau kawan, rindu adalah gumpalan madu meski kadang seperti merica, pedas. Namun rindu tetaplah menjadi buah yang bearoma wangi. Rindu ialah pertemuan dua keping hati yang ingin saling mendekap. Rindu ialah pertemuan dua kepingan hati yang tak sabar tuk saling bertatap pandang. Rindu adalah benang-benang yang di rajut dengan teliti dan hati-hati agar bersatu menjadi sepasang waktu. Rindu ialah rangkaian kalimat yang di ukir menjadi satu agar tercipta kalimat nan syahdu. Rindu ialah warna-warni jarak jauh.



Siapa bilang rindu itu menyiksa waktu? Hei, kawan, dengarlah! Rindu bagaian dari harimu yang setia menemanimu. Rindu itu sahabat setia yang slalu berada di sisimu. Rindu itu kesabaran yang lebih untukmu. Rindu itu sebuah kotak persegi yang tertutup rapat yang tak bisa kau tanpakkan wujudnya sebelum waktunya. Rindu bagai aliran sungai tenang namun diam-diam berombak. Rindu yang slalu membuatmu terkatup untuk bisu pada sang pilu. Rindu tentang rasa yang lambat laun menjadi syair-syair pujangga. Rindu penghangat jiwa yang dahaga. Rindu adalah bagian dari dirimu.

Baiklah, tak perlu banyak bercerita tentang rindu. Jika pada akhirnya kau akan malu untuk mengakuinya. Biarkan saja rindumu kau simpan rapat dalam bungkusan jemari yang tak bisa di sentuh oleh siapapun kecuali hanya kau dan si pemilik rindu. Untuk itu, teruslah berjuang untukmu dan rindumu.

Salam untukmu dariku 'Sang Perindu.'



Jakarta, 20 Des,14


Kamis, 18 Desember 2014

Cerita Kemaren



Kemaren, kita masih bercerita tentang bulan yang diam-diam mengintip lewat jendela kamar. Kita juga bercerita tentang sepasang bintang yang diam-diam jatuh cinta. Tentang mata yang diam-diam membakar rasa cemburu di dada. Tentang apa saja kita bercerita. Rindu, cemburu. Tak ada topik lain yang kudengar selain kata-kata itu. Kau suka saat aku manyun dengan ledekan jalangmu. Ya, kau sering kali meledekku. Malah terlalu suka dengan hal itu. Katamu, kalau aku manyun aku manis dan manja. Ah, entahlah... Aku hanya suka setiap kali kau mengatakan hal demikian meski sebenarnya aku malu, tapi lagi-lagi aku berhasil menyembunyikannya di balik kilah kata ‘tidakku.’

Malam ini kita kembali mencumbui waktu, seperti malam kemaren. Dua hari yang lalu, tepat dimana posisi awan gelap menutupi sepersekian dari langit. Menitihkan guratan gelap pekat serta letupan guntur yang saling bersahutan. Menari-nari bak bidadara-bidadari yang menyambut datangnya pelangi. Kau masih dengan tawamu, ya, tawa itu. Tawa yang berhasil menghancurkan aliran penat yang slalu menjalar di ubun-ubunku. Tawa yang berhasil menghanguskan kepingan kepanyang yang mengalir di setiap deras darahku. Tawa yang slalu kurindu setiap waktuku. Tawamu bagai nikotin yang membuatku semakin candu.  



“Hei, apa kau tak merinduiku?” 

Sebait kalimat yang entah mengapa tercekat di ujung tenggorokanku. Ah, aku tidak terlalu berani mengucapkan kata rindu di sela kataku. Sebab aku terlalu takut. Takut entah karna apa. Oh, tidak, bukan. Aku tentu saja berani dengan kalimat tersebut. Lihat saja!    

“I miss you.” Dan sebongkah kalimat yang meletup-letup sedari tadi berhasil mengikuti aliran air liurku. Aku merindukanmu, tentu saja.

Namun detik yang berlalu semakin merebus fikiranku. Dentuman jantungku yang berdebar-debar layaknya genderang semakin hilang. Suaraumu kian berbeda kurasakan. Ah, entah ini perasaanku ataukah hanya sekedar tebakanku saja aku tak tau. Aku hanya ingin kau tetap menjadi dirimu yang slalu merengkuhku dengan tawamu setiap malam. Aku hanya ingin kau memelukku dengan tawamu setiap  malam berlalu. Aku hanya ingin tawamu  yang slalu mendekapku meski hanya lewat jarak jauh. Ya, jangan ada yang berubah darimu. Sebab sebelumnya, sebelum mengenalmu di hari berikutnya aku telah berjanji takkan pernah pergi sebelum kau memintaku pergi.

Maka tetaplah seperti ini. Diam-diam mengantongkan seribu puisi rindu yang kau miliki.


Jakarta, 19 Des’14


Jumat, 12 Desember 2014

Rindu Masa itu



Rindu masa itu
Dimana aku menjadi sosok yang tak mengerti apa itu dunia penuh lika-liku
Rindu masa itu
Dimana aku menjadi sosok aku yang tak mengerti arti sepi
Hanya ada kamu, kita dan mereka
Rindu masa itu
Dimana aku masih lugu dalam hal apapun
Tak mengerti yang namanya rindu dan cemburu
Rindu masa itu
Bersama mereka yang bertutur lembut penuh penyejuk kalbu



Rindu masa itu
Saat aku menjadi sosok santri biru nan cupu namun tau tuk tak berbuat malu
Rindu masa itu
Bersama para ijtihat dalam lingkungan nyaman penuh perjuangan
Rindu masa itu
Kala masalah adalah teman bermain tuk mendewasakan pemikiran
Rindu masa itu
Bersama mereka serta senyum tulus tuk merubahku menjadi wanita yang berakhlak karimah
Rindu masa itu
Masa mencari perbekalan tuk merangkak melaju menempuh debu dan ranjau

Rindu masa itu



Jakarta, 12 Des'14

Rabu, 03 Desember 2014

Tersembunyi (Lagi)



"Kau mencintaiku?'
Hanya sebait kalimat namun sulit di ucap
Hanya tiktik... tiktik hujan yang rintik menjawab
Spasi dan nihil

"Kau mencintaiku?'
Dan lagi, hanya degup jantung yang kian berbunyi
Dagdig... dagdig... dagdigdug
Terus berbunyi seiring nada jam berbunyi



"Kau mencintaiku?"
Dinding kamar kosong saja yang mungkin mengerti tentang jawabnya
Tau apa makna tersirat di hati
Kusimpan bersama gemerisik angin

Dag
Dig
Dug
Akhirnya cintaku tersembunyi, lagi




Jakarta, 04 Des'14

JIKA SAJA




Jika saja Robb tidak menitipkan sekeping hati ini untuk menjadi lebih kuat dan sabar. Jika saja Robb tidak menitipkan hati ini untuk menjadi lebih tegar dan sadar. Aku pasti telah menjadi manusia paling bejat sekarang. Aku pasti telah menjadi manusia paling jahat sekarang. Manusia yang tidak memiliki moral serta rasa kasihan. Tapi Robb-ku benar-benar pengasih dan penyayang. Hingga di berikanNYA hati yang sejuk meski kadang terombang ambing oleh masalah sendiri. Di berikanNYA sebuah masalah yang rumit pada mulanya, lalu tibalah menjadi indah akhirnya.

Jika saja Robb tidak menitipkan hati ini penuh dengan rasa kasih dan sayang. Jika saja Robb tidak menitipkan hati ini penuh dengan rasa syukur yang mendalam. Aku pastilah menjadi manusia paling frustasi sekarang. Menjadi manusia yang gila karna memikirkan masalah yang menggelayuti fikiran. Tapi Robb-ku penuh dengan misteri, penuh dengan kejutan yang tidak kuketahui. Hingga satu kado indah dititipkanNYA untukku pada akhirnya. Sebuah penghayatan diri untuk lebih berhati-hati dalam berfikir.



Jika saja Robb tidak menitipkan sekeping hati ini untuk terus di uji. Jika saja Robb tidak menitipkan hati ini untuk terus tau diri. Aku sudah pasti menjadi manusia penuh racun sekarang. Manusia penuh bisa untuk membunuh diri sekarang. Tapi Robb-ku maha adil, keadilannya slalu tepat datang ketika aku benar-benar mulai jatuh diri. Mulai lemah dengan masalah yang slalu datang menghampiri. Robb-ku beri hiasan indah padaku untuk terus berpositif diri. Agar kutau sampai mana letak kesabaran diri. Maka Robb-ku beri aku sekeping hati untuk tau apa itu arti bersyukur diri.

Jika saja Robb tidak menitipkan sekeping hati ini untuk terus bersabar diri. Rasanya ujian ini membuatku semakin buta hati, buta mata, buta telinga jua buta segala yang ada. Tapi Robb-ku pengasih dan penyayang hingga aku di uji sampai tau apa itu kata indah nanti. Robb-ku penuh misteri dengan masalah yang tiap kali membebani.

Robb-ku maha adil seadil-adilnya pemberi.

Ya qolbi... fasbir ilaiya 




Jakarta, 02 Des’14

Sabtu, 29 November 2014

Karna Seonggok Sabar




Jika tidak dengan seonggok hati yang masih tersisa sabar
Jika tidak dengan seonggok hati yang tersisa rasa syukur
Aku pasti sudah mati sekarang
Aku pasti sudah tak bernyawa sekarang

Jika tidak dengan seonggok rasa kasih di hati
Tidak jua dengan seonggok rasa mengasihi
Maka aku sudah frustasi
Sudah buta mata hati

Tapi tidak...
Robb-ku pengasih
Robb-ku maha pemberi
Robb-ku penuh dengan teka-teki indah

Maka aku diberi kisah pahit yang tertulis di atas kertas putih
Setiap kali melangkah
Setiap kali berujar
Hingga sebuah uji kudapati untuk menahan perih
Sampai pada titik iman yang benar-benar telah rapih

Jakarta, 29 Nov’14


Hai, Jakarta...



Hai, Jakarta yang penuh luka...
Selamat pagi untukmu...
Kali ini, hati kembali lagi di uji oleh si Pemilik sabar. Sebuah ujian yang membawaku pada tahab titik kesabaran. Pada tingkat tinggi yang membawaku sebuah kesabaran. Ya, jika bukan karna sabar mungkin nyawa sudah melayang. Namun, lagi-lagi si Pemilik sabar menahanku tuk tetap sabar hingga kutahan dengan tidak menahan tangis. Cukup, katakan pada hati, pada seonggok hati yang tersisa kesabaran. Jika semua akan menjadi lebih baik lagi.

Hai, jakarta yang membawa luka...
Salam pagi kembali lagi kulayuti spesial untukmu...
            Semngat pagi untuk luka yang lagi-lagi masih menganga dalam dada. Tentu begitu setiap keadaan yang tak berpihak padamu. Ah, tidak sebenarnya. Jika semua kau jalani dengan dalam tenang maka hatimu akan baik-baik saja. Ya, tentu saja begitu. Namun, keadaan lagi-lagi memaksaku untuk menangis. Menumpahkan segala kepingan serta sisa sabar dari seonggok hati yang penuh rintangan. Menangis? Ah, aku tak menagis. Aku hanya ingin bulatan mataku basah serta kelopaknya terlihat semakin indah. Maka kutumpahkan semua air yang tersisa. Setidaknya akan membuatku sedikit lega.

Hai, Jakarta yang penuh perjuangan...
Selamat pagi untuk kamu yang terus memberi sisih perih...
            Aku hanya bertanya pada hati. Apa berbuat baik itu salah? Apa melakukan sesuatu yang benar itu slalu saja salah? Aku tak tau... namun yang pastinya melakukan sesuatu yang baik pastilah slalu ada yang menjadi pihak yang di salahkan. Salah yang belum tentu salah. Namun hal aneh akan slalu terlihat salah jika yang salah tidak pernah merasa salah. Dan aku benci hal yang demikian. Untuk tetaplah jaga seonggok hatimu agar tetap tersisih rasa sabar.

Hai, Jakarta yang penuh dengan kesulitan...
Selamat pagi untukmu sebagai proses pendewasaan...
`           Ya, jika saja tidak ada rasa sabar dalam dada. Mungkin, ya tentu saja benar-benar mungkin hati yang luka pasti membengkak semakin bengkak. Tapi, ya, lagi-lagi hati terus bersabar. Sebuah kesabaran yang akhirnya mengajarkanmu untuk bersikap lebih baik, lebih dewasa. Tentu, semuanya pada intinya adalah pendewasaan diri. Dewasa untuk menghadapi kepingan hati. Maka itu aku bertahan dengan tangis sebagai proses pendewasaan sendiri.


Jakarta, 28 Nov'14

                        

Kamis, 27 November 2014

Berbeda



            

“Karna kamu berbeda.”

            Sebuah jawaban yang simple namun cukup menggali semua rasa penasaranku. Ya, tentu saja aku penasaran tentang jawabannya. Mengapa dia menganggapku wanita spesial di antara masalalunya. Mengapa aku menjadi spesial di antara wanita yang  lainnya. Bukankah mereka juga sama denganku? Sama-sama memasuki dunia kecilnya yang indah. Bedanya, mungkin mereka hanya bayangan di masalalu sedang aku? Seperti katanya lima detik yang lalu, aku adalah wanita yang spesial di antara yang lainnya. Dan sebuah senyum tipis lagi-lagi berhasil membuatku terharu.

            “Apa yang membuatku spesial?” tanyaku lagi dengan menutup mata. Aku ingin merasakan hadirnya yang jauh di sana meski hanya lewat imajinasiku. Kudengar hembusan napas pelan dari via telpon. Aku yakin saat ini ia sedang mengingat sesuatu tentangku.

            “Karna kamu berbeda,” ulangnya lagi.

            Berbeda? Bukankah tadi dia juga mengatakan hal yang sama? Lalu dimana letak jawaban yang sesungguhnya.? Dan aku benar-benar tidak mampu mengusik rasa penasaranku tentang jawaban kedua kalinya. Aku memang wanita yang memiliki rasa ingin tahu yang besar namun kali ini sebuah jawaban yang mengharuskan untuk diam. Diam? Ya, aku memang diam namun lagi-lagi aku tak mampu menahan rasa penasaranku. Sebuah sikap yang semestinya kubuang sejauh mungkin.

            “Hayolah, apa yang membuatku spesial di matamu. Apa yang membuatku berbeda dari mereka?” tuh kan! Aku masih saja bertanya.

            “Aku bingung untuk menjawabnya,” ujarnya.

            Baiklah. Mungkin sebuah pertanyaan tidak harus memiliki sebuah jawaban yang sesuai dengan keinginan. Tapi, apa tidak satu jawabanpun bisa mengusik penasaranku?

            “Aku dan mereka sama tidak ada yang berbeda. Hanya saja dalam menyelesaikan masalah mungkin semua orang berbeda termasuk aku.” Entah dari mana kata-kata itu terucap. Yang kutau dalam benakku hanya kalimat itu yang berputar.

            “Nah, itu!”

            Itu? Mataku menyapu seisi ruangan. Ruangan yang slalu kujadikan tempat ku bercerita denganya setiap malam. Tempat yang telah menjadi saksi bahwa aura wajahku yang memerah merona setiap akhir pembicaraanku dengannya. Jika bisa kulukiskan pesona warna-warni dalam kemayu wajahku pastilah seribu lembaranpun tak mampu menghitungnya. Ah, tak mampu lagi rasanya mengungkapkan segala sesuatu. Yang berada dalam benakku yang kutau bahwa setiap kalimat yang terucap darinya adalah bingkisan tak bisa terwujud.

            Lalu...

            Lalu, aku kembali meringkuk pada pelita yang berwarna jingga.



Jakarta, 26 Okt'14

            

Amarah (Lagi)


            “Karna bagimu, sebuah kado lebih berharga di banding sebuah tar dan lilin.”

            Satu kalimat yang baru saja melewati dinding facebookku. Kalimat yang aku sendiri tak mamu mengejanya. Aku tau, kalimat itu hanya sebuah lampiasan dan amarah yang sengaja diluapkan olehnya untuk sekedar menenang hati yang sedah gundah. Ya, dia berusaha membuka kembali rasa perihnya yang sebenarnya sudah lama di pendamnya sendiri. Dan akhirnya rasa itu mencuat melabuhkan rasa kesal. Bukankah sehari sebelum hari ini semuanya baik-baik saja? Bahkan sebuah kalimat yang indah melintas di akun Path ku, begini katanya pada sang kekasih.

            “Selamat ulang tahun sayang, semoga Allah slalu memberi kebahagiaan dan melimpahkan barokah untukmu.”

            Lalu ada apa dengannya lagi? Ingin sekali ku tanyakan mengapa? Namun sebuah fikiran yang tiba-tiba melitas di benakku memasaku untuk tetap diam. Ah, aku lagi-lagi tak bisa diam. dan sebuah pesan ku irim melalui BBM.

            “Lu kenapa lagi si, Ndro?” tanyaku penasaran. Ndro—nama unik yang sengaja kuberikan untuknya.

            “Gue masih kesal.”

            Aku tau dia masih marah dengan perlakuan pacarnya semalam. Lagi-lagi karna salah paham atau mungkin jiwanya yang masih labil terlalu di utamakan hingga dia berhadapan dengan masalah.

            “Bentar lagi kak Rohib pulang loh ke Riau?” Sengaja kububuhkan kata’pulang’ di akhir kalimatku. Berharap dia kembali tenang.

            “Biarin aja, Ly. Gak apa-apa.”

            Tuh kan! Indro- nama lengkapnya Indriasari dewi yang sering di panggil Indri oleh teman-temanku yang lainnya malah biasa saja. Tidak seperti biasanya, kata ‘pulang’akan membuatnya galau berat.

            “Entar nyesal loh!” Ah, kenapa aku malah ikut mengompori?

            “Ah, biarin! Itu urusan belakang,” tambahnya sewot.

            “Gue suka gaya lu In, lu kembali kaya dulu.”           

            “Kaya dulu? Emang dulu gue kaya gimana?”

            Aku berhasil membuka satu sikaf yang membuatnya berubah setelah mengenal pacarnya. Satu sikaf cuek dan acuh yang dulu tidak pernah di milikinya. Dan kini, Indri kembali. Kembali menjadi dirinya sendiri dan mengatakan masa bodoh dengan masalah yang terjadi dengannya. Tapi, ah, aku tau dia. Aku tau bagaimana perasaannya sekarang. Aku tau bagaimana dan apa yang terjadi dengannya. Bagaimana perasaannya, kecewanya dan rasa kesalnya.

            Indri, aku yakin sebenarnya dia masih bimbang dengan dirinya sendiri. Namun aku berharap keputusannya tepat untuk kali ini.

            



Jakarta, 28 Okt'14 

About my friend (True Story)

Selasa, 18 November 2014

Aaarrrggghhhh


            
Penat ini sungguh menyiksa bathinku. Merenggut semua kebahagiaan yang tersisa di sela tawaku. Membunuh semua sisa senyum yang slalu kusisihkan dalam diamku. Ya, semua terasa hambar dan begitu hampa memenuhi rongga jiwaku. Tuhan, mengapa rasanya detak jantung ini semakin lama semakin menepis saja. Apa mungkin aku terlalu memikirkan sesuatu yang membuatku sesak? Sesak yang kini memenuhi otakku. Mengalir dalam setiap sel –sel syarafku. Mati mungkin bisa membuat semuanya lebih baik. Apakah benar dengan mati? Jika iya, apa aku haus mati?
            “Kau lelah Lya?” Entah dari mana asal suara yang tiba-tiba menghentakkan lamunanku.
Ya, aku melamun lagi sore ini. Kebiasaan terindah yang mungkin bisa membantu sisa ingatanku untuk menjadi lebih tegar dan kuat. Kuperhatikan sekeliling ruangan. Tidak ada seorangpun disini kecuali aku sendiri. Lalu, siapa yang mengejutkanku? Kuperhatikan lagi sekelilingku. Namun hasilnya tetap sama. Nihil. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja, mungkin juga karna terbawa suasana. Lebih baik tidak usah kuhiraukan panggilan tadi.

*
Dan tiga bulan kemudian...
Seperti sebuah bayangan nyata meraih kesadaranku. Dia menarikku masuk ke dalam dunia nyata miliknya. Katanya, kau bisa berbagi keluh kesahmu bersamaku. Tentang apa saja kau bisa ceritakan padaku, begitu katanya. Tapi, apakah semudah itu mengatakan semuanya padamu? Apakah semudah itu mengutarakan semua beban di hatiku ini padamu? Apakah semuanya akan lebih baik lagi jika kukatakan padamu? Aku ragu. Ah, sebenarnya tidak ragu padamu hanya saja aku lebih suka memendam semua di hatiku. Semuanya akan terasa baik-baik saja jika hanya aku saja yang tau. Aku akan baik bila terus begini.
“Katakanlah Lya,” ujarmu malam itu.
Aku menangis untuk ketiga kalinya. Kenapa harus menangis lagi? Kenapa airmata ini mudah sekali jatuh? Aku benci menangis. Aku benci airmata. Namun yang paling kubenci aku tidak bisa menahan bendungan airmataku sendiri. Air mata yang bisa mewakili semua penat yang tersisa. Semua perih yang menikam jiwa. Semua luka yang menyayat sukma. Rasanya sesak sekali setiap fikiran buntu ini menggelayut di fikiranku. Sesak yang membuatku sulit bernafas.
“Aku baik-baik saja. Percayalah!” kuselipkan tawa di ujung ucapanku.
“Kau yakin?” ujarmu tidak percaya. Tentu saja kau tidak akan percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan. Tidak mungkin dalam sedetik saja keadaan menjadi lebih baik. Tapi percayalah, mendengar suaramu sudah menjadikan keadaan lebih tenang.
“Ya, aku baik-baik saja,” jawabku menghapus sisa airmataku tadi. Tak kubiarkan air mataku jatuh lagi.

*
   Seperti puluhan ribu putaran berkeliling di kepalaku. Pusing dan mual kini bercampur aduk di tubuhku. Sakit sekali rasanya jika harus begini lagi. Setiap ada masalah tubuhku slalu jadi tempat pelampiasan. Aku lelah, pusing dan ingin pinsan. Aku tak kuat lagi. Benar-benar menyiksa sekali.
Sekali, dua kali dan tiga kali aku bergumam sendiri. Aku harus bisa, aku harus kuat. Namun tetap saja aku tak kuat. Aku berlari ke dalam kamar mandi kemudian memuntahkan semua yang membuat perutku mengerang. Cairan kuning mengalir dari mulutku. Aku muntah lagi dan lagi. Jelang kemudian aku tenang. Perutku yang tadi terasa ngilu lambat laun menjadi biasa saja.
Kuhempaskan tubuhku di atas kursi. Pandanganku nanar pada komputer yang berada tepat dihadapanku. Cahayanya membuat mataku menyipit. Ah, aku tidak fokus kerja. Aku ingin pulang dan istirahat sejenak. Membuang unek-unek yang menggelayut di kepalaku.
“ Mas, aku pulang duluan ya mas,” ujarku dengan menekan-nekan kepalaku yang semakin pusing.

*
“Sebaiknya kamu periksa saja, Lya.”
Sosok dihadapanku mengulurkan secangkir teh hangat. “Periksa? Ngapain? Wong aku baik-baik aja kok,” jawabku. Kuseruput teh hangat ditanganku.
“Apa kamu gak takut jika sesuatu terjadi di kepalamu?”
Kupandangi sosok itu tajam. Dia benar-benar membuatku takut. “Aku baik kok,” ketusku.
“Kalau kamu baik terus ngapain mengeluh mulu kalau kamu sakit. Kepala sakit, rambut rontok, perut mual. Apa itu bukan penyakit?” Dia menatapku. Matanya tajam sekali.
“Kamu jangan menakutiku. Aku gak suka,” aku semakin kesal dibuatnya.
“Aku tidak bermaksud menakutimu, Lya. Tapi dengarlah, jika kamu memang sahabatku sebaiknya kamu ikuti saja saranku.”
“Itu bukan saran, Ema. Melainkan jebakan yang membuatku semakin takut.” Kutinggalkan dia sendiri dengan teh yang tadi diulurkannya padaku. Aku sudah malas mendengar ucapannya untuk kesekian kalinya.

*
Dan kepalaku berdenyut lagi...
Aku benci dengan hal ini. Aku benci jika ini harus terjadi lagi. Apa aku harus mengikuti saran Ema saja? Memeriksa kepalaku yang tiap kali berdenyut. Tapi, ah, untuk apa? Toh para dokter hanya bisa mendiagnosa saja. Yang katanya inilah-itulah. Membuatku semakin tegang saja jika mendengarnya. Lebih baik kubiarkan saja jika terus begini. Nanti saja, jika mungkin aku sudah memiliki keberanian maka akan kulaksanakan saran dari Ema. Ya, walaupun aku takut.

Sepertinya aku harus tetap mempertahankan keegoanku dengan memendam segala apapun yang terjadi di diriku. Mungkin itu yang lebih baik.

Ah... aku tidak ingin terlalu pusing dengan semuanya.

Jakarta, 14 Nov'14